Beberapa Metode Untuk Menumbuhkan Minat Baca Versi Ulama Salaf


Membaca erat kaitannya dengan ilmu. Membaca adalah pintu gerbang untuk menyelami berbagai ilmu pengetahuan. Dengan membaca dan memahami suatu ilmu, seseorang akan mempunyai wawasan yang luas sehingga ia tidak akan mudah dibodohi oleh orang lain. Ajaran Islam juga memerintahkan umatnya agar terlebih dahulu menuntut ilmu (termasuk membaca) baru kemudian beramal dengan ilmu yang didapatnya. Begitu bermanfaatnya membaca, bahkan wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah SAW adalah "Iqra" : bacalah. Selain itu, membaca juga merupakan salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan waktu. 

Ilustrasi membaca
ilustrasi membaca

Kita semua tahu akan manfaat dan pentingnya membaca, namun seringkali kita dihinggapi rasa malas ketika hendak melakukannya. Pada tulisan kali ini, kita akan mencoba mempelajari beberapa metode yang diharapkan semoga dapat membantu menumbuhkan minat baca kita, terutama bagi yang kurang memiliki kemampuan (minat) membaca. Agar minat baca dapat tumbuh dan bertambah besar, maka harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Konsentrasi saat membaca


Saat kita ingin membaca sebuah buku tertentu, maka kita harus memusatkan pikiran dan kedua pandangan mata kita tertuju pada halaman yang dihadapinya. Selain itu, kita juga harus mengosongkan hati dari berbagai hal yang dapat mengganggu ketika hendak menerima ilmu. Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Begitulah, orang yang melihat sesuatu tanpa hati atau mendengar kalimat-kalimat para ulama tanpa hati, maka ia tidak akan mendapati apa-apa, sebab pusat segala perkara berada di hati". Inilah metode pertama bahkan yang terpenting di dalam menumbuhkan minat baca, yaitu membaca dengan penuh konsentrasi dan memahami apa yang sedang dibaca. 

2. Pengamalan terhadap apa yang dibaca


Mengamalkan apa yang telah dibaca adalah suatu cara untuk mengokohkan ilmu di dalam hati dan akal, sekaligus menjadi pendorong untuk mencintai ilmu. Karena inilah Ibnu Qayyim berkata, "Beramal adalah hasil dari benih ilmu. Maka apabila keduanya berkumpul, akan menghasilkan kebahagiaan, jika terpisah salah satu di antaranya, maka tidak akan memberikan suatu hasil apapun". Oleh karena itu, kita harus bisa menerjemahkan apa yang telah kita baca di dalam buku ke dalam realita kehidupan dan jalan perjuangan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW, di mana Al Qur'an merupakan akhlak beliau. 

3. Membaca Materi yang disukai secara bertahap


Ini adalah titik awal dimana kita harus membaca segala bacaan yang kita sukai dan condong terhadapnya, sehingga hati kita akan terpaut dan berniat untuk senantiasa membaca dan menuntut ilmu. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan membaca dan menuntut ilmu sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibrahim al Harbi. Terkait dengannya, Tsa'labah menuturkan, "Belum pernah aku tidak menjumpai Ibrahim al Harbi dari majelis pengajaran bahasa dan nahwu selama lima puluh tahun". Begitulah Ibrahim al Harbi, ia baru melangkah ke bidang ilmu yang lain setelah mempelajari ilmu bahasa sekian lama. Semangat demikian inilah yang mesti kita miliki, yaitu bertahap dan sedikit demi sedikit dalam menuntut ilmu. 

Hendaknya kita memulainya dari yang penting, lalu naik setingkat menuju pada yang terpenting. Sebagai contoh misalnya kita bisa memulai dari membaca buku-buku yang tipis-tipis, kemudian yang cukup tebal, bahkan kemudian pada buku yang berjilid-jilid, terus melangkah ke buku-buku rujukan dan ensiklopedi. Begitu juga dengan tingkat kendungan buku, hendaknya dimulai dari membaca buku dengan tema ringan, mudah dicerna, kemudian pada yang lebih berbobot, sehingga dengan demikian kita bisa mengenal semua jenis buku yang ada.


4. Belajar dari semangat Ulama Salaf


Biasanya kita cukup puas untuk membaca buku sekedarnya saja. Padahal jika kita tahu bagaimana semangat dan perjuangan para Ulama Salaf di dalam menuntut ilmu dan membaca berbagai kitab (buku), maka sudah pasti kita akan merasa kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Sebagai contoh untuk memotivasi semangat kita dalam membaca dan menuntut ilmu, kita bisa belajar dari apa yang dicontohkan oleh Imam Ar Razi. Dalam suatu riwayat dia mengatakan, "Waktu pertama kali aku pergi menuntut ilmu, aku bermukim selama tujuh tahun dan berjalan kaki lebih dari seribu farsakh (1 farsakh = 8 km), setelah itu aku pergi ke Mesir dari Bahrain dengan berjalan kaki, kemudian ke Ramulla, lalu ke Tharsus dalam kurun waktu selama 20 tahun". 

