Kisah Sahabat Ukasyah RA 'Menagih Hutang' Kepada Nabi SAW

Kisah Sahabat Ukasyah RA 'Menagih Hutang' Kepada Nabi SAW

Rasulullah SAW adalah sosok panutan yang begitu dicintai oleh para sahabatnya sehingga betapa sedihnya mereka ketika mengetahui bahwa ajal beliau sudah kian dekat. Sebelum wafat, Rasulullah SAW memang telah jatuh sakit agak lama sehingga keadaan beliau menjadi sangat lemah. Hingga pada suatu ketika, Rasulullah SAW meminta tolong kepada Bilal untuk memanggil semua Sahabat agar datang berkumpul di Masjid.

Kisah Sahabat Ukasyah RA 'Menagih Hutang' Kepada Nabi SAW
via pixabay


Tidak lama kemudian, masjid pun telah dipenuhi oleh para Sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama mereka tidak mendapatkan tausiyah dari beliau. Rasulullah SAW kemudian duduk di atas mimbar. Dengan tubuh lemah dan wajah terlihat pucat, tampak beliau menahan sakit yang tengah dideritanya. Beliau kemudian bertanya kepada para sahabatnya: 

"Wahai sahabat-sahabatku semua.. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan kepada kalian semua bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah?"

Para Sahabat pun menjawab: "Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami semua bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang layak untuk disembah."

Rasulullah SAW kemudian melanjutkan: "Persaksikanlah ya Allah, Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."

Rasulullah SAW pun bersabda lagi dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat. Hingga akhirnya sampailah pada satu pertanyaan yang menjadikan para Sahabat sedih dan terharu. Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah SWT, dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian?. Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut karena aku tidak mau bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Ketika itu semua Sahabat terdiam. Dalam hati mereka masing-masing berkata, "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah".

Rasulullah SAW kemudian mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba-tiba bangkitlah seorang lelaki yang bernama Ukasyah. Ia adalah salah seorang sahabat yang dikenal sebagai mantan preman sebelum masuk Islam. Ukasyah berkata:

"Ya Rasulullah... Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".

Rasulullah SAW lalu berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

Maka Ukasyah pun mulai bercerita: "Aku masih ingat ketika perang Uhud dahulu, suatu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda. Namun cemeti tersebut tidak kena pada belakang kuda melainkan justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

Mendengar itu, Rasulullah SAW kemudian berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu, aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah".

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian. Sementara ketika itu sebagian sahabat berteriak marah kepada Ukasyah, "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit?" 

Ukasyah pun tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW kemudian meminta tolong Bilal untuk mengambil cambuk di rumah Fathimah, putrinya. 

Saat Bilal meminta cambuk itu dari Fathimah, Fathimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"

Bilal pun menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah."

Terperanjat dan menangislah Fathimah, seraya berkata: "Kenapa Ukasyah hendak memukul Ayahku Rasulullah?. Ayahku sedang sakit, kalau ia mau memukul, pukullah saja aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan di antara mereka berdua".

Bilal kemudian membawa cambuk tersebut ke Masjid dan lantas diberikannya kepada Ukasyah.

Setelah mengambil cambuk itu, Ukasyah berjalan menuju ke hadapan Rasulullah. Tiba-tiba Abu Bakar RA berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah... kalau kamu hendak memukul, pukul saja aku. Aku adalah orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".

Rasulullah SAW bersabda: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah melanjutkan langkahnya menuju ke hadapan Rasulullah SAW. Tiba-tiba Umar bin Khattab RA berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah.. kalau engkau hendak memukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya. Namun itu dulu. Sekarang, tidak boleh ada seorang pun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad SAW. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku.."

Kemudian dijawab oleh Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Umar. Ini adalah urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah lanjut berjalan menuju ke hadapan Rasulullah, dan tiba-tiba berdirilah Ali bin Abi Thalib RA, sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW. Ali menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husein. Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon:

"Wahai Paman, pukullah kami Paman, Kakek kami sedang sakit, Pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah SAW. Dengan memukul kami, sesungguhnya itu sama dengan memukul kakek kami wahai Paman."

Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai cucu-cucu kesayanganku, duduklah kalian. Ini adalah urusan kakek dengan paman Ukasyah".

Maka sampailah Ukasyah di hadapan Rasulullah SAW. Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:

"Bagaimana aku hendak memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini". 

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat untuk memapahnya ke bawah. Rasulullah SAW kemudian didudukkan pada sebuah kursi.

Dengan suara tegas, Ukasyah pun berkata lagi: "Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju Ya Rasulullah."

Mendengar perkataan Ukasyah, Para sahabat pun menjadi sangat geram. Namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa berlama-lama dalam keadaan lemah, Rasulullah SAW pun membuka bajunya. Terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, dengan beberapa batu terikat di perut Rasulullah, pertanda Rasulullah sedang menahan lapar. Rasulullah SAW lalu berkata:

"Wahai Ukasyah, Segeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah SWT akan murka kepadamu."

Tiba-tiba Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW. Cambuk di tangannya ia buang jauh-jauh. Kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya sambil menangis sejadi-jadinya. 

Ukasyah kemudian berkata: 

"Ya Rasulullah, Ampuni aku, Maafkan aku. Mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu, karena Engkau pernah mengatakan bahwa "Barang siapa yang kulitnya pernah bersentuhan denganku, maka diharamkan api neraka atasnya."

"Seumur hidupku aku bercita-cita agar dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah..."

Rasulullah SAW pun tersenyum dan berkata:

"Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat Ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah!" 

Melihat hal itu, para sahabat pun menitikkan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW. Itulah bukti kecintaan para sahabat kepada Kekasih Allah SWT. Allaahumma Shalli 'Alaa Sayyidinaa Muhammad.

