Memilih Pemimpin Terbaik (Menyambut Pilkada 2020)

Persoalan memilih pemimpin memang bukanlah perkara gampang. Ketika sosok yang dianggap terbaik telah terpilih untuk menjadi seorang pemimpin, kiranya juga butuh waktu tidak singkat untuk berhasil membawa perubahan ke arah lebih baik. Perlu waktu untuk berbenah, perlu waktu untuk berproses dan perlu waktu untuk mensinergikan bawahan-bawahannya untuk bekerja bersama menuju kemajuan dan kemakmuran. 

memilih pemimpin

Meski begitu, pemimpin memang harus ada dan dipilih untuk menahkodai jalannya suatu pemerintahan. Negara akan hancur manakala tidak ada pemimpinnya, ibarat kapal akan oleng, menabrak karang, dan tenggelam manakala tidak ada sang nahkodanya. Terkait pentingnya keberadaan pemimpin, Hujjatul Islam Imam Al Ghazali pernah mengatakan, "Imam yang dhalim itu lebih baik daripada terjadinya fitnah berkepanjangan (karena tanpa pemimpin)." (Ihya, juz 4, hlm 96).

Masih menurut Al Ghazali, "Pemimpin itu bisa menjadi penyangga agama, untuk itu tidak pantas diremehkan/ dihinakan walaupun ia seorang yang dhalim atau fasiq." (Ihya, juz 4, hlm 96).

Senada dengan Imam Al Ghazali, Ibnu Taimiyah juga pernah berkata, "Setiap ada perkumpulan, maka harus ada pemimpinnya." (Syarhus Siyasah as-Syar'iyah, hlm 308).

Masih menurut Ibnu Taimiyah, "Enam puluh tahun dengan imam atau pemimpin yang tidak baik masih lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin." (Syarhus Siyasah as-Syar'iyah, hlm 309).

Pertanyaannya kemudian, apakah mungkin ada sosok pemimpin yang bisa mengubah segalanya menjadi lebih baik dalam waktu yang tidak relatif lama?.

Secara keumuman memang butuh proses panjang bagi seorang pemimpin untuk membuat perubahan besar-besaran dan membawa negara atau pemerintahan menjadi maju dan makmur. Begitu pula tidak mudah memang untuk mendapatkan figur yang dipercaya mampu membangun negeri ini menuju lebih baik. Namun jika Allah menghendaki, apapun bisa saja terjadi. Kita bisa berkaca misalnya pada apa yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang memerintah pada tahun 717 - 720 M, yakni pada masa Daulah Bani Umayah.

Hanya dalam waktu 2 - 3 tahun selama masa kepemimpinannya, Sang Khalifah telah berhasil mengubah kondisi masyarakatnya menjadi jauh lebih baik. Banyak riwayat menggambarkan situasi pada saat itu yang benar-benar sangat tentram menyejukkan di banding masa-masa sebelumnya. Bahkan kabarnya, ketentraman itu tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, melainkan binatang yang biasanya saling menyerang pun menjadi damai. Dalam kitab Hilyatul Auliya' karangan Abu Nuaim Ahmad bin Abdullah al-Asfihani (w. 430 H) juz 5 disebutkan:

"Musa bin A'yan berkata: 'Kami menggembala kambing di daerah Kirman pada masa pemerintahan Umar bin Abdul aziz. Di sana kambing dan serigala (yang biasanya memangsa kambing) tampak rukun dan akur berada pada satu tempat. Nah, pada satu malam kami melihat serigala menerkam seekor kambing. Maka yang terlintas di benak kami adalah bahwa orang yang sholih itu telah meninggal (ternyata betul, Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah wafat pada malam itu).'" (al-Hilyah juz 5 hlm. 255-256)

"Dari Abdul Aziz putra Umar bin Abdul Aziz, ia berkata: 'Abu Ja'far Amirul Mukminin bertanya kepadaku: berapa kekayaan ayahmu ketika diangkat menjadi khalifah?. Aku menjawab: kekayaan ayahku ketika diangkat sebagai khalifah sebanyak 40 ribu dinar. Abu Ja' far bertanya lagi: lalu ketika wafat (berhenti dari jabatan khalifah), kekayaan ayahmu menjadi berapa?. Aku menjawab: ketika ayahku wafat dan selesai menjabat, kekayaannya tinggal 400 dinar dan seandainya ayahku masih hidup, kekayaannya akan terus berkurang" (al-Hilyah juz 5 hlm. 257)

Kehidupan berbangsa dan bernegara ini bisa kita umpamakan seperti shalat berjamaah, ada imam dan ada makmum. Suatu jamaah akan baik manakala imamnya baik dan makmumnya pun baik. Kalau imamnya baik akan tetapi makmumnya tidak baik, artinya makmum tidak mau mengikuti imam, maka jamaah tersebut akan rusak. Sebaliknya, apabila makmumnya baik tetapi imamnya semaunya sendiri, artinya tidak memperhatikan kondisi makmumnya, maka jamaah tersebut juga bisa rusak.

Begitu pula dalam kehidupan berbangsa bernegara, jalannya suatu pemerintahan juga akan baik manakala pemerintah dan rakyatnya sama-sama baik. Kedua pihak mempunyai peranan penting yang tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Jika keduanya dapat bekerja sama dan bersinergi dengan baik, maka kehidupan bernegara yang adil makmur gemah ripah loh jinawi atau baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur insya Allah juga dapat terwujud.

Pada tanggal 9 Desember 2020 nanti, masyarakat Indonesia akan menyambut Pilkada Serentak yang akan digelar di 270 wilayah di seluruh Indonesia, meliputi 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Pemerintah juga telah menetapkan tanggal tersebut sebagai hari libur nasional dalam rangka pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota secara serentak.

Meski masih berada di masa-masa pandemi, marilah kita songsong pilkada ini untuk memilih pemimpin terbaik bagi masing-masing wilayah penyelenggara pilkada. Harapannya, tentu saja siapapun nanti yang terpilih semoga dapat membawa perubahan lebih baik bagi provinsi, kota dan kabupaten yang dipimpinnya kelak. Demikian. (sumber berasal dari materi khotbah jum'at KH. Drs. Ahmad Hadlor Ihsan, Pengasuh Pon Pes Al Ishlah, Mangkangkulon, Tugu, Semarang).

Labels: Horizon

Thanks for reading Memilih Pemimpin Terbaik (Menyambut Pilkada 2020). Please share...!

0 Komentar untuk "Memilih Pemimpin Terbaik (Menyambut Pilkada 2020)"

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan. Maaf, Komentar berisi Link Aktif, Promosi Produk Tertentu, J*di, P*rn*, Komentar berbau SARA dan Permusuhan, tidak akan dipublish.