Santos Blog

Selasa, 20 Agustus 2019

Cara Mengatur Ukuran Gambar Tampilan Mobile Agar Sesuai Lebar Postingan Blog Secara Otomatis


Pengakses internet pada masa kini lebih didominasi oleh pengguna seluler (mobile). Oleh karenanya bagi para pengelola website atau blog juga perlu untuk mendesain blog atau websitenya agar semakin ramah ketika diakses lewat mobile. Selain template harus responsive dan mobile friendly, tampilan dalam postingan blog juga mesti disesuaikan. Salah satu di antaranya adalah tampilan gambar. Penggunaan gambar dalam postingan biasanya berfungsi untuk menggambarkan isi postingan agar mudah dipahami oleh pengunjung blog. 


Saat kita mengupload sebuah gambar dalam postingan, biasanya kita gunakan ukuran gambar secara acak tanpa ada standar ukuran yang kita tentukan. Maka ketika artikel diakses lewat mobile, biasanya tampilan gambar ada yang mengalami beberapa masalah. Ada tampilan gambarnya kebesaran atau ada juga yang ukurannya melebihi lebar layar ponsel. Tampilan seperti itu pastinya akan mengganggu kenyamanan pembaca blog kita. Oleh karenanya, perlu bagi kita untuk mengatur tampilan gambar agar bisa menyesuaikan dengan lebar layar ponsel (mobile). Kita bisa gunakan cara manual, tapi pasti akan merepotkan jika harus merubah ukuran setiap gambar. Bisakah kita merubah ukuran setiap gambar yang telah kita posting agar sesuai dengan lebar ponsel secara otomatis?. Jawabannya bisa dan cukup mudah caranya. Anda bisa mengikuti tutorial berikut ini.

Cara berikut ini telah saya praktekan di blog ini (santossalam.blogspot.com). Cara ini juga bisa membuat gambar yang ukurannya kurang lebar atau bentuk portrait agar menjadi responsive menyesuaikan lebar layar. Adapun Langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Login ke akun blogger anda

2. Buka Dashboard pilih Template dan klik Edit HTML

3. Back-up terlebih dulu jika perlu untuk menghindari kesalahan pemasangan kode, setelah itu cari kode ]]></b:skin>

4. Letakkan kode berikut ini tepat diatas kode ]]></b:skin> dan kemudian klik simpan tema

.mobile .post-body img {width: 100%!important;height: auto!important;}


Keterangan: 

width: 100% adalah pengaturan agar gambar tampil sebesar 100% (menyesuaikan lebar layar atau teks halaman). Jika gambar terlalu kecil, maka otomatis gambar akan diperbesar sesuai lebar layar (100%), dan jika gambar kebesaran akan dikecilkan agar muat sesuai layar sebesar 100%. Anda juga bisa mengganti angka 100% sesuai dengan selera anda. Dengan penambahan ".mobile", script ini tidak akan bekerja pada tampilan web browser, melainkan hanya bekerja pada tampilan mobile. 

Sekian. Semoga bermanfaat.

Asal Usul Sejarah Gombong, Kebumen


Gombong adalah nama sebuah kota dan salah satu kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gombong sebagai kota bisnis juga merupakan kota terbesar kedua di kabupaten Kebumen setelah Kota Kebumen. Letak kecamatan Gombong berada di bagian barat wilayah Kabupaten Kebumen, dengan jarak 21 km dari kota Kebumen. Gombong merupakan suatu daerah yang terdiri dari pegunungan kapur yang membujur hungga pantai selatan. Di wilayahnya juga banyak dijumpai gua stalaktit dan stalakmit yang indah menawan.

Landskap Gombong, Kebumen
Lanskap kota Gombong, Kebumen

Asal Usul Gombong

Pada masa lalu, sekitar masa perang Diponegoro (1825-1830), wilayah Gombong belumlah ada. Keberadaan dan asal usul nama Gombong sendiri erat kaitannya dengan nama seorang tokoh asal wilayah Banyumas yang bernama Kyai Gombong Wijaya. Karena daerah tempat tinggalnya di Banyumas telah diduduki oleh Kompeni Belanda, maka Kyai Gombong Wijaya bersama pengikutnya menyingkirkan diri ke suatu daerah tak bertuan di sebelah barat Kemit. Beliau dan pengikutnya akhirnya membuka pemukiman dan menetap di daerah tersebut. 