Dari contoh tersebut memberikan gambaran tentang satu sisi dari sekian banyak sisi pengorbanan para ulama salaf dalam usahanya untuk memperoleh ilmu. Dan cukup banyak kisah-kisah serupa yang terdapat di dalam kitab-kitab biografi dan sirah para ulama salaf, sehingga hendaknya kita bisa belajar dari semangat mereka dalam usahanya mencari ilmu. Kita mestinya bersyukur bahwa pada masa kini kita bisa mendapati banyak buku ilmu pengetahuan di mana-mana, kita bisa membelinya di toko-toko buku yang ada, atau pun kita juga bisa meminjamnya di perpustakaan-perpustakaan umum yang ada di sekitar kita.

5. Memilih Waktu dan Tempat Yang Tepat


Memilih waktu yang tepat untuk membaca, menghafal, atau mengadakan penelitian adalah termasuk cara terbaik guna menumbuhkan kecintaan membaca dan menuntut ilmu. Seorang Ulama Salaf berkata, "Waktu yang terbaik untuk menghafal adalah di waktu sahur (sebelum fajar), untuk meneliti adalah di waktu pagi, untuk menulis di tengah hari, sedang untuk membaca, menelaah, dan mengulang adalah di waktu malam. Sebaik-baik tempat untuk menghafal adalah di kamar dan di setiap tempat yang jauh dari keramaian atau kebisingan. Tidak baik menghafal di taman, di tepi sungai, di jalan umum dan pusat-pusat keramaian. Sebab pada umumnya, hal itu dapat menghalangi konsentrasi hati dan pikiran". Jadi, pemilihan waktu dan tempat secara tepat bisa memberikan pengaruh yang sangat baik dalam menumbuhkan minat baca bagi kita. 

6. Menganekaragamkan Bacaan


Hal ini dilakukan supaya tidak monoton dalam membaca, tidak bosan atau malas. Oleh karena itu, untuk mengusir kebosanan saat membaca, sekali waktu perlu juga diselingi dengan membaca yang lain, seperti membaca buku-buku keagamaan, buku-buku sejarah, atau pun juga membaca majalah atau surat kabar untuk sedikit menghibur hati yang sedang suntuk. Yahya bin Khalid pernah berpesan kepada putranya agar tidak monoton dalam memilih materi bacaan. Ia berkata, "Hendaknya engkau membaca setiap cabang ilmu, karena seseorang itu adalah musuh bagi apa yang tidak ia ketahui dan aku tidak suka jika menjadi musuh (anti) pada salah satu cabang ilmu". Jadi, menciptakan variasi bahan bacaan adalah salah satu sarana penting untuk merangsang seseorang agar gemar membaca. Di samping itu akan membentuk daya intelektual yang kuat bagi kita sehingga kita mampu melakukan kajian, memahami dan menganalisa berbagai persoalan.

7. Berdoa


Sebelum membaca hendaknya kita berdoa terlebih dahulu. Sebab doa adalah ibadah, dan dengannya akan membantu kita dalam menghadapi berbagai problema kehidupan, baik yang bersifat materi atau non materi seperti dalam soal menuntut ilmu dan lainnya. Oleh karenanya, hendaknya setiap muslim senantiasa membiasakan diri berdoa kepada Allah SWT, agar Dia berkenan memberikan kegemaran membaca serta kemudahan dalam memahami berbagai ilmu pengetahuan. Barang siapa senantiasa bersamaNya, maka Allah pun akan selalu menyertainya. Hanya kepadaNya kita memohon agar Dia berkenan memberikan taufikNya dalam setiap aktvitas yang kita kerjakan. Wallahu A'lam. (disarikan dari Efisiensi Waktu Konsep Islam, karya Jasiem M. Badr al Muthowi')
 
Labels: Horizon, Tips & Cara

Thanks for reading Beberapa Metode Untuk Menumbuhkan Minat Baca Versi Ulama Salaf. Please share...!

0 Komentar untuk "Beberapa Metode Untuk Menumbuhkan Minat Baca Versi Ulama Salaf"

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan. Maaf, Komentar berisi Link Aktif, Promosi Produk Tertentu, J*di, P*rn*, Komentar berbau SARA dan Permusuhan, tidak akan dipublish.