Sisi Lain Kekuasaan

Raja dalam catur

Bagi yang pernah belajar ilmu politik, mungkin pernah mendengar ungkapan yang mengatakan "Power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely" yang artinya kurang lebih ''kekuasaan cenderung untuk melakukan tindakan korupsi dan kekuasaan yang begitu besar, maka dipastikan kecenderungan akan tindakan korupsi juga lebih besar. Ungkapan yang hingga kini banyak dikutip orang ini berasal dari seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama Lord Acton (1834-1902).

Kita sering memaknai suatu ungkapan ataupun dalil, tanpa melihat konteks munculnya ungkapan atau dalil tersebut. Menurut sejarah, John Emerich Edward Dalberg Acton, atau lebih dikenal dengan nama Lord Acton hidup pada masa ketika Inggris dipimpin oleh Perdana Menteri William Ewart Gladstone (1809-1898). Gladstone adalah perdana menteri yang dikenal menentang reformasi pemilihan demokratik. Selain itu, ia juga menentang penghapusan perbudakan, karena ternyata perkebunan yang ia miliki banyak mempekerjakan para budak di dalamnya.

Pada tahun 1887, Mandell Creighton (1843-1901), sejarawan dan uskup London, menerbitkan sebuah buku berjudul A History of the Papacy. Dalam bukunya disebutkan tentang ''papal infallibility'' atau keadaan tidak dapat berbuat kesalahan atau kekeliruan dari seorang Paus. Acton yang tidak sependapat dengan pernyataan ini kemudian mengirimkan surat pribadinya kepada Creighton. Dalam sebagian isi suratnya, ia menuliskan  ''Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely''.

Jika kita melihat kondisi dimana Acton hidup, kita mestinya memahami mengapa Acton sampai mengeluarkan pernyataan tersebut. Pernyataan tersebut muncul sebagai ekspresi kekecewaan Acton pada situasi masa itu, dimana kekuasaan banyak disalah gunakan untuk kepentingan tertentu. Dengan mengetahui konteks munculnya ungkapan ini, kita menjadi tahu bahwa ketika kita hendak mengutip pernyataan Acton tersebut, kita juga musti melihat konteks yang terjadi disekeliling kita. Artinya, dogma tersebut membutuhkan berbagai syarat untuk bisa dijalankan.

Terlepas dari pernyataan Lord Acton tersebut, kekuasaan memang ibarat pisau bermata dua. Dalam sejarah, kita mengenal pemimpin-pemimpin besar yang dengan keadilan dan kebijaksanaannya mampu dan sukses dalam mensejahterakan rakyatnya. Tetapi kita juga mengenal dan mendengar penguasa-penguasa yang mengaku dirinya paling hebat, setengah dewa, minta dipuja-puja, bahkan minta dikultuskan, namun pada akhirnya hancur, jatuh tersungkur dari singgasananya akibat kekuasaan yang mereka salah gunakan.

Kekuasaan memang mempesona sekaligus menakutkan. Mempesona karena ia seringkali diperebutkan oleh mereka-mereka yang merasa berhak menduduki singgasananya. Namun menjadi menakutkan ketika kekuasaan sudah ada dalam genggaman, karena segala macam cara digunakan untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan politiknya. Hans Morgenthau dalam bukunya Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace menuliskan: Motif tindakan politik adalah tiga hal dasar, yaitu mempertahankan kekuasaan, menambah atau memperluas kekuasaan dan memperlihatkan kekuasaan.

Meskipun demikian, ibarat air bagi kehidupan, keberadaan penguasa bagi manusia adalah hal yang mutlak. Tanpa penguasa, manusia tidak akan memperoleh kemaslahatan hidup. Tidak ada keadilan yang dapat berdiri tegak dengan sendirinya dan tidak ada hak yang dapat memenangkan dirinya sendiri (الحق بلانظام يغلبه الباطل بنظام). Manusia tanpa penguasa akan menjadi anarkis, sedangkan ketika masyarakat anarkis, kemaslahatan tidak akan pernah tercipta.

Kekuasaan adalah amanat dari rakyat yang musti dijalankan dengan sebaik-baiknya. Seorang penguasa atau pemimpin yang baik tidak akan berlaku sombong, apalagi bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Ia juga tidak cenderung terhadap kepentingan keluarga dekatnya atau orang-orang disekelilingnya, melainkan lebih cenderung dan bersikap objektif terhadap kebutuhan semua rakyatnya. Ia selalu menjadikan kesejahteraan rakyatnya sebagai prioritas utamanya. Jelasnya, fungsi penguasa yang sesungguhnya adalah pelindung bagi seluruh rakyatnya.

Oleh karenanya wajar jika Allah menjanjikan posisi yang mulia dan kedudukan yang terhormat bagi penguasa, apabila ia berlaku adil dan bijaksana dalam menjalankan kekuasaannya. Bahkan Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa penguasa yang demikian akan mendapatkan naungan dari Allah pada saat hari kiamat kelak. Hendaklah mereka yang hendak menjadi penguasa meneladani apa yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh pemimpin umat ini yang telah diakui keberhasilannya dalam menjalankan kekuasaannya.

Kita mendapati tokoh-tokoh penguasa ini juga tidak egois ketika mereka justru menawarkan dirinya kepada rakyatnya untuk diawasi secara kritis dalam setiap tindakan dan pelaksanaan tugasnya, selama pengawasan secara kritis tersebut dilakukan dalam rangka untuk kemaslahatan hidup bersama. Mereka juga meminta agar rakyatnya meluruskannya apabila melakukan kesalahan. Abu Bakar Ash-Siddiq RA ketika menerima baiat pengangkatannya sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW, beliau mengatakan, ''... Jika aku berbuat baik, dukung dan bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskanlah aku...''



Disarikan dari berbagai sumber.
Labels: Horizon

Thanks for reading Sisi Lain Kekuasaan. Please share...!

0 Komentar untuk "Sisi Lain Kekuasaan"

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan. Maaf, Komentar berisi Link Aktif, Promosi Produk Tertentu, J*di, P*rn*, Komentar berbau SARA dan Permusuhan, tidak akan dipublish.