Kyai Gombong Wijaya yang diangkat sebagai bekel atau Kepala Dukuh di tempat baru tersebut kemudian dikenal dengan nama Kyai Giyombong. Dari namanya ini pulalah tempat tersebut akhirnya diberi nama dukuh Giyombong. Lama kelamaan, dukuh Giyombong banyak disinggahi oleh para pendatang dan para pengungsi. Kebanyakan dari mereka berasal dari daerah-daerah yang sudah tidak aman lagi karena telah diduduki oleh kompeni atau Belanda. Di antara mereka ada yang tinggal sementara dan ada pula yang akhirnya menetap menjadi penduduk dukuh Giyombong.

Ketika pihak Belanda semakin terdesak atas perlawanan rakyat, dari Banyumas akhirnya Belanda mengambil siasat untuk mendirikan pertahanan di sebelah dukuh Giyombong yang mulai ramai oleh penduduk, dan belum banyak diketahui keberadaannya itu. Di daerah itu, Pihak Belanda berencana untuk mendirikan pertahanan berupa benteng yang nantinya akan dipakai sebagai benteng perlindungan bagi pasukannya yang terdesak dari pertempuran, yakni dari pertempuran di sekitar Banyumas dan Ngijo (sekarang Ijo). Untuk membangun benteng pertahanan itu, Belanda pun memaksa masyarakat dukuh Giyombong untuk kerja rodi atau kerja paksa mendirikan benteng. Benteng inilah yang nantinya diberi nama Benteng Van Der Wijck (Kini terkenal sebagai salah satu obyek wisata dari Gombong, Kebumen).

Benteng Van Der Wijck Gombong
Benteng Van Der Wijck Gombong via wonderfull kebumen

Melihat penduduknya setiap hari dipaksa kerja rodi tanpa upah, dari pagi hingga petang, Kyai Giyombong sebagai kepala dukuh merasa kasihan. Terlebih dengan adanya kerja rodi, rakyatnya juga menjadi tidak bisa menggarap sawah. Lebih miris lagi persediaan makanan pun diambil oleh Belanda, sehingga kelaparan pun terjadi disana-sini. Masyarakat Giyombong benar-benar dibuat menderita oleh kekejaman Kompeni Belanda. Melihat keadaan yang memilukan seperti itu, Kyai Giyombong pun mencoba mencari jalan keluarnya. 

Suatu ketika, Kyai Giyombong mendengar berita tentang kemenangan pasukan Mataram saat terjadi pertempuran dengan kompeni Belanda di daerah Ayah. Dengan kemenangan di pihak Mataram, timbul harapan bagi Kyai Giyombong untuk membantu warganya agar terbebas dari belenggu kekejaman Belanda. Kyai Giyombong pun kemudian menghadap pasukan Mataram yang bermarkas di bukit Indrakila. Kyai Giyombong meminta perlindungan kepada pihak Mataram agar membebaskan penduduknya dari penderitaan dan kelaparan akibat ulah Belanda. Permintaan beliau pun disetujui oleh pihak Mataram. Pasukan Mataram kemudian berpindah markas di daerah dapuran pring di sebelah selatan dukuh Giyombong.

Datangnya pasukan Mataram menyulut pertempuran sengit antara pihak Mataram dan Kompeni Belanda. Pertempuran membara pun terjadi siang dan malam di wilayah Giyombong. Kyai Giyombong juga menghimbau warganya yang sudah tidak kerja rodi lagi untuk bahu membahu membantu pihak Mataram melawan Belanda. Dengan semangat pantang menyerah, pasukan Mataram dengan dibantu warga Giyombong akhirnya berhasil membuat Belanda mundur ke benteng pertahanannya. Setelah wilayah Giyombong terbebas dari Kompeni Belanda, pasukan Mataram pun melanjutkan gerilyanya ke arah timur.

Untuk mengenang jasa Kyai Giyombong, dukuh yang semakin ramai itu kini menjadi ibukota kecamatan dan dikenal sebagai kota Gombong. Hingga kini, masyarakat Gombong masih mempercayai beberapa Piweling dari Kyai Giyombong. Di antara piwelingnya yaitu, "Eling-eling, mbesuk jaman rame, ing Giyombong (Gombong) ora bakal ana peperangan / rerusuhan maneh, nanging sing ana yaiku godane mung "main lan royal wadon". (Ingatlah, besok zaman (sudah) ramai, di Gombong tidak akan ada peperangan dan kerusuhan lagi, yang ada hanya godaan "main judi dan main perempuan"). Demikianlah Asal Usul Sejarah Gombong. Semoga bermanfaat.

