Rahasia Dibalik Waktu-Waktu Shalat dan Pengaturan Irama Tubuh


Penelitian ilmiah modern telah menunjukan bahwa waktu-waktu shalat yang diwajibkan bagi kaum Muslim sangat selaras dengan waktu aktivitas fisiologis tubuh yang seakan-akan menjadikannya sebagai pemimpin yang mengontrol irama kerja tubuh secara keseluruhan. Berikut ini merupakan kutipan dari hasil penelitian yang dipaparkan oleh Dr. Zuhair Rabih al Qirami dalam bukunya "Al Istisyfa' bi ash Shalah"

Rahasia waktu shalat

Bagi setiap muslim, diwajibkan atasnya untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu sepanjang siang dan malam. Al Qur'an telah mengisyaratkannya secara global untuk kemudian diperinci secara detail oleh As Sunnah. Mengenai ketentuan waktu-waktu shalat, dalam beberapa hadits shahih disebutkan bahwa:

1. Waktu shalat dzuhur adalah ketika matahari telah tergelincir dan bayangan seseorang sama panjang dengan tubuhnya hingga datang waktu ashar.

2. Waktu shalat ashar adalah selama matahari belum menguning.

3. Waktu shalat maghrib adalah selama sinar merah matahari setelah terbenam (syafaq) belum hilang.

4. Waktu shalat isya' adalah hingga separo pertengahan malam.

5. Waktu shalat shubuh adalah dari terbit fajar hingga matahari terbit.

Dari keterangan di atas menjelaskan bahwa waktu-waktu shalat erat kaitannya dengan fenomena alam, yaitu penampakan dan keterbenaman matahari, atau siklus gelap dan terang di bumi. Dari sisi ini, shalat juga terkait dengan siklus-siklus biologis di dalam tubuh dan waktu-waktu puncak kulminasi setiap fungsi atau komponen tubuh. Sebab, siklus-siklus ini juga terkait dengan pergantian siang dan malam. Berikut ini merupakan kaitan antara waktu-waktu shalat dengan waktu-waktu biologis yang penting dalam perubahan harian fisiologis tubuh. 

Pertama, pagi-pagi buta seorang muslim bangun dari tidurnya dan kemudian menjalankan shalat shubuh. Di sini ia mengalami tiga perubahan transisional yang penting:

a. Bersiap menyambut terang (siang) tepat pada waktunya, sehingga menurunkan aktivitas kelenjar pineal, mengurangi produksi melatonin, dan mengaktifkan sistem-sistem lain yang terkait dengan terang. 

b. Berakhirnya dominasi sistem syaraf parasimpatik yang tenang di malam hari, dan mulai bertolaknya gerbong aktivitas sistem syaraf simpatik di siang hari. 

c. Bersiap menggunakan energi yang dipasok secara melimpah oleh ketinggian kadar cortisol di pagi hari. Kenaikan hormon ini terjadi dengan sendirinya, dan tidak disebabkan oleh faktor gerakan atau pun turun dari ranjang setelah berbaring. Kenaikan yang sama dialami oleh hormon serotine di darah, juga adrophine. 

Kedua, tengah hari seorang muslim mengerjakan shalat dzuhur. Di sini ia mengalami tiga reaksi penting:

a. Menenangkan diri dengan shalat paska kenaikan kulminatif pertama hormon adrenalin pada waktu pagi. 

b. Menenangkan diri dari gejolak seks, sebab hormon testosteron mencapai puncak kulminasinya pada waktu dzuhur. 

c. Jam biologis mendesak tubuh untuk menambah pasokan energi jika ia yang menjalankan shalat dzuhur tidak sarapan pagi. Dengan demikian, shalat bisa menjadi faktor penenang stres yang terjadi karena lapar. 

