1. Pahami dan Sadari Pola Pikir Anda Saat Ini
2. Latih Kesadaran (Mindfulness)
3. Ganti Pikiran Negatif dengan Pikiran Positif
4. Fokus pada Hal yang Bisa Dikontrol
5. Bangun Kebiasaan Bersyukur
6. Kelilingi Diri dengan Pengaruh Positif
7. Tetapkan Tujuan dan Fokus pada Kemajuan
8. Jaga Kesehatan Fisik dan Mental
9. Belajar dari Kegagalan dan Tantangan
10. Konsistensi dan Kesabaran
Kesimpulan
Manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Sebagai individu, setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda antara satu dengan lainnya, mulai dari penampilan fisik, kemampuan, kebutuhan, sikap dan perasaan. Sedangkan sebagai makhluk sosial, manusia adalah makhluk hidup yang membutuhkan bantuan orang lain dalam hidupnya. Bahkan sejak lahir, seseorang sudah membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
![]() |
| ilustrasi via al-ibar.net |
Nasehat Syaikh Abdul Qadir Al Jailani Terkait Pergaulan Dalam Menjalani Hidup
Manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Sebagai individu, setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda antara satu dengan lainnya, mulai dari penampilan fisik, kemampuan, kebutuhan, sikap dan perasaan. Sedangkan sebagai makhluk sosial, manusia adalah makhluk hidup yang membutuhkan bantuan orang lain dalam hidupnya. Bahkan sejak lahir, seseorang sudah membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
![]() |
| ilustrasi via al-ibar.net |
Masyarakat modern seringkali diidentikkan dengan masyarakat yang berkemajuan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, rasional, mandiri, dan bebas. Asumsi kita selama ini hanya orang yang pendidikannya rendah dan tidak menguasai teknologi canggih serta berasal dari masyarakat lapis bawah saja yang selalu mempunyai masalah. Mulai dari masalah ekonomi, kesehatan, pendidikan, perumahan kumuh, dan mentalitas rendah.
Asumsi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar, karena masyarakat modern yang rasionalis, sekularis, materialis, dan menguasai teknologi canggih pun tidak semuanya mampu menghadirkan kenyamanan, kebahagiaan, kehangatan, dan ketenteraman dalam hidupnya. Bahkan ada kecenderungan, bahwa semakin modern kehidupan seseorang, maka tuntutan hidup juga akan semakin meningkat. Maka apabila seseorang tidak mampu mengendalikan kehidupannya, akan menimbulkan permasalahan baru bagi hidupnya, yakni kegelisahan spiritual dan kekeringan rohani serta tekanan kejiwaan.
Penyebabnya tidak lain karena kehidupan masyarakat modern lebih banyak dipenuhi oleh rutinitas fisik, pemikiran, dan persaingan hidup, sehingga tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk menyuburkan kehidupan batiniah, kehidupan sosial (silaturahmi) dan kebutuhan rohaninya. Berkaitan dengan hal ini, Baginda Besar Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya: “Kebaikan yang paling cepat pahalanya ialah berbakti dan mengokohkan silaturahmi (mengokohkan hubungan kekerabatan). Dan kejahatan yang paling cepat siksanya ialah kezaliman dan memutuskan hubungan kerabat.” (H.R. Ibnu Maiah).
Kezaliman dalam bentuk modern bisa berupa realisasi paham kapitalisme, illegal logging, korupsi, manipulasi, monopoli, dan sebagainya. Adapun bentuk pemutusan silaturahmi modern bisa berupa individualisme, egoisme, ataupun sikap mementingkan golongan atau kelompoknya. Masyarakat modern yang cenderung rasional, sekuler, dan materialistik telah menyebabkan hilangnya visi keilahian dan nilai-nilai kerohanian mereka, sehingga dengan mudah menimbulkan gejala-gejala psikologis, yakni adanya kehampaan spiritual.
![]() |
| ilustrasi via pixabay |
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta filsafat rasionalisme yang berkembang dalam kehidupan masyarakat modern tidak mampu memenuhi kebutuhan vital manusia, yakni kehangatan dan ketenangan rohaniah, yang semuanya itu hanya dapat diperoleh melalui wahyu Ilahi. Akibatnya, sekarang ini banyak dijumpai masyarakat yang mengalami stres karena adanya tekanan dan kelelahan psikologis. Mereka tidak lagi mempunyai pegangan dan sandaran hidup. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Naisbit dan Aburdene dalam bukunya yang sangat terkenal Megatrends 2000. Menurut mereka, ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju cepat di era modern sekarang ini, tidak memberikan makna tentang kehidupan.