Senin, 19 Agustus 2019

Cara Membuat Warna Address Bar Agar Mengikuti Warna Blog


Di antara anda sekalian pasti pernah mengunjungi sebuah website atau blog menggunakan smartphone dan tiba-tiba warna address bar browser anda berubah mengikuti warna dominan dari blog tersebut. Artinya jika warna dominan blog tersebut hitam, maka warna address bar pada browser juga menjadi hitam. Seperti pada blog ini (santossalam.blogspot.com), ketika anda mengunjungi blog ini, maka warna pada address bar berubah menjadi berwarna zaitun, padahal ketika kita membuka website atau blog lain lewat browser Chrome misalnya, biasanya address bar tetap berwarna putih standar. 

Address bar pada blog santossalam.blogspot.com
Address bar santossalam.blogspot.com

Pada awalnya saya juga heran, namun ternyata untuk membuatnya menjadi seperti itu caranya cukup mudah. Dan untuk warna juga sebenarnya tidak harus mengikuti warna dominan blog, kita juga bisa membuat warna lain pada address bar agar sesuai dengan keinginan kita. Untuk membuatnya, kita hanya perlu menambahkah beberapa kode ke dalam template blog kita. Jika tertarik membuatnya, anda bisa mengikuti tutorial berikut ini. 

Cara Membuat Warna Address Bar Agar Mengikuti Warna Blog

Berhubung mobile browser jenisnya bermacam-macam, seperti Chrome, Firefox, Safari iOS, Opera, dll, maka scriptnya juga berbeda-beda. 

Browser Chrome & Opera

Untuk mengubah warna address bar pada browser Chrome, tambahkan kode berikut ini pada template blog anda dan letakkan di bawah kode <head> kemudian klik simpan.

<meta name="theme-color" content="#808000">

Browser Windows Phone

Untuk mengubah warna address bar pada browser Windows Phone, anda bisa tambahkan kode berikut ini pada template blog anda dan sama seperti sebelumnya letakan di bawah kode <head> kemudian klik simpan

<meta name="msapplication-navbutton-color" content="#808000">

Browser Safari iOS

Untuk mengubah warna pada browser Safari IOS, salin dan pastekan kode di bawah ini pada template blog anda tepat di bawah kode <head> kemudian klik simpan

<meta name="apple-mobile-web-app-capable" content="yes"> <meta name="apple-mobile-web-app-status-bar-style" content="#808000">

Kode Untuk Semua Browser

Jika anda tidak ingin ribet dan ingin agar support semua browser, baik Google Chrome, browser Windows Phone maupun Safari iOS, maka anda bisa gunakan script kode berikut ini lalu letakan di bawah kode <head> dan klik simpan

<!-- Untuk Google Chrome, Firefox & Opera --> <meta name="theme-color" content="#808000"> <!-- Untuk Windows Phone --> <meta name="msapplication-navbutton-color" content="#808000"> <!-- Untuk Safari iOS --> <meta name="apple-mobile-web-app-capable" content="yes"> <meta name="apple-mobile-web-app-status-bar-style" content="#808000">

Keterangan: pada kode warna #808000 anda dapat menggantinya sesuai warna blog anda atau warna lain sesuai dengan keinginan. Jika kode-kode di atas tidak berfungsi atau error, biasanya pada blogspot, anda bisa menambahkan kode "/" di belakang setiap kode warna, sehingga misalnya menjadi "#808000"/>. Jika tetap gagal, anda bisa coba memparse terlebih dahulu kode-kode tersebut sebelum ditambahkan pada template blog anda. Pada platform wordpress, pemasangannya juga sama yaitu diletakan di bawah kode <head>

Demikianlah Cara Membuat Warna Address Bar Agar Mengikuti Warna Blog. Semoga bermanfaat.

Sejarah Asal Muasal Sarung dan Sarung Bagi Masyarakat Indonesia


Bagi masyarakat Indonesia, sarung telah menjadi bagian dari keseharian warga dan rakyat di pelosok-pelosok negeri ini. Meski sering diidentikan dengan pakaian kaum muslim, pada kenyataannya sarung juga banyak dipakai oleh umat agama lain atau pun juga dipakai oleh suku-suku adat yang ada di seantero negeri ini. Pemakaian sarung pun fleksibel, ia bisa dipakai untuk kegiatan keagamaan, upacara sakral atau pun juga bisa dipakai saat santai atau saat beraktivitas sehari-hari. Bahkan bagi kalangan santri yang sehari-harinya memakai sarung (kaum sarungan), ada ungkapan bahwa belum dianggap santri sejati jika belum dapat sarungan (memakai sarung) dengan benar. Selain itu, sarung juga dipakai oleh berbagai kalangan. Orang tua, anak-anak, remaja, dengan tidak mengenal ras maupun golongan, baik kaya maupun miskin, semua boleh mengenakan sarung.