Selengkapnya
Kisah Ummu Haram dan Kebenaran Mimpi Rasulullah SAW

Kisah Ummu Haram dan Kebenaran Mimpi Rasulullah SAW

Selain figur panutan bagi umatnya, Rasulullah SAW juga dikenal sebagai sosok yang perhatian dengan para sahabatnya. Hal itu pula yang membuat beliau dekat dengan siapa saja, termasuk beberapa sahabat dari kalangan wanita. Pada waktu senggangnya, Rasulullah sering mengunjungi rumah mereka untuk sekedar menanyakan kabar atau keperluan lainnya. Salah satu di antaranya yaitu Ummu Haram. 

Kisah Ummu Haram dan Mimpi Rasulullah SAW
ilustrasi via islampos.com

Ummu Haram binti Milhan adalah seorang sahabat Nabi dari kalangan wanita Anshar. Suaminya adalah Ubadah bin Shamit RA, salah seorang sahabat Nabi yang terkemuka dari kalangan Bani Khazraj. Ummu Haram juga merupakan saudara kandung Ummu Sulaim dan rumah mereka sering dikunjungi oleh Nabi. Karena kedekatannya dengan Nabi, Ummu Haram pun dikenal juga sebagai perawi hadits. Ia sering meriwayatkan hadits dari keponakannya, yakni Anas bin Malik.
Pada suatu hari, Rasulullah SAW pergi mengunjungi rumah keluarga Ummu Haram Binti Milhan. Demi menyambut Rasul, Ummu Haram pun menyiapkan suguhan makanan untuk beliau. Tidak lama kemudian, ia mulai mencari kutu (metani) di rambut beliau. Lalu Rasulullah SAW tertidur sebentar, dan setelah terjaga beliau pun tersenyum. Ummu Haram bertanya, "Ya Rasulullah!, Apa yang membuat Anda tersenyum?". 

Rasulullah SAW menjawab, "Sebagian dari pengikutku diperlihatkan kepadaku di dalam mimpiku sebagai pejuang di jalan Allah (fi sabilillah), berlayar menyeberangi lautan seperti para raja di atas singgasananya atau para raja duduk di atas singgasananya (periwayat lupa mana yang lebih tepat)".

"Ummu Haram berkata, “Ya Rasulullah!, Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk salah seorang dari mereka". 

Rasulullah SAW lalu berdoa kepada Allah untuknya dan kemudian beliau tertidur lagi. Setelah terbangun Rasulullah tersenyum lagi. Ummu Haram kembali bertanya, "Ya Rasulullah!, Apa yang membuat Anda tersenyum?". 

Beliau menjawab, "Sebagian dari umatku diperlihatkan kepadaku sebagai para pejuang di jalan Allah". 

Ummu Haram kembali memohon kepada Rasul, "Ya Rasulullah!, Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk salah seorang di antara mereka". 

Rasulullah SAW kemudian menjawab, "Engkau termasuk di antara kelompok pertama." 

Benar saja, sabda Rasul terkait Ummu Haram ini pun menjadi kenyataan ketika kekhalifahan Islam hendak memperluas pengaruhnya ke wilayah Siprus. Saat itu, Ummu Haram dan suaminya ikut berlayar melintasi lautan bersama pasukan kaum Muslimin. Namun malang, Ummu Haram terjatuh dari kudanya begitu ia tiba di pulau itu dan meninggal dunia. Ia pun kemudian dimakamkan di tempat ia jatuh dan meninggal. Makamnya kini berada di Larnaca, Siprus. 

Untuk menghormati makam Ummu Haram, kekhalifahan Turki Utsmani kemudian membangun sebuah masjid di sebelahnya. Kompleks bangunan ini dikenal dengan nama Hala Sultan Tekke, merupakan tempat ibadah paling populer bagi umat Muslim di Siprus setelah Makkah, Madinah di Saudi Arabia dan Al Aqsa di Yerusalem. (Kisah di atas terdapat dalam Shahih Bukhari riwayat dari Anas bin Malik). 

Hala Sultan Tekke
Hala Sultan Tekke via wikimedia.org


Selengkapnya
Kisah Nabi Ibrahim dan Asal Usul Hari Raya Kurban

Kisah Nabi Ibrahim dan Asal Usul Hari Raya Kurban

Wedus atau kambing kibas
ilustrasi

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim As menyembelih kurban fi sabilillah sebanyak 1000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan unta sejumlah 100 ekor. Banyak orang yang kagum padanya, bahkan Malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya itu. 

"Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku mempunyai anak lelaki, pasti akan kusembelih karena Allah dan kukurbankan kepadaNya, seloroh Nabi Ibrahim As.

Sekian lama setelah kejadian itu, beliau lupa dengan pernyataannya itu. Ketika berada di Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak, dan Allah mengabulkan permohonannya. Beliau pun dikaruniai anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ismail. 

Kala usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada yang berpendapat 13 tahun), pada malam hari ke-8 bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim As bermimpi ada seruan, "Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu tempo dulu!"

Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan mimpinya semalam, apakah mimpi itu dari Allah ataukah dari syetan? Dari sinilah kemudian hari ke-8 Dzulhijjah disebut sebagai hari tarwiyah yang artinya berpikir atau merenung. 

Pada malam ke-9 bulan Dzulhijjah besoknya, beliau kembali bermimpi persis dengan mimpi sebelumnya. Keesokan harinya, beliau tahu bahwa mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah kemudian hari ke-9 Dzulhijjah disebut sebagai hari 'Arafah yang artinya mengetahui, dan ketepatan pula waktu itu beliau sedang berada di Padang Arafah. 

Malam berikutnya, beliau bermimpi kembali dengan mimpi yang serupa. Maka keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya itu. Karena itu pulalah hari itu kemudian disebut dengan hari menyembelih kurban (yaumun nahar). 

Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim As bermimpi untuk pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Hal itu dilakukan karena beliau mengira perintah dalam mimpi bisa terpenuhi. Tetapi tiba-tiba api datang dan menyantapnya.

Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sebanyak 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Inipun juga dilakukan beliau dengan alasan sama dengan yang pertama. Mendadak api datang lagi dan menyantapnya. 

Untuk mimpi yang ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru padanya, "Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu untuk menyembelih putramu, Ismail." Beliau terbangun dan langsung memeluk Ismail seketika, menangis hingga waktu Subuh tiba. 

Untuk melaksanakan perintah Allah tersebut, terlebih dahulu beliau menemui istrinya, Hajar. Beliau berkata, "Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah SWT."

Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian yang paling bagus, meminyaki dan menyisir rambutnya. Kemudian Ibrahim As dan putranya itu berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah golok.

Pada saat itu, iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu, mondar mandir kesana kemari. Ismail yang melihatnya segera mendekat ayahnya.

Iblis pun berseru, "Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?"

"Ya, namun aku diperintahkan untuk menyembelihnya," jawab Ibrahim.

Setelah gagal membujuk ayahnya, iblis datang menemui ibunya, Hajar. "Mengapa kau hanya duduk tenang-tenang saja, padahal suamimu telah membawa anakmu untuk disembelih?, goda iblis.

"Kau jangan berdusta kepadaku, mana mungkin seorang ayah menyembelih putranya?," jawab Hajar.

"Untuk apa suamimu membawa tali dan sebilah golok kalau bukan untuk menyembelih putranya?," kilah iblis.

"Untuk apa seorang ayah membunuh putranya?," tanya Hajar.

"Suamimu menyangka itu adalah perintah Allah SWT," bujuk iblis.

Hajar pun menjawab dengan mantap, "Seorang Nabi tidak akan ditugasi berbuat kebathilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikurbankan demi tugas mulia yang diemban beliau, apalagi hanya mengurbankan nyawa anakku. Ini belum apa-apa."

iblis menemui kegagalan lagi untuk kedua kalinya, namun ia tetap berdaya upaya untuk menggagalkan rencana Ibrahim As itu. Maka ia pun mendekati Ismail dan merayunya, "Hai Ismail! Mengapa kau hanya bermain dan bersenang-senang saja? Ingat! Ayahmu mengajakmu kemari hanya untuk menyembelihmu, buktinya ia membawa tali dan sebilah golok."

"Kau dusta, untuk apa ayah menyembelihku?," tanya Ismail.

"Ayahmu mengira itu adalah perintah Allah," jawab iblis.

"Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku," jawab Ismail dengan mantap.

Tatkala iblis hendak merayu dan membujuknya lagi, mendadak Ismail memungut sejumlah batu kerikil dan langsung melemparkannya ke arah iblis dan mengenai mata sebelah kiri hingga buta. Dari sinilah kemudian dikenal istilah melempar jumrah dalam ritual ibadah haji.
Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim As berterus terang kepada putranya, Ismail, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?.." (QS. Ash-Shaaffaat:102).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim hendak berangkat untuk melaksanakan nadzar menyembelih Ismail, beliau berkata kepada putranya, Ismail, " Wahai anakku, ambillah tali dan golok, marilah pergi bersamaku ke lereng gunung untuk mencari kayu bakar." Ketika keduanya telah sampai di lembah, barulah kemudian Ibrahim memberi tahu yang sebenarnya kepada Ismail akan perintah untuk menyembelihnya.

Ismail kemudian menjawab, "Wahai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Ash-Shaaffaat:102).

Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim As dan langsung mengucapkan tahmid (membaca Alhamdulillaah) sebanyak-banyaknya.

Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu, Ismail berpesan kepada ayahnya, "Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak yang bisa merepotkan ayah. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat supaya tidak timbul rasa iba pada diri ayah. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun, sebab bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya akan turut berduka."

"Tajamkanlah golok dan goreskanlah segera ke leherku ini agar lebih cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada ibu agar menjadi kenangan baginya. Dan sampaikan salamku kepada ibu dan katakan, 'Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah SWT'. Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga semakin menambah belasungkawa bagiku, dan tatkala ayah melihat anak lain yang sebayaku, janganlah dipandang seksama sehingga timbul rasa sedih di hati ayah, " sambung Ismail.

Setelah mendengar jawaban dan pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim As menjawab, "Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!."

Kemudian Nabi Ibrahim menggoreskan goloknya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah terikat kaki dan tangannya, namun beliau tidak mampu menggoreskannya.

Ismail berkata, "Wahai ayahanda! Lepaskanlah tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintahNya. Goreskan lagi ke leherku agar para Malaikat mengetahui bahwasanya diriku taat kepada Allah dalam menjalani perintah semata-mata karena Allah SWT."

Nabi Ibrahim pun melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya itu. Lalu beliau menghadapkan wajahnya ke tanah dan langsung menggoreskan goloknya ke leher putranya dengan sekuat tenaga, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya dan terpental. Tak puas dengan kemampuannya, beliau menghujamkan goloknya itu ke arah sebuah batu, dan batu itu pun hancur terbelah jadi dua bagian. "Hai golok! Kau dapat membelah batu, tetapi mengapa tak mampu menggores leher putraku?," kata beliau penuh keheranan.

Atas izin Allah SWT, golok itu menjawab, "Wahai Ibrahim! Kau menghendaki menyembelihnya, namun Allah SWT telah berfirman, "Jangan sembelih!". Nabi Ibrahim pun bingung dan berkata, "jika begini, mengapa aku harus menentang perintahNya?".

Pada saat itu kemudian terdengar panggilan, "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.. " (QS. Ash-Shaaffaat: 104-105).

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu)". (QS. Ash-Shaaffaat: 106). "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaaffaat: 107).