Ketiga, memasuki waktu ashar, seorang muslim diwanti-wanti untuk menunaikan shalat ashar, sebab ia terkait puncak kulminasi kedua adrenalin yang dibarengi dengan aktivitas krusial sejumlah fungsi fisiologis, khususnya fungsi jantung. Sebagian besar kasus komplikasi pada penderita jantung terjadi langsung setelah fase ini. Sehingga mengindikasikan adanya kekritisan yang dialami organ vital pada fase ini. 

Selain itu, sebagian besar komplikasi yang dialami wanita yang baru melahirkan juga terjadi pada fase ini. Fakta membuktikan, kematian bayi yang baru dilahirkan mencapai angka tertinggi pada jam 2 siang. Sejumlah besar komplikasi yang dialami oleh para balita pun terjadi antara jam 2 - 4 sore. Dan ini merupakan bukti lain peliknya fase waktu setelah dzuhur bagi tubuh secara umum, lebih-lebih bagi hati. (sebagian besar problem bayi yang baru lahir berupa problem-problem jantung dan pernapasan).

Pada fase ini, tubuh orang-orang dewasa yang sudah mapan sekalipun tetap mengalami kesulitan yang signifikan. Karena pada fase ini kadar zat peptide khusus mengalami peningkatan dan lebih lanjut menyebabkan konsentrasi lemah dan kantuk, sehingga memancing kerawanan dan kecelakaan yang mengerikan. Di sini shalat ashar bekerja mengaitkan orang dengan pekerjaannya (memusatkan konsentrasinya pada satu pekerjaan) dan mencegahnya untuk menyibukkan diri dengan hal lain sebagai upaya pencegahan dari komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan.

Keempat, berkebalikan dengan shalat shubuh, shalat maghrib adalah masa transisi dari terang ke gelap. Di sini produksi hormon melatonin meningkat akibat datangnya kegelapan (malam), sehingga merangsang rasa kantuk dan malas. Sementara hormon serotonin, cortisol, dan androsin menurun. 

Kelima, shalat isya' adalah masa peralihan dari aktif ke pasif (rehat). Ia menjadi halte permanen bagi proses peralihan tubuh dari dominasi sistem syaraf simpatik ke dominasi sistem syaraf parasimpatik. Barang kali inilah rahasia di balik pensunnahan mengakhirkan pelaksanaan shalat isya' hingga beberapa waktu sebelum mapan tidur untuk menutup segala kesibukan dan setelah itu langsung tidur. Pada waktu ini, suhu panas tubuh menurun, kecepatan detak jantung juga menurun, sementara hormon-hormon darah meningkat.

Perlu kiranya diamati bahwa kesesuaian kelima waktu shalat wajib dengan perubahan-perubahan biologis yang penting di dalam tubuh menjadikan shalat lima kali sebagai conditional reflex yang berpengaruh seiring dengan perjalanan zaman. Bisa-bisa saja kita berprediksi dan berasumsi bahwa setiap shalat telah menjadi isyarat dimulainya proses atau kerja tertentu.

Konsistensi menjalani rutinitas harian dalam hidup yang memiliki sejumlah halte persinggahan yang permanen, sebagaimana halnya berlaku dalam shalat dengan tambahan efek suara berupa adzan, membuat tubuh berjalan sesuai dengan pola yang sangat akseleratif dan berpadu dengan lingkungan eksternal. Dari perpaduan ini, kita bisa memperoleh keharmonisan yang sempurna antara waktu-waktu biologis di dalam tubuh dengan waktu-waktu eksternal efek lingkungan seperti siklus gelap dan siklus terang, dan waktu-waktu syar'i penunaian shalat wajib pada waktunya. 

Labels: Info & Sains, Kesehatan

Thanks for reading Rahasia Dibalik Waktu-Waktu Shalat dan Pengaturan Irama Tubuh. Please share...!

0 Komentar untuk "Rahasia Dibalik Waktu-Waktu Shalat dan Pengaturan Irama Tubuh"

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan. Maaf, Komentar berisi Link Aktif, Promosi Produk Tertentu, J*di, P*rn*, Komentar berbau SARA dan Permusuhan, tidak akan dipublish.