Memakai sarung
via beritabojonegoro.com

Asal Muasal dan Sejarah Sarung

Menurut pengertiannya, sarung (sarong) adalah sepotong kain lebar yang dipakai untuk menutupi tubuh bagian bawah. Cara pemakaiannya yaitu dengan membebatkannya pada pinggang sehingga menutupi bagian bawah tubuh (pinggang ke bawah). Menurut catatan sejarah, busana sarung berasal dari tanah Arab, tepatnya yaitu Yaman. Di negeri Yaman sarung biasa disebut dengan futah. Ada pula yang menyebutnya izaar, wazaar atau ma'awis. Sedangkan masyarakat negara Oman biasa menyebut sarung dengan nama wizaar. Sementara warga Arab Saudi mengenalnya dengan nama izaar. 

Dalam Ensiklopedia Britanica disebutkan, sarung telah menjadi pakaian tradisonal bagi masyarakat Yaman. Sejak zaman dahulu, masyarakat tradisional Yaman diyakini telah memproduksi dan menggunakan sarung sebagai bagian dari tradisi mereka. Bahkan hingga kini, tradisi tersebut tetap melekat kuat dan masih tetap berjalan seiring bergantinya zaman. Bagi para pelancong yang mengunjungi Yaman, futah atau sarung Yaman juga bisa dijadikan sebagai salah satu oleh-oleh khas tradisional dari Yaman.

Pada awalnya, sarung digunakan oleh suku baduy yang tinggal di Yaman. Sarung dari Yaman ini dibuat dari kain putih yang dicelupkan ke dalam neel, yaitu bahan pewarna yang berwarna hitam. Sarung Yaman terdiri dari beberapa variasi, diantaranya yaitu model assafi, al-kada, dan annaqshah. Sebenarnya di dunia Arab, sarung bukanlah pakaian yang diidentikkan untuk melakukan kegiatan ibadah seperti shalat. Bahkan di Mesir, sarung dianggap tidak pantas dipakai ke masjid maupun untuk keperluan menghadiri acara-acara formal dan penting lainnya. Di Mesir, sarung berfungsi sebagai baju tidur yang hanya dipakai saat di kamar tidur.

Berawal dari tanah Arab, penggunaan sarung akhirnya meluas dan merambah ke negeri-negeri lain. Tidak hanya di Semenanjung Arab, pemakaian sarung juga telah mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa. Dalam buku "Islamic Technology: An Illustrated History", Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill mengungkapkan, "Tekstil merupakan industri pelopor di era Islam,". Pada masa itu itu, standar tekstil masyarakat Muslim di Semenanjung Arab sangat tinggi. Maka tidak heran jika industri tekstil di era Islam ini juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap dunia Barat.

Pemakaian Sarung Bagi Masyarakat Indonesia

Sarung diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-14. Seiring dengan penyebaran agama Islam di Nusantara, saat itu sarung dibawa oleh para saudagar dari Gujarat dan Arab. Mungkin karena inilah sehingga dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia akhirnya identik dengan kebudayaan Islam. Kain sarung juga bisa dibuat dari bermacam-macam bahan, seperti katun, poliester, atau sutera. Berbeda dengan tanah Arab, pemakaian sarung bagi masyarakat Indonesia justru menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi. Sarung biasa digunakan oleh masyarakat Muslim Indonesia saat menjalankan ibadah seperti shalat, baik di rumah atau pun di masjid. 

Bagi kaum pria, pemakaian sarung biasanya dipadukan dengan mengenakan atasan baju koko, begitu pula kaum wanita mengenakan atasan mukena dan bawahan sarung untuk shalat. Selain busana untuk beribadah, Penggunaan sarung sangat luas. Ia bisa dipakai untuk santai di rumah hingga pada penggunaan resmi seperti dalam ritual adat atau upacara pernikahan. Pada umumnya penggunaan kain sarung pada acara resmi terkait sebagai pelengkap baju daerah tertentu. 