Demikianlah akhirnya Ismail dipindah dan diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan diterima darinya, dan domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawanya dan sempat melihat Nabi Ibrahim yang menggoreskan golok ke leher Ismail. Malaikat Jibril terkagum sembari mengucapkan, "Allaahu Akbar!". Nabi Ibrahim kemudian menyahut dengan mengucapkan, "Laa Ilaaha Illallaah Allaahu Akbar!", Ismail mengikutinya dengan mengucapkan, "Allaahu Akbar wa Lillaahil hamd".

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Ibrahim sedang berusaha untuk menyembelih putranya, ada seruan yang memanggilnya. Kemudian Ibrahim pun menoleh, seketika itu beliau menjumpai seekor domba kibas yang bercabang tanduknya (ada pula yang mengartikan tubuhnya berwarna hitam putih) turun dari gunung dan berdiri di dekat Ibrahim. Nabi Ibrahim pun menangkapnya dan kemudian menyembelihnya. Setelahnya Nabi Ibrahim kemudian merangkul putranya dan berkata, "Wahai anakku! Pada hari inilah, engkau (sepenuhnya) telah diberikan kepadaku". Dengan demikian, terpenuhilah nazar Nabi Ibrahim dan perintah dari Allah SWT.

Disebutkan pula bahwa ketika Nabi Ibrahim menyembelih domba kibas tersebut, Malaikat Jibril As mengucapkan, "Allaahu Akbar Allaahu Akbar", atas izin Allah domba kibas yang disembelih itu kemudian menyahut "Laa Ilaaha Illallaah Wallaahu Akbar", dan Nabi Ibrahim kemudian mengucapkan "Allaahu Akbar wa Lillaahil hamd". Dari sinilah kemudian kalimat-kalimat ini selalu dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Demikianlah, semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah di atas. Kisah ini saya nukil dari buku The Dream Sketsa Mimpi dalam Tinjauan Islam, Kedokteran dan Psikologi karya Miftahul Asror dan kitab Marah Labiid Tafsir an-Nawawi (Tafsir Munir) karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi.

Selengkapnya
Kisah Nabi Muhammad SAW Bertemu Pendeta Buhaira

Kisah Nabi Muhammad SAW Bertemu Pendeta Buhaira

Suku Quraisy memiliki kebiasaan bepergian ke Syam (Suriah) sekali setiap tahun untuk berdagang. Begitu pula yang dilakukan oleh Abu Thalib bersama kafilah Quraisy. Pada awalnya, ia berencana untuk bepergian tanpa mengajak Muhammad SAW. Namun atas desakan kemenakannya tersebut, akhirnya sang paman mengalah dan mengizinkan Nabi untuk ikut berdagang bersamanya. Peristiwa ini menjadi pengalaman pertama Nabi ikut berdagang. Sebelumnya, beliau hanya menggembala kambing di gurun pasir.

Dalam perjalanan ke Syam, tatkala sampai di suatu tempat yang bernama Bushra, rombongannya itu bertemu dengan seorang pendeta Nasrani yang bernama Bahira atau “Buhaira”. Pendeta Bahira terheran-heran melihat sebuah kafilah dagang yang datang dari Makkah. Kafilah ini memang sudah sering lewat, tapi kali ini tidak seperti biasanya. Di atas mereka ada awan yang menaungi perjalanan mereka. Ketika mereka berhenti di bawah sebuah pohon, awan itu pun ikut berhenti. 

Pohon Sahabi
via merdeka.com 

Melihat hal itu, Pendeta Buhaira kemudian menjamu makan rombongan Abu Thalib dengan maksud untuk memperhatikan satu persatu orang yang manakah yang telah membawa tanda-tanda keNabian sebagaimana ia lihat. Semula Muhammad SAW tidak ikut pergi ke rumah si pendeta. Selaku anak kecil dia bertugas untuk menunggui barang dagangan. Setelah pendeta tidak menemukan yang dicarinya, maka bertanyalah dia kepada Abu Thalib: "Adakah di antara tuan-tuan yang belum datang kemari?. Saya ini akan menjamu semuanya". 

“Ada seorang anak kecil, kemenakan saya sendiri, dia sedang menunggui barang dagangan.” Sahut Abu Thalib. 

Pendeta itu kemudian berkata, “Bawalah dia kemari sekalipun dia masih kanak-kanak”. Kemudian datanglah Muhammad ke tempat pendeta itu. Setelah berhadapan muka dengan pendeta, maka pendeta itu memperhatikan gerak-gerik dan sifat-sifat serta tanda yang dicarinya. Semuanya itu terdapat pada diri Muhammad. Pendeta itu lalu memegang tangan Muhammad SAW yang masih anak-anak sambil berkata: “Ini adalah pemimpin dunia dan Rasul Tuhan semesta alam, Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta” 

Beberapa sesepuh Quraisy pun bertanya: “Engkau tahu dari mana?" 

“Saat kalian datang, pohon dan batu menunduk sujud. Kedua-duanya tidak sujud (kepada manusia) selain kepada seorang Nabi. Dan saya juga mengetahui dia (sebagai Nabi) dari khatam an-nubuwah yang ada di pundaknya". 

Tanda keNabian yang satu ini disebut dengan Khatam An-Nubuwwah yang Nabi Muhammad bawa sejak lahir. Khatam An-Nubuwwah artinya stempel keNabian. Tanda ini berupa tahi lalat berwarna hitam kekuning-kuningan. Sebahagian Ulama mengatakan disitu tertulis "Muhammadur Rasulullah" (Muhammad utusan Allah). 

Setelah memuji Muhammad, Pendeta Buhaira kemudian memberi nasehat kepada Abu Thalib supaya kemenakannya tersebut dipelihara baik-baik, karena anak inilah yang akan menjadi pemimpin ummat di kemudian hari. Andaikata diketahui oleh orang Yahudi, bahwa anak inilah yang menjadi Rasul di kemudian hari, tentulah mereka akan berusaha untuk membunuhnya. Orang Yahudi mempunyai sifat busuk hati, dan mereka menginginkan orang yang menjadi Rasul itu hendaknya dari kalangan Bani Israil saja, jangan dari bangsa lain (Arab). 