Semula banyak orang terpesona melihat gemerlapnya modernisasi. Mereka beranggapan bahwa modernisasi akan membawa kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik. Ternyata ada sisi yang tidak terdeteksi yakni ada gejala the agony of modernization, yaitu azab dan sengsara karena modernisasi. Gejalanya adalah meningkatnya angka kriminalitas yang diikuti dengan tindak kekerasan, perkosaan, judi, penyalahgunaan obat/narkotika, kenakalan remaja, prostitusi, gangguan jiwa, dan gejala psikopat.
Abu al-Wafa al-Taftazani dalam The Role Sufisme mengklasifikasikan sebab-sebab kegelisahan masyarakat modern sebagai berikut:
- Perasaan takut akan kehilangan apa yang sudah dimiliki.
- Perasaan khawatir terhadap masa depan yang tidak disukainya.
- Perasaan kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan memenuhi kepuasan spiritual.
- Banyak melakukan pelanggaran dan dosa.
Lantas Apa Solusinya?
Kehidupan pada masa modern adalah kehidupan yang penuh tantangan dan godaan. Kehidupan yang serba permisif, serba boleh, serta tawaran hidup yang hedonis, konsumtif, dan serba instan, menyebabkan manusia mudah tergiur mengikuti tawaran-tawaran hidup yang serba mewah. Bagi yang tidak mampu mengendalikan diri dari jeratan keinginan menurutkan hawa nafsu duniawinya, maka ia akan semakin jauh dari ketenangan, kedamaian dan kesucian hidupnya.
Untungnya, ada sebagian masyarakat yang menyadari bahwa apabila manusia hanya mengejar kepuasan duniawi maka ada sesuatu yang lepas dari kehidupan kita, yakni ketenangan, kedamaian, jiwa welas asih, sifat kemanusiaan terhadap sesama sehingga menyebabkan jiwanya kering dan mudah retak atau stres karena tidak ada tempat untuk menyandarkan permasalahan hidup yang dihadapinya. Mereka mulai menyadari kebenaran dari firman Allah dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28:
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."
Ayat di atas menegaskan bahwa ketenangan dan kebahagiaan hakiki berada di dalam hati manusia, bukan pada jumlah kekayaan yang dimiliki atau tingginya jabatan yang disandangnya. Adapun mengenai pentingnya hati, Rasulullah SAW juga pernah bersabda:
"Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah anggota tubuh seluruhnya, dan apabila ia buruk, maka buruk pulalah anggota tubuh itu seluruhnya. Ingat, itulah hati." (H.R. Bukhari-Muslim)
Berzikir memang merupakan upaya untuk merasakan ketenangan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Inilah cara yang sudah semestinya dilakukan oleh manusia modern untuk membina hati mereka, membina rohani mereka agar mempunyai tempat bersandar dari kelelahan perjalanan hidup mereka.
Memang, ketika suatu masyarakat sudah terkena penyakit alienasi (keterasingan) karena adanya pengaruh dari proses pembangunan dan modernisasi, maka pada saat itulah manusia modern sebenarnya mulai membutuhkan pedoman hidup yang bersifat spiritual yang mendalam untuk menjaga integritas kepribadiannya. Hal ini penting agar mereka terbebas dari penyakit hati baik yang berupa kegelisahan, stres maupun kejahatan-kejahatan yang dimungkinkan muncul sebagai dampak dari kehidupan modern yang penuh dengan kompetisi.
Itulah gambaran dari kehidupan masyarakat modern dewasa ini. Ada kelebihan yang bisa dinikmati dari modernisasi tetapi juga ada celah kurang menguntungkan bagi kehidupan manusia, baik yang bersifat spiritual maupun yang bersifat moralitas. Mulai dari rasa hampa dan keringnya jiwa hingga tingkah laku yang melampaui batas kemanusiaan dan kesusilaan.
Masyarakat modern sangat membutuhkan sentuhan spiritual untuk menyejukkan dan menyirami hatinya yang telah kering dan beku, serta melabuhkan perasaan gundah dan gelisah. Ajaran agama menawarkan sebuah kegiatan yang dapat menghangatkan jiwa, menenteramkan hati dan menyejukkan rasa serta menghindarkan diri dari hawa nafsu dunia yang menyesatkan, sehingga akan melahirkan suatu kehidupan baru yang dihiasi dengan akhlakul karimah.
Dengan kembali memperdalam agama dari para Ulama dan kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan masyarakat modern dapat mewujudkan keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan batiniah, antara duniawi dan ukhrawi, sekaligus menekan tuntutan hidup duniawi yang berlebihan yang sering menyebabkan manusia lupa akan harkat dan martabatnya. Wallaahu A'lam
Santos el Salam Juni 14, 2023 Admin Bandung IndonesiaPeliknya Permasalahan Hidup Masyarakat Modern dan Solusinya
Masyarakat modern seringkali diidentikkan dengan masyarakat yang berkemajuan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, rasional, mandiri, dan bebas. Asumsi kita selama ini hanya orang yang pendidikannya rendah dan tidak menguasai teknologi canggih serta berasal dari masyarakat lapis bawah saja yang selalu mempunyai masalah. Mulai dari masalah ekonomi, kesehatan, pendidikan, perumahan kumuh, dan mentalitas rendah.