Corak-corak sarung Indonesia
via sarungatlas.co.id

Ciri khas sarung Indonesia

Kain sarung produksi Indonesia tentunya berbeda dengan buatan dari negara lain. Sarung Indonesia terbuat dari kain tenun, songket, dan tapis. Masing-masing jenis bahan sarung tersebut juga berasal dari berbagai daerah yang berbeda di Indonesia. Sarung yang terbuat dari bahan tenun lebih dikenal berasal dari wilayah Indonesia Timur, seperti Nusa Tenggara Barat, Nusat Tenggara Timur, Sulawesi, dan Bali. Sedangkan sarung dari bahan songket sangat identik dengan ciri khas adat Minangkabau dan Palembang. Sementara sarung bahan tapis, bahan ini dikenal berasal dari daerah Lampung.

Tidak seperti sarung yang banyak beredar di pasaran, sarung tradisional memiliki corak tersendiri tergantung dari daerah mana ia berasal. Sarung yang terbuat dari tenun diciptakan paling sederhana. Corak sarung ini cenderung lebih bermain warna, dibanding motif yang 'ramai'. Sedangkan corak sarung dari bahan tapis dan songket, sekilas akan terlihat sama. Hanya saja, motif tapis biasanya memiliki unsur alam, seperti flora dan fauna. Sedangkan motif songket, terlihat lebih meriah dengan motif yang mengisi seluruh isi bahan. Kesamaan antara bahan tapis dan songket yaitu keduanya terbuat dari benang emas dan perak.

Sarung motif kotak-kotak
sarung motif kotak Bali dan umum

Sementara sarung bermotif kotak-kotak merupakan jenis sarung yang banyak beredar di pasaran. Selain harganya yang relatif lebih terjangkau, sarung jenis ini juga coraknya netral bisa dipakai siapa saja, suku mana pun, dan dipakai dalam suasana apapun. Meski begitu, motif sarung kotak-kotak juga memiliki nilai filosofis yang tidak sembarangan. Nilai filosofis motif sarung kotak-kotak bisa diartikan bahwa setiap melangkah baik ke kanan, kiri, atas ataupun bawah, semua akan ada konsekuensinya. Pada sarung bali, saat melihat gradasi bermotif papan catur pada sarung, artinya yaitu saat kita berada di titik putih, melangkah ke arah manapun, perbedaan akan menghadang, sedangkan cara amannya adalah melangkah secara gontai ke arah diagonal. Dampaknya, bukannya maju ke depan malahan menjauhi target. Jadi maknanya, orang yang berani menghadang cobaan adalah orang yang akan cepat menuai harapannya. 

Identitas Bangsa Saat Masa Perjuangan

Pada zaman penjajahan atau masa awal-awal kemerdekaan, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa oleh para penjajah. Pada zaman kolonial, para santri masa itu menggunakan sarung sebagai simbol perlawanan terhadap budaya Barat yang dibawa kaum penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung di mana kaum nasionalis abangan telah hampir meninggalkan sarung. Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang pejuang Muslim Nusantara yakni KH Abdul Wahab Chasbullah, seorang tokoh sentral di Nahdhatul Ulama (NU).

Mbah Wahab memakai sarung
via polhukam.id

Pada suatu ketika, KH. Abdul Wahab pernah diundang oleh Presiden Soekarno untuk menghadap ke istana. Protokol kepresidenan memintanya untuk berpakaian lengkap dengan memakai jas dan dasi. Namun, saat menghadiri upacara kenegaraan, ia datang menggunakan jas tetapi bawahannya sarung. Padahal biasanya pemakaian jas dilengkapi dengan celana panjang. Meski begitu, sebagai seorang pejuang yang sudah berkali-kali terjun langsung ke medan pertempuran, KH. Abdul Wahab tetap konsisten menggunakan sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Beliau ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya di hadapan bangsa lain.

Minggu, 18 Agustus 2019

Biografi Mbah Kholil Bangkalan, Madura


Jika sebelumnya telah diuraikan mengenai biografi Mbah Nawawi Banten dan Mbah Sholeh Darat Semarang, maka kurang afdhol jika tidak diuraikan pula mengenai biografi Mbah Kholil Bangkalan Madura. Ketiga tokoh tersebut di atas bisa dikatakan merupakan Tiga Serangkai Ulama yang berperan besar dalam perkembangan keilmuan islam di Indonesia, khususnya jawa. Ketiga tokoh tersebut juga merupakan Guru Besar yang melahirkan beberapa Ulama-Ulama ternama di bumi Nusantara.