Berita tentang diri Muhammad SAW bahwa ia akan menjadi pemimpin dunia dan Nabi memang telah diperkuat dengan tanda-tanda di waktu kelahirannya. Tanda-tanda tersebut diperkuat juga oleh penjelasan pendeta Buhaira tersebut yang melihat tanda-tanda Nabi terakhir pada diri Muhammad SAW. Peristiwa-peristiwa ini merupakan bukti bahwa Muhammad SAW adalah benar-benar Rasul utusan Allah SWT yang mendapat tugas untuk menuntun umat manusia menuju jalan keselamatan yang diridhai Allah SWT.

Selengkapnya
Kisah Zainab binti Jahsy, Istri Rasulullah yang 'Paling Panjang Tangannya'

Kisah Zainab binti Jahsy, Istri Rasulullah yang 'Paling Panjang Tangannya'


Para istri Rasulullah SAW adalah wanita-wanita yang mulia di dunia dan di akhirat. Mereka juga merupakan ibu dari kaum Mukmin (Ummul Mukminin) karena kedudukannya sebagai istri Rasul yang akan tetap mendampingi Nabi SAW hingga di surga kelak. Salah satu di antara para istri Rasul ini tersebutlah nama Zainab binti Jahsy, seorang wanita dari kalangan bangsawan Quraisy yang masih sepupu dari Rasul dan saudara perempuan dari Abdullah bin Jahsy, salah seorang sahabat Nabi yang pertama-tama memeluk Islam dan syuhada di Perang Uhud.

Terkait pernikahannya dengan Rasulullah SAW, Zainab binti Jahsy pernah mengatakan di depan istri-istri Nabi yang lain, "Kalian dinikahkan oleh bapak-bapak kalian. Sedangkan aku langsung dinikahkan oleh Allah dari atas langit ketujuh" (HR. Bukhari). 

ilustrasi
ilustrasi

Diriwayatkan dari Aisyah RA, salah seorang istri Rasulullah, beliau menceritakan bahwa sepeninggal Rasul wafat, para istri Rasul biasa berkumpul bersama sambil mengukur panjang tangan-tangan mereka di dinding. Hal ini mereka lakukan karena dulu sebelum Rasulullah SAW wafat, Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai siapa di antara istri-istri beliau yang paling cepat dalam menyusul kepergian Rasul (wafat). Rasulullah SAW bersabda, "Yang lebih dahulu menyusulku adalah yang paling 'panjang tangannya' diantara kalian" (HR. Muslim).

Karena inilah, para istri Rasul selalu mengukur panjang tangan mereka berharap menjadi yang tercepat dalam menyusul Rasul. Kegiatan mengukur panjangnya tangan ini selalu mereka lakukan hingga akhirnya Zainab binti Jahsy wafat. Padahal saat mereka mengukur tangan masing-masing, bukanlah tangan Zainab yang terpanjang, melainkan tangan dari Saudah, salah seorang istri Rasul yang lain.

Ternyata setelah ditelusuri, maksud dari ucapan Nabi yang 'paling panjang tangannya' ini bukanlah dalam artian fisiknya, melainkan aktivitas mudah mengulurkan tangan untuk bersedekah sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Zainab binti Jahsy. Jadi karena inilah Zainab menjadi yang paling cepat atau lebih dulu menyusul Rasulullah SAW wafat di antara istri-istri Rasul yang lain, karena Zainab memang sangat gemar bersedekah.

Zainab binti Jahsy adalah seorang wanita Quraisy yang terampil. Beliau memiliki keahlian menyamak, menjahit atau menenun pakaian, dan membuat pernak-pernik. Hasil keterampilannya ini kemudian beliau jual dan uangnya disedekahkan di jalan Allah. Kegiatan ini juga beliau lakukan tanpa melalaikan tugasnya sebagai istri Rasulullah SAW.

Selain itu, beliau juga senantiasa menyedekahkan apa saja yang bisa beliau sedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Karena inilah beliau juga menjadi tempat bernaung bagi orang-orang miskin.

Hingga meninggal, Zainab binti Jahsy tidak meninggalkan dirham ataupun dinar. Namun saat menjelang wafatnya, beliau berpesan bahwa beliau telah menyiapkan kain kafan untuk dirinya sendiri. Sedangkan bila Khalifah Umar telah menyiapkan kain kafan untuknya, maka hendaknya disedekahkan saja untuk orang lain.

Sebagai salah seorang istri Nabi, Zainab memang memiliki keistimewaan tersendiri. Selain terkenal akan kedermawanannya, Zainab binti Jahsy juga terkenal akan sifat zuhudnya terhadap dunia. Beliau tidak mudah terpedaya oleh gemerlapnya harta meski sebanyak apapun jumlahnya.

Mengenai hal ini, sayyidah Aisyah juga pernah mengatakan, "Zainab adalah wanita yang menyamaiku dibanding istri-istri Nabi yang lain. Aku tak pernah melihat seorang wanita pun yang lebih baik agamanya, lebih bertakwa, lebih jujur ucapannya, lebih menyambung silaturahim, lebih besar sedekahnya, lebih semangat mengkhidmatkan diri dalam beramal dan mendekatkan diri kepada Allah dibanding dirinya. Hanya saja (kekurangannya), ia agak keras dan cepat marah. Namun ia cepat kembali.” (HR. Muslim). 

Rasulullah SAW juga pernah memuji Zainab binti Jahsy dengan menyifatinya sebagai seorang wanita yang awwahah. Ada salah seorang sahabat yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu awwah?". Rasulullah SAW kemudian menjawab, "yakni seorang yang khusyuk dan tunduk". Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi awwah (penghiba) dan suka kembali kepada Allah. 

