7 Tujuan Ziarah Wali di Pulau Bali (Ziarah Wali Pitu)


Pulau Bali memang lebih dikenal sebagai destinasi tujuan wisata alam dengan kekayaan seni, budaya, serta tradisi masyarakat Hindunya yang menjadi ciri khasnya. Namun tahukah anda bahwa kini Bali juga menawarkan sejumlah paket wisata religi bagi kaum muslim dalam bentuk tour ziarah makam para Wali yang berada di pulau Bali. Jika di Jawa dikenal wisata ziarah Walisongo, maka di Bali ada yang disebut ziarah makam Wali Pitu (Wali tujuh). Kini, rangkaian destinasi wisata ziarah wali pitu ini semakin populer menjadi destinasi wisata religi bagi para peziarah dan traveler yang datang dari berbagai daerah. 

Ziarah Wali Pitu Bali
via santrionline.net

Dilansir dari berbagai sumber, berikut daftar 7 tujuan ziarah Wali (Pitu) di Pulau Bali beserta profil singkatnya:

1. Makam Wali Negara & Datuk Lebai-Melayu, Habib Ali bin Umar Bafaqih


Makam Habib Ali bin Umar Bafaqih berlokasi di jalan Nangka No. 145 Desa Loloan Barat Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana, Bali. Makam beliau berada di Area Pondok Pesantren "Syamsul Huda" yang didirikannya pada tahun 1935. Beliau lahir di Banyuwangi  pada tahun 1890. Saat mudanya, beliau pernah memperdalam ilmu hingga ke tanah Mekkah kurang lebih tujuh tahun lamanya. 

Sepulangnya dari Makkah, beliau juga pernah mondok di salah satu pesantren di Jombang, sampai akhirnya beliau datang berdakwah di pulau Bali atas permintaan Datuk Kyai Haji Mochammad Said, seorang ulama besar di Loloan. Pondok Pesantren Syamsul Huda yang didirikannya pun telah melahirkan ribuan Ulama dari berbagai pelosok desa di tanah air. KH. Habib Ali bin Umar Bafaqih wafat pada tahun 1997 pada usia 107 tahun. Kini Makam beliau banyak di kunjungi atau diziarahi orang dari berbagai pelosok negeri. 

2. Makam Wali Karangrupit, The Kwan Lie, Syekh Abdul Qodir Muhammad


Makam Syekh Abdul Qadir Muhammad terletak di Desa Temukus (di samping Pura Agung Labuan Aji), Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Syekh Abdul Qadir Muhammad konon kabarnya beliau adalah pengawal Sunan Gunung Jati. Syekh Abdul Qadir Muhammad yang berdarah tiongkok ini merupakan generasi keenam dari Wali Pitu Bali. Sebelum berdakwah di Bali, beliau pernah datang ke Palembang, sebelum akhirnya bertolak ke Cirebon menemui Sunan Gunung Jati untuk memperdalam ilmu agama Islam. 

Tidak jelas informasi mengenai kapan kedatangan beliau di pulau Bali. Beliau datang ke pesisir Bali untuk mensyiarkan agama Islam mulai dari Karangasem, Buleleng, hingga Jembrana. Jika anda berziarah ke makam beliau, di samping kirinya terdapat beberapa makam yang disebut-sebut sebagai makam dari murid-murid beliau. Kini makam beliau ramai dikunjungi oleh para peziarah dari dalam dan luar Bali.

3. Makam Wali Bukit Bedugul, Syekh Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Maghribi


Makam Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Maghribi berlokasi di puncak bukit tapak, di tengah area hutan cagar alam kebun Raya Bedugul milik Perhutani Bali di atas bukit Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali. Para peziarah harus melewati jalan setapak jika ingin menuju ke lokasi makam Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Maghribi. Beliau merupakan salah satu Wali di Bali yang berjasa dalam mensyiarkan Islam di kawasan pegunungan Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan dan sekitarnya. 

Sebelum wafat pada sekitar abad XV, Habib Umar bin Yusuf Al-Magribi sempat mendirikan Kerajaan Beratan. Beliau menjadi Raja Beratan dengan gelar Syekh Maulana Raden Hasan. Sebelum wafatnya, beliau bersemedi di puncak Bukit Tapak bersama tiga murid yang dengan setia mengikutinya. Makam Habib Umar bin Yusuf Al-Magribi di puncak bukit Tapak biasanya ramai dikunjungi peziarah pada hari Sabtu dan Minggu, serta saat Hari Raya Idul Fitri.

4. Makam Wali Kembar Karangasem, Syekh Maulana Yusuf Al-Baghdi dan Habib Ali Bin Zaenal Abidin Al-Idrus


Makam Keramat Kembar Karangasem ini berlokasi di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Di dalam satu cungkup makam kembar ini terdapat makam Habib Ali bin Zainal Abidin al-Idrus berjajar dengan makam tua/kuno yang identitasnya masih simpang siur. Menurut masyarakat, makam kuno ini telah dikeramatkan sejak dari zaman dahulu. Sebagian kalangan mengatakan bahwa makam yang diperkirakan berusia 350—400 tahun ini adalah makam dari Syekh Maulana Yusuf al-Baghdi al-Maghribi. 

Adapun Habib Ali Zainal Abidin al-Idrus yang wafat pada 9 Ramadhan 1493 H/19 Juni 1982 adalah seorang Ulama besar yang dikenal arif dan bijaksana. Semasa hidupnya, banyak santri yang mengaji kepadanya. Para santri tidak hanya berasal dari beberapa daerah di Bali, tetapi juga dari Lombok dan sekitarnya. Makam kembar Karangasem biasanya ramai dikunjungi peziarah menjelang bulan puasa, atau hari-hari libur. Peziarah mayoritas berasal dari Jawa dan Kalimantan. Sedangkan peziarah dari luar negeri yang datang rutin tiap tahun berasal dari Malaysia, Singapura, dan Maroko.

5. Makam Wali Kusamba, Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid


Makam ini terletak di tepi pantai Desa Kusamba, Kecamatan Dawah, Kabupaten Klungkung, Bali. Sewaktu hidupnya, Habib Ali bin Abu Bakar al-Hamid pernah menjadi penasehat dan guru bahasa Melayu bagi Raja Klungkung saat itu, Dalem I Dewa Agung Jambe. Pada waktu itu, beliau diberi seekor kuda untuk kendaraan pulang pergi antara Kusamba dan Klungkung. Selama menjalankan tugasnya, Habib Ali juga memanfaatkan waktunya untuk berdakwah kepada keluarga istana dan orang-orang yang berhubungan dengannya. 

Pada suatu hari, sewaktu Habib Ali pulang dari Klungkung dan sesampainya di pantai Kusamba, beliau diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal dengan senjata tajam dan tewas di tempat. Jenazah beliau akhirnya langsung dikuburkan pada hari itu oleh masyarakat desa di ujung barat kuburan Islam Kusamba. Keberadaan makam Habib Ali sangat dikeramatkan oleh penduduk setempat, baik umat Islam maupun Hindu. Hal ini terbukti dari para peziarah yang tidak hanya berasal dari kalangan Muslim, melainkan juga dari mereka yang beragama Hindu. Objek wisata pantai Kusamba, Klungkung, yang berada tidak jauh dari kompleks makam Habib Ali juga menambah daya tarik wisata religi Makam Keramat Kusamba. 

6. Makam Wali Seseh Mengwi, Pangeran Mas Sepuh, Syeh Achmad Chamdun Choirussoleh


Makam ini berlokasi di Banjar Seseh, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung. Syekh Achmad Chamdun Choirussholeh atau Raden Amangkuningrat atau Pangeran Mas Sepuh adalah sosok sakti mandraguna putra dari Raja Mengwi I dengan ibundanya adalah putri dari Kerajaan Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Pangeran Mas Sepuh datang ke Bali semata-mata ingin menemui ayahnya di Mengwi. Sebab, Pangeran Mas Sepuh tidak pernah bertemu sang ayah sejak lahir ke dunia. Banyak cerita menyebutkan bahwa Raja Mengwi I meninggalkan Blambangan dan kembali ke istananya di Mengwi, saat Pangeran Mas Sepuh masih dalam kandungan.

Setibanya Pengeran Mas Sepuh di Kerajaan Mengwi, ternyata sang ayah telah wafat. Terjadilah perselisihan dengan keluarga Kerajaan Mengwi, hingga akhirnya Pangeran Mas Sepuh meninggalkan istana. Saat dalam perjalanan setelah keluar dari Kerajaan Mengwi, segerombolan orang menyerang Pangeran Mas Sepuh. Pertempuran hebat pun terjadi, namun tak satu pun senjata dari gerombolan orang itu yang mampu melukai Pangeran Mas Sepuh. Sejak ditemukan tahun 1992, Makam Pangeran Mas Sepuh tidak pernah sepi dari para peziarah. Para peziarah tidak saja berasal dari Bali, tapi juga dari luar Pulau Dewata.

7. Makam Pangeran Sosrodiningrat, dan Makam Ratu Ayu Anak Agung Rai, Dewi Khodijah, Pemecutan


Makam Pangeran Sosrodiningrat berlokasi di kampung Ubud dekat terminal bus kota Denpasar. Sedangkan makam Ratu Ayu Anak Agung Rai, Dewi Khodijah berada di jalan Batu Karu kota Denpasar Barat, searah dengan jalan menuju perumnas Monang-maning Denpasar. Pangeran Sosrodiningrat adalah seorang senopati dari Mataram yang terdampar di pulau bali saat sedang berlayar menuju Ampenan (pulau Lombok). Di pulau Bali, Pangeran Sosrodiningrat kemudian dimintai kesediaannya oleh Raja I Gusti Gede Pamecutan untuk memimpin prajurit yang sedang berperang melawan Kerajaan Mengwi. Raja Pamecutan juga berjanji kepadanya apabila perang telah usai dan meraih kemenangan, maka ia akan dinikahkan dengan putrinya. 

Karena jasanya membantu Raja Pamecutan meraih kemenangan, Pangeran Sosrodiningrat akhirnya dinikahkan dengan putrinya, Ratu Ayu Anak Agung Rai. Setelah dipersunting oleh Pangeran Sosrodiningrat, Raden Ayu kemudian memeluk agama Islam dan namanya diganti menjadi Raden Ayu Siti Khotijah. Setelah menikah, Raden Ayu juga bersungguh-sungguh dalam menekuni, mempelajari dan melaksanakan ajaran Islam secara baik. Kini makam keduanya ramai menjadi tujuan tempat berziarah bagi para peziarah yang datang baik dari Bali maupun dari luar pulau Bali.

Demikianlah sekilas mengenai 7 tujuan ziarah Wali (pitu) di Pulau Bali beserta profil singkatnya. Semoga bermanfaat.

Labels: Jelajah

Thanks for reading 7 Tujuan Ziarah Wali di Pulau Bali (Ziarah Wali Pitu). Please share...!

0 Komentar untuk "7 Tujuan Ziarah Wali di Pulau Bali (Ziarah Wali Pitu)"

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan. Maaf, Komentar berisi Link Aktif, Promosi Produk Tertentu, J*di, P*rn*, Komentar berbau SARA dan Permusuhan, tidak akan dipublish.