Potret Mbah Kholil Bangkalan

Biografi Mbah Kholil Bangkalan

Mbah Kholil/ Syekh Kholil atau KH. Muhammad Kholil Bangkalan adalah seorang Ulama kharismatik yang berasal dari Pulau Madura. Banyak Ulama ternama Nusantara yang pernah berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan. Selain merupakan Ulama, masyarakat pesantren juga mengenal Mbah Kholil sebagai seorang Waliyullah yang memiliki banyak karomah. Banyak riwayat cerita yang berkisah mengenai kelebihan atau karamah dari Syekh Kholil. Kisah-kisah tersebut dituturkan dari lisan ke lisan dan berkembang di beberapa wilayah pesantren di pulau jawa. 

Mbah Kholil Bangkalan bernama lengkap Al-'Alim al-'Allamah asy-Syaikh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi'i. Beliau lahir pada hari Selasa 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M, di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, ujung Barat Pulau Madura, Jawa Timur, dan meninggal di Martajasah, Bangkalan tahun 1925 pada usia antara 104 – 105 tahun. 

Mbah Kholil lahir di lingkungan keluarga Ulama. Ayahnya, KH. Abdul Lathif, adalah seorang Kyai di kampungnya. Bahkan menurut garis keturunannya, jalur silsilah Mbah Kholil masih memiliki pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati, salah seorang anggota Walisongo. Ayah Mbah Kholil, KH. Abdul Lathif adalah putra dari Kiai Hamim bin Kiai Abdul Karim bin Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu dari Sunan Gunung Jati. Oleh karenanya KH. Abdul Lathif juga sangat berharap sembari berdoa agar putranya kelak menjadi pemimpin umat di kemudian hari. 

Pendidikannya

Awalnya Mbah Kholil dididik langsung oleh ayahnya, KH. Abdul Lathif. Ayahnya mendidik Mbah Kholil dengan sangat ketat. Begitu pula Mbah Kholil kecil juga bersemangat dalam menerima ilmu yang diajarkan kepadanya. Kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan Nahwu, membuat Mbah Kholil kecil mudah menyerap apa yang diajarkannya. Bahkan sejak usia muda, beliau telah hafal nadzam Alfiyah Ibnu Malik dengan baik. Melihat potensi yang dimiliki putranya, ayahnya kemudian mengirim Mbah Kholil kecil untuk menimba ilmu ke beberapa pesantren di daerah jawa timur.

Pada awal pengembaraannya, Mbah Kholil muda belajar kepada Kyai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Setelah belajar di Pesantren Langitan, beliau berpindah untuk belajar ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Dari Bangil, Pasuruan, beliau pindah kembali ke Pondok Pesantren Keboncandi. Mbah Kholil memang tergolong santri yang cerdas. Beliau mampu menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab) dengan baik. Disamping itu, beliau juga seorang Hafidz (penghafal) Al-Quran. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira'at Sab'ah (tujuh cara membaca Al-Quran). 

Sewaktu belajar di Pesantren Keboncandi, beliau juga belajar kepada Kyai Nur Hasan di Sidogiri, yang berjarak 7 kilometer dari Keboncandi. Meski jarak antara Keboncandi dan Sidogiri lumayan jauh, Mbah Kholil muda rela untuk menempuh perjalanan bolak-balik setiap harinya demi untuk mendapatkan ilmu. Konon beliau selalu membaca Surat Yasin dalam setiap perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri. Sebenarnya bisa saja Mbah Kholil  tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada Kyai Nur Hasan, apalagi Mbah Kholil juga sejatinya masih ada hubungan kerabat dengan Kyai Nur Hasan, namun beliau tidak melakukannya. Ternyata alasan beliau tetap tinggal di Keboncandi adalah agar beliau bisa nyambi menjadi buruh batik. Jadi selain belajar, beliau juga hidup mandiri dengan bekerja menjadi buruh batik. Dari hasil menjadi buruh batik itulah beliau memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Mbah Kholil muda memang tergolong pemuda yang mandiri. Beliau tidak mau menjadi beban yang merepotkan kedua orang tuanya. Bahkan saat beliau berkeinginan untuk melanjutkan pencarian ilmunya ke tanah Makkah, beliau juga berusaha sendiri untuk bisa mewujudkannya. Pada masa itu, dapat belajar ke Makkah memang merupakan cita-cita semua santri. Makkah saat itu merupakan pusatnya keilmuan Islam. Begitu pula dengan Mbah Kholil, beliau pun berencana untuk dapat ke Makkah. Maka dengan jiwa mandirinya, beliau pun memutar otak agar dapat belajar ke sana. 

Setelah menemukan jalan keluarnya, beliau akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi. Beliau mengetahui bahwa Pengasuh pesantren itu mempunyai kebun kelapa yang cukup luas. Maka selama belajar di Pesantren Banyuwangi ini, Mbah Kholil juga nyambi menjadi 'buruh' pemetik kelapa milik Kyainya. Konon untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen. Dari uang yang beliau hasilkan sebagai pemetik kelapa, beliau tabung untuk 'rencana besarnya'. Sedangkan untuk kebutuhan makan sehari-hari, beliau menyiasatinya dengan bertugas mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak bagi teman-temannya. Dari sanalah Mbah Kholil bisa mendapat makan gratis.

Saat berusia 24 tahun, Mbah Kholil menikah dengan Nyai Asyik, putri Lodra Putih. Meski begitu, beliau tetap tidak melupakan rencana belajarnya ke negeri Makkah. Maka setelah menikah, beliau segera mempersiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke Makkah. Dari hasil tabungannya selama menjadi buruh pemetik kelapa itulah, yang beliau gunakan untuk ongkos pelayaran. Pada masa itu untuk menuju Makkah, dilalui menggunakan kapal laut. Butuh berbulan-bulan untuk kapal sampai ke Makkah. Konon selama dalam perjalanan, Mbah Kholil lalui dengan berpuasa. Hal tersebut beliau lakukan bukan dalam rangka berhemat, namun semata-mata untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar perjalanannya diberi keselamatan.

Belajar di Makkah

Setelah sampai di Makkah, Mbah Kholil memulai kembali pengembaraannya dalam menuntut ilmu. Di Makkah, beliau belajar kepada Syaikh (Mbah) Nawawi Al Bantani (Guru Ulama Indonesia asal Banten). Selain berguru kepada Mbah Nawawi Banten, Mbah Kholil juga berguru kepada Ulama lain, diantaranya yaitu kepada Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syaikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syaikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa). Selain itu, Mbah Kholil juga belajar kepada para Ulama dari berbagai madzhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Meski begitu, beliau lebih cenderung untuk mengikuti Madzhab Syafi'i. Oleh karenanya, tidak heran jika kemudian beliau lebih banyak mengaji kepada para Ulama yang bermadzhab Syafi'i.

Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari di Makkah, konon Mbah Kholil seringkali makan kulit buah semangka ketimbang makanan lain yang lebih layak. Tampaknya apa yang beliau lakukan ini kemungkinan besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali, salah seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya. Sewaktu di Makkah, Mbah Kholil juga bekerja sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Dari hasil bekerja ini beliau mendapat upah yang dapat beliau gunakan untuk mencukupi kebutuhan beliau sehari-hari. 

Sewaktu belajar di Mekkah, Mbah Kholil seangkatan dengan KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Muhammad Dahlan. Meski demikian, ada kebiasaan bagi Ulama-Ulama masa itu yang memanggil guru kepada sesama rekannya. Maka di antara mereka, Mbah Kholil lah yang lebih dituakan dan dimuliakan di antara mereka. Diriwayatkan tiga tokoh Ulama asal Indonesia (Jawa) yakni Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Nawawi Mbanten dan Mbah Soleh Darat Semarang, ketiganya bersepakat untuk menyusun kaidah penulisan Huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu. Dari ketiga tokoh inilah konon aksara tulisan pegon tercipta dan kemudian banyak dipakai dalam pembelajaran pesantren-pesantren di Indonesia. 

Pulang ke Tanah Air

Setelah menghabiskan waktunya untuk belajar kepada para Ulama di Makkah, Mbah Kholil memutuskan untuk pulang dan menyebarkan ilmunya di tanah kelahirannya. Sepulangnya dari Makkah, Mbah Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqh dan Tarekat. Bahkan beliau dianggap sebagai salah seorang Ulama yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi. Selain itu, beliau juga dikenal ahli dalam ilmu alat (nahwu dan sharaf) dan seorang hafidz Al Qur'an. Pada akhirnya, Mbah Kholil mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya.

Dengan berdirinya pesantren, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya untuk belajar kepada beliau. Namun setelah putri beliau, Siti Khatimah, dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kyai Muntaha, pesantren di Cengkubuan itu pun kemudian diserahkan kepada menantunya itu. Mbah Kholil sendiri kemudian mendirikan pesantren lagi di daerah Demangan, pusat kota. Letak Pesantren yang baru itu, hanya selang 1 Kilometer dari Pesantren lama. Di pesantren yang baru ini, Mbah Kholil juga cepat medapatkan santri kembali. Bahkan santri-santrinya juga bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang, yakni Pulau Jawa. Hampir semua Ulama besar di Madura dan Jawa pada saat itu adalah murid dari Mbah Kholil. 

Mbah Kholil hidup pada masa penjajahan Belanda, maka beliau pun tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Meski tidak ikut melakukan perlawanan secara terbuka, Mbah Kholil turut berkontribusi dengan menggunakan caranya sendiri. Beliau senantiasa mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun bangsa. Meski berjuang di balik layar, beliau juga tidak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada para pejuang yang maju ke medan pertempuran. Mbah Kholil juga tidak keberatan kala pesantrennya dijadikan sebagai tempat persembunyian bagi para pejuang. 

Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Mbah Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi dengan ditangkapnya Mbah Kholil, justru membuat pusing pihak Belanda. Banyak kejadian-kejadian tidak biasa yang mereka alami, seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri. Di hari-hari berikutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Mbah Kholil, bahkan banyak yang meminta untuk ikut ditahan bersamanya. Dari kejadian-kejadian seperti itu maka pihak Belanda akhirnya merelakan Mbah Kholil untuk dibebaskan saja. Hal-hal tersebut membuktikan bahwa Mbah Kholil adalah seorang ulama yang benar-benar bertanggung jawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. 

Demikianlah riwayat hidup Simbah Syaikh Kholil Bangkalan, seorang Ulama besar Nusantara yang juga peduli akan nasib bangsanya. Selain dikenal sebagai ahli Fiqh, ilmu Alat (nahwu dan sharaf), dan ahli tarekat, di kalangan masyarakat pesantren beliau juga dikenal sebagai tokoh yang waskita, weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi) dan memiliki banyak karomah. Setelah banyak mendarma baktikan hidupnya bagi agama dan bangsa, Mbah Kholil wafat pada hari Kamis tanggal 29 Ramadhan 1343 H (1925 M). Jenazah beliau dishalatkan di Masjid Agung Bangkalan, dan kemudian dimakamkan di Pemakaman Martajasah, Bangkalan.

Murid-Muridnya

Banyak murid-murid Mbah Kholil yang mengikuti beliau dalam memperjuangkan agama dan bangsanya. Bahkan banyak di antara mereka yang berhasil mendirikan pesantren dan menjadi tokoh-tokoh berpengaruh bagi bangsa ini. Di antara murid-murid Mbah Kholil yaitu:

1. KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga merupakan sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional.

2. KH. Wahab Hasbullah, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. 

3. KHR. As'ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo.

4. KH. Bisri Syamsuri, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.

5. KH. Maksum, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren di Rembang, Jawa Tengah. 

6. KH. Bisri Mustofa, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren di Rembang. 

7. KH. Muhammad Siddiq, Pendiri dan Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.

8. KH. Muhammad Hasan Genggong, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. 

9. KH. Zaini Mun’im, Pendiri dan Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

10. KH. Abdullah Mubarok, Pendiri dan Pengasuh Pondok, kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.

11. KH. Asy’ari, Pendiri dan pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.

12. KH. Abi Sujak, Pendiri dan pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.

13. KH. Ali Wafa, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember.

14. KH. Toha, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.

15. KH. Mustofa, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan. 

16. KH Usmuni, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.

17. KH. Karimullah, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.

18. KH. Manaf Abdul Karim, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

19. KH. Munawwir, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

20. KH. Khozin, Pendiri dan pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.

21. KH. Abdul Fatah, Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung. 

22. KH. Sayyid Ali Bafaqih, Pendiri dan pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.

23. KH. Nawawi, Pendiri dan pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. 

24. KH. Zainudin, Nganjuk. 

25. KH. Maksum, Lasem. 

26. KH. Abdul Hadi, Lamongan.

27. KH. Zainul Abidin, Kraksan Probolinggo.

28. KH. Munajad, Kertosono. 

29. KH. Romli Tamim, Rejoso jombang. 

30. KH. Muhammad Anwar, Pacul Gowang, Jombang. 

31. KH. Abdul Madjid, Bata-bata, Pamekasan, Madura. 

32. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi. 

33. KH. Muhammad Thohir jamaluddin, Sumber Gayam, Madura.

34. KH. Zainur Rasyid, Kironggo, Bondowoso. 

35. KH. Hasan Mustofa, Garut Jawa Barat. 

36. KH. Raden Fakih Maskumambang, Gresik.