Zainab binti Jahsy wafat dalam usia 53 tahun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA (tahun 20 Hijriyah). Makamnya berada di pemakaman Baqi, Madinah. 

Demikianlah sekelumit kisah tentang Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy Radhiyallahu 'Anha, seorang wanita yang paling panjang tangannya diantara istri-istri Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Wallahu A'lam. (diolah dari berbagai sumber) 

Selengkapnya
Kisah Tiga Lelaki Terjebak Dalam Gua (Doa Tawassul dengan Amal Shalih)

Kisah Tiga Lelaki Terjebak Dalam Gua (Doa Tawassul dengan Amal Shalih)

Alkisah, ada tiga orang laki-laki yang sedang mengadakan perjalanan ke sebuah negeri. Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Dengan serta merta mereka pun mencari tempat untuk berteduh. Kebetulan tidak jauh dari tempat mereka berdiri, tampak sebuah goa. Dengan tergesa-gesa, ketiganya akhirnya memutuskan masuk ke dalam goa untuk menyelamatkan diri dari terpaan air hujan. 

gambar pintu goa
ilustrasi gua

Untuk sementara waktu, mereka merasa lega dan bersyukur bisa berteduh dari derasnya hujan. Namun di luar dugaan, tiba-tiba sebongkah batu besar jatuh menutupi pintu goa hingga tak ada sedikit pun celah untuk cahaya bisa masuk. Hujan yang deras itu rupanya telah menyebabkan longsornya bebatuan dari atas bukit. Keceriaan yang terbayang kini sirnalah sudah. Di depan mata mereka seonggok batu besar telah menghalangi pintu goa sehingga mereka pun tidak bisa keluar.

Mereka menjadi panik dan berpikir keras bagaimana caranya agar dapat keluar dari goa itu. Namun, semakin mereka berpikir keras semakin berujung pada kebuntuan. Lama mereka bergulat dengan pikirannya masing-masing. Di tengah-tengah keputus-asaan yang mulai merambati hati, ketiganya kemudian berdoa. Sebab tidak ada cara lain lagi yang dapat membuka batu sebesar itu kecuali hanya pertolongan Allah.

Lelaki pertama berdoa, “Ya Allah ya Tuhanku, hanya kepadaMulah aku berharap dan memohon pertolongan. Bila boleh aku bercerita, dahulu aku pernah mempunyai seorang pembantu yang menggembalakan ternak-ternakku. Oleh karena suatu hal ia keluar dari tempatku dan menitipkan satu ekor kambing kepadaku. Seiring dengan berjalannya sang waktu kambing itu kemudian beranak pinak hingga menjadi demikian banyak. Pada waktu pembantu itu kembali maka aku katakan kepadanya:

“Wahai kisanak, ini semua adalah kambingmu. Sedikit pun aku tidak pernah menguranginya. Silahkan kau ambil, karena itu adalah hakmu”.

Dengan terbengong-bengong kemudian ia berkata, “Tuan, bukankah kambingku hanya satu?. Lalu kenapa bisa menjadi banyak begini?”

Lalu aku jawab, “Kambingmu itu adalah kambing betina, kebetulan pada saat engkau titipkan padaku ia dalam keadaan bunting. Lalu beranaklah kambing itu hingga menjadi sebanyak ini. Maka dari itu, ambillah kambing-kambing itu”.

“Ya Robbi, jika menurut-Mu perbuatanku itu adalah pantas dan baik di mata-Mu maka aku berwasilah kepadanya, bukakanlah batu yang menutupi goa ini!”. Atas perkenan Allah, batu itu pun bergeser sedikit.

Giliran lelaki kedua kemudian berdoa, “Ya, Allah. Ya, Tuhanku. Dahulu aku pernah menolong pamanku dengan menghutanginya sekian dinar. Seiring berjalannya waktu ternyata pamanku tidak sanggup membayar hutang. Sebagai tebusannya aku meminta anak gadisnya untuk aku setubuhi. Karena tidak ada pilihan lain, pamanku pun kemudian menyetujui persyaratanku.

Di sebuah tempat, anak gadis pamanku telah berada di sebuah kamar siap melayaniku. Hasratku pun memuncak dan begitu bernafsu untuk segera menjamahnya. Aku dekati gadis itu, sejurus kemudian ia berkata, “Tuan, tidak malukah anda pada Allah Yang Maha Melihat atas semua kelakuan hamba-Nya. Tetapi andaikata Tuan tetap menginginkan aku melayani, akan aku turuti kemauan Tuan”. Mendengar penuturan gadis itu hatiku pun bergetar, dan seluruh dosa seakan menumpuk di depan mata.

Dengan serta merta aku kemudian menyuruh gadis itu untuk pulang dan hutang pamanku aku anggap telah lunas. Jika ternyata tindakanku itu baik di mata-Mu, maka aku berwasilah dengannya agar Engkau berkenan membuka batu penutup goa ini”. Atas seizin Allah, batu itu bergeser lagi lebih lebar.

Lelaki ketiga pun ikut berdoa, “Ya, Allah. Ya, Tuhanku. Dahulu aku mempunyai orang tua yang sudah sangat uzur. Tidak ada yang dapat dilakukannya kecuali hanya berbaring di tempat tidur sehingga segala sesuatunya akulah yang melayaninya. Bila datang waktu makan aku menyuapinya, baru setelah itu aku mengisi perutku dengan nasi dan lauk yang tersisa. Bila kebetulan kambing kami penuh air susunya, aku ambil, aku masak dan kuhidangkan untuknya, baru setelah itu aku meminum sisanya.

Bila ia hendak ke belakang atau pergi ke suatu tempat, maka aku selalu menggendongnya. Dan begitulah dari waktu ke waktu aku lalui dengan memberikan pelayanan kepadanya dengan hati yang sangat tulus. Ya Allah, jika perbuatan itu baik di mata-Mu dan Engkau berkenan menerimanya maka aku berwasilah dengannya agar kiranya batu ini bergeser atas kehendak-Mu.” Atas seizin Allah batu itu pun bergeser hingga pintu gua terbuka dan ketiga pemuda tadi dapat keluar dengan selamat.

Kisah di atas terjadi pada masa sebelum Nabi Muhammad SAW dan telah disebutkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dapat dipahami bahwa dalam keadaan sesulit apa pun, kita hendaknya banyak berdoa agar diberi jalan keluar oleh Allah. Salah satu bentuk doa tersebut adalah dengan menyebutkan amalan shalih yang telah kita kerjakan. Allah tidak akan menyia-nyiakan balasan bagi orang yang berbuat amalan kebaikan. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah di atas. Wallahu A'lam.

Selengkapnya
Sejarah Asal Usul Air Zam-zam dan Faedah-Faedah Meminumnya

Sejarah Asal Usul Air Zam-zam dan Faedah-Faedah Meminumnya

Setelah membawa Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail ke Mekkah, Nabi Ibrahim kemudian berdoa kepada Allah SWT, "Ya Allah, aku telah tempatkan istri dan keturunanku di dekat rumah-Mu (Baitullah) dilembah yang sunyi dari tanaman dan manusia, agar mereka mendirikan shalat dan beribadah kepadaMu, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan yang lezat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepadaMu.

Setelah memanjatkan do‘a, Nabi Ibrahim kembali ke Palestina untuk hidup bersama Siti Sarah. Dengan menahan rasa sedih, Ia pasrahkan semuanya kepada Allah. Siti Hajar dan Ismail ditinggalkannya hidup di lembah padang pasir yang sunyi di antara bukit-bukit batu yang kokoh berbekal iman dan taqwa serta persediaan ala kadarnya. Seiring waktu, perbekalanpun akhirnya menipis dan habis sama sekali. Tangis pilu bayi dan perihnya perut yang kosong, tidak menghalangi Siti Hajar untuk berdo'a dan berusaha mencari karunia Allah. 

Munculnya Air Zamzam


Siti Hajar mondar-mandir sembari berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa tidak kurang tujuh kali, namun karunia Allah yang diharapkan berupa air untuk sekedar membasahi tenggorokan yang kering, tidak juga ia dapatkan. Maka bersujudlah ia kepada Allah sembari memohon karuniaNya. Dan Allah kemudian menunjukkan karuniaNya. Melalui kaki mungil Ismail, tiba-tiba memancarlah air dari dalam tanah. Itulah air zam-zam yang kita kenal sekarang. 

Riwayat lain menyebutkan bahwa saat Siti Hajar mondar mandir antara Shafa dan Marwa, pada saat lari yang ketujuh dia mendengar suara orang yang memanggil-manggil, padahal di sekitar tempat itu tidak ada orang kecuali ia dan Ismail. Siti Hajar pun berseru, "Aku dengar suaramu, tolonglah aku kalau engkau orang baik”. Maka muncullah Malaikat Jibril yang kemudian menghentakkan tumitnya di tanah, lalu memancarlah air di tempat itu. Dengan tergesa-gesa, Siti Hajar kemudian membendungi air dengan tanah dan pasir agar tidak mengalir kemana-mana. Maka disebutlah air itu dengan nama "Zamzam", artinya air yang gemercik tapi terkumpul. 

Air zamzam sengaja diberikan oleh Allah mula-mula kepada Ismail dan Ibunya Siti Hajar, kemudian oleh mereka berdua diberikan kepada siapa saja yang memerlukan. Ini terbukti setelah beberapa hari Siti Hajar dan anaknya tinggal di dekat air itu, datanglah kepadanya dua orang dari suku Jurhum yang mewakili bangsanya untuk berkenalan sekaligus meminta izin untuk memanfaatkan air. Dengan senang hati diterimalah mereka dan pada akhirnya jadilah sekumpulan masyarakat baru di sekitar mata air zamzam hingga menjadi sebuah kota yang amat ramai. 

Bagi para jemaah haji, minum air zamzam sehabis thawaf mengingatkan akan besarnya nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang mengalami kesulitan, sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang amat besar di bumi Makkah yang sangat tandus, serta menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Maha Pemurah, Maha Kaya dan Maha Mendengar do’a orang yang berdo’a kepada-Nya.

Faedah-Faedah Meminum Air Zamzam

 
Bagi umat Islam, air zamzam adalah air yang diberkahi dan disucikan. Air yang mengalir dari sumur zamzam ini juga dianggap sebagai air paling bersih dan paling murni di bumi karena tidak mengandung jamur, bakteri, virus, kuman, lumut, atau jenis kotoran lainnya. Air zam-zam juga diketahui kaya akan mineral yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Tidak heran para jemaah haji berlomba-lomba minum air zamzam serta menjadikannya oleh-oleh untuk dibawa pulang.

botol air zamzam
via okezone.com

Di samping hal itu, air zamzam memang diketahui memiliki banyak manfaat dan faedah bagi siapapun yang meminumnya. Diantara faedah-faedah meminum air zamzam adalah sebagai berikut:
  • Syaba‘ah, artinya kenyang, karena setelah minum air zamzam menjadi kenyang. 
  • Murwiyah, artinya segar, karena air zamzam dapat menghilangkan rasa dahaga dan menjadi segar. 
  • Nafi‘ah, artinya bermanfaat, karena memang sangat banyak manfaatnya. Diantaranya yaitu menguatkan hati dan menenangkan rasa takut. 
  • Afi'ah, artinya sehat, karena air zamzam jika diminum dapat menangkal atau menolak penyakit. 
  • Maimunah, artinya barokah, karena keberkahan air zamzam sangat dirasakan. 
  • Barrah, artinya memiliki kebaikan, karena air zamzam sangat baik bagi orang yang meminumnya untuk memperoleh keberkahan. 
  • Madhmunah, artinya bagus, karena indahnya air zamzam maka Allah melarang satu kaum dari bangsa Arab tinggal di sekitarnya karena berbuat maksiat. 
  • Kafiyah, artinya mencukupi, karena orang yang minum zamzam akan merasa cukup atau puas. 
  • Mu'dzibah, artinya mencegah rasa dahaga karena air zamzam mengandung rasa antara manis dan tawar.
  • Syifa Saqamin, artinya menyembuhkan penyakit, karena air zamzam dapat menjadi obat dari penyakit yang diderita seseorang. 
  • Tho'amu Thu'min, artinya mengenyangkan, karena meminum air zamzam dapat menghasilkan rasa kenyang. 
  • Hazmatu Jibril, artinya injakan atau tekanan tumit malaikat Jibril. Disebut demikian karena air zamzam keluar dengan perantaraan tumit kaki Jibril. 
  • Maghfurah, artinya ampunan, karena orang yang meminumnya diampuni dosanya. 
Di dalam hadits juga dijelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan bisa sebagai obat penyakit". (HR. Muslim) 

Air zamzam bagi yang diniatkan ketika meminumnya, jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu, maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud agar engkau merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. la adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail.” (HR. Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas)

Selengkapnya
Kisah Pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS

Kisah Pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS

Kisah Pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS

Nabi Ibrahim As dan putranya yaitu Nabi Ismail As, keduanya adalah Rasul (utusan) Allah yang mana kisahnya juga diabadikan dalam syariat perintah ibadah haji dan perayaan Hari Raya Kurban (Idul Adha) bagi umat Islam. Selain kisah Asal Usul Hari Raya Idul Adha (Baca: Kisah Nabi Ibrahim dan Asal Usul Hari Raya Kurban), kisah terkenal lainnya dari kedua Rasul ini adalah peristiwa dibangunnya ka'bah pasca banjir besar pada masa Nabi Nuh As. 

Kisah tentang penyembelihan Nabi Ismail (yang kemudian Allah ganti dengan seekor domba kibas) memang menjadi salah satu bukti ketaatan serta ketulusan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam mematuhi perintah Allah. Meski mendapatkan ujian yang berat dari godaan Iblis laknatullah, keduanya tetap teguh dan yakin dalam menjalankan segala perintah dari Allah SWT. 

Waktu pun terus berjalan, keduanya kembali menjalani hidup masing-masing di tempat terpisah yang lumayan jauh jaraknya. Nabi Ibrahim dan Ismail harus berpisah karena Nabi Ismail tinggal di Makkah sementara Nabi Ibrahim tinggal di Palestina. Tahun demi tahun, tanpa terasa Nabi Ismail pun sudah menginjak dewasa dan telah membina bahtera rumah tangga dengan seorang putri dari Bani Israil.

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu dari Allah SWT untuk mendirikan Baitullah (Ka'bah) di tanah Makkah. Nabi Ibrahim pun datang kembali ke Makkah untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Sebelum itu, ia mencari putranya, Nabi Ismail untuk membantunya dalam membangun ka'bah. Setelah beberapa lama mencari, maka ketemulah Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail. 

Kebetulan, Nabi Ismail saat itu sedang di suatu tempat didekat mata air zam-zam. Nabi Ismail sedang berteduh dibawah pohon rindang sambil meraut anak panahnya. Setelah bertemu, Nabi Ibrahim melepas rindu dengan rasa haru dan gembira dapat berjumpa kembali dengan sang anak tercinta. Setelah melepas rindunya, maka Nabi Ibrahim mulai menceritakan maksud kedatangannya. Nabi Ibrahim berkata:

“Wahai Ismail, Allah telah memberikan perintah kepadaku.”

"Kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu.", Nabi Ismail menanggapi. 

"Apakah engkau bersedia membantuku?", tanya Nabi Ibrahim seraya menunjuk ke arah tumpukan tanah yang lebih tinggi dari tanah sekitar dan berkata:

"Allah telah memerintahkan untuk membangun sebuah rumah di sini!”

Mendengar permintaan ayahnya, Nabi Ismail pun dengan begitu gembira menyatakan kesanggupannya untuk membantu ayahnya. Dengan rencana dan pemikiran yang bulat untuk membangun rumah Allah, maka dimulailah pembangunan Ka'bah yang berlokasi diatas sebuah bukit dan dikerjakan oleh mereka berdua yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. 

Akhirnya, ayah dan anak itu pun bekerja sama membangun ka'bah. Ismail mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya. Keduanya bekerja tanpa kenal lelah. Mereka saling bekerja sama mengumpulkan batu, meninggikan pondasi, dan segala hal mereka kerjakan dengan ketekunan. Kisahnya diabadikan dalam firman Allah:

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah, 127)

Saat Nabi Ibrahim tidak bisa menjangkau bagian atas, ia menyuruh Nabi Ismail untuk mencari sebuah batu sebagai pijakan untuk mencapai tembok yang sudah tinggi. Batu bekas pijakan Nabi Ibrahim sampai sekarang dinamai dengan “Maqam Ibrahim".

Dengan penuh ketekunan dan kesabaran, maka selesai jualah pembangunan Ka’bah. Bentuknya seperti kubus sesuai dengan petunjuk dan perintah Allah SWT. Menurut sejarawan, bentuk ka'bah pada masa Nabi Ibrahim ini masih sederhana berupa susunan tumpukan batu tanpa atap dan tanpa ada perekat semacam semen untuk melengketkan batu-batu tersebut. 


Setelah selesai tugas mendirikan Ka'bah, Nabi Ibrahim beserta Nabi Isma'il kemudian berdo'a: 

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak-cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah, 128)

Selengkapnya