Asumsi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar, karena masyarakat modern yang rasionalis, sekularis, materialis, dan menguasai teknologi canggih pun tidak semuanya mampu menghadirkan kenyamanan, kebahagiaan, kehangatan, dan ketenteraman dalam hidupnya. Bahkan ada kecenderungan, bahwa semakin modern kehidupan seseorang, maka tuntutan hidup juga akan semakin meningkat. Maka apabila seseorang tidak mampu mengendalikan kehidupannya, akan menimbulkan permasalahan baru bagi hidupnya, yakni kegelisahan spiritual dan kekeringan rohani serta tekanan kejiwaan.
Penyebabnya tidak lain karena kehidupan masyarakat modern lebih banyak dipenuhi oleh rutinitas fisik, pemikiran, dan persaingan hidup, sehingga tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk menyuburkan kehidupan batiniah, kehidupan sosial (silaturahmi) dan kebutuhan rohaninya. Berkaitan dengan hal ini, Baginda Besar Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya: “Kebaikan yang paling cepat pahalanya ialah berbakti dan mengokohkan silaturahmi (mengokohkan hubungan kekerabatan). Dan kejahatan yang paling cepat siksanya ialah kezaliman dan memutuskan hubungan kerabat.” (H.R. Ibnu Maiah).
Kezaliman dalam bentuk modern bisa berupa realisasi paham kapitalisme, illegal logging, korupsi, manipulasi, monopoli, dan sebagainya. Adapun bentuk pemutusan silaturahmi modern bisa berupa individualisme, egoisme, ataupun sikap mementingkan golongan atau kelompoknya. Masyarakat modern yang cenderung rasional, sekuler, dan materialistik telah menyebabkan hilangnya visi keilahian dan nilai-nilai kerohanian mereka, sehingga dengan mudah menimbulkan gejala-gejala psikologis, yakni adanya kehampaan spiritual.
![]() |
| ilustrasi via pixabay |
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta filsafat rasionalisme yang berkembang dalam kehidupan masyarakat modern tidak mampu memenuhi kebutuhan vital manusia, yakni kehangatan dan ketenangan rohaniah, yang semuanya itu hanya dapat diperoleh melalui wahyu Ilahi. Akibatnya, sekarang ini banyak dijumpai masyarakat yang mengalami stres karena adanya tekanan dan kelelahan psikologis. Mereka tidak lagi mempunyai pegangan dan sandaran hidup. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Naisbit dan Aburdene dalam bukunya yang sangat terkenal Megatrends 2000. Menurut mereka, ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju cepat di era modern sekarang ini, tidak memberikan makna tentang kehidupan.
Semula banyak orang terpesona melihat gemerlapnya modernisasi. Mereka beranggapan bahwa modernisasi akan membawa kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik. Ternyata ada sisi yang tidak terdeteksi yakni ada gejala the agony of modernization, yaitu azab dan sengsara karena modernisasi. Gejalanya adalah meningkatnya angka kriminalitas yang diikuti dengan tindak kekerasan, perkosaan, judi, penyalahgunaan obat/narkotika, kenakalan remaja, prostitusi, gangguan jiwa, dan gejala psikopat.
Abu al-Wafa al-Taftazani dalam The Role Sufisme mengklasifikasikan sebab-sebab kegelisahan masyarakat modern sebagai berikut:
- Perasaan takut akan kehilangan apa yang sudah dimiliki.
- Perasaan khawatir terhadap masa depan yang tidak disukainya.
- Perasaan kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan memenuhi kepuasan spiritual.
- Banyak melakukan pelanggaran dan dosa.
Lantas Apa Solusinya?
Kehidupan pada masa modern adalah kehidupan yang penuh tantangan dan godaan. Kehidupan yang serba permisif, serba boleh, serta tawaran hidup yang hedonis, konsumtif, dan serba instan, menyebabkan manusia mudah tergiur mengikuti tawaran-tawaran hidup yang serba mewah. Bagi yang tidak mampu mengendalikan diri dari jeratan keinginan menurutkan hawa nafsu duniawinya, maka ia akan semakin jauh dari ketenangan, kedamaian dan kesucian hidupnya.
Untungnya, ada sebagian masyarakat yang menyadari bahwa apabila manusia hanya mengejar kepuasan duniawi maka ada sesuatu yang lepas dari kehidupan kita, yakni ketenangan, kedamaian, jiwa welas asih, sifat kemanusiaan terhadap sesama sehingga menyebabkan jiwanya kering dan mudah retak atau stres karena tidak ada tempat untuk menyandarkan permasalahan hidup yang dihadapinya. Mereka mulai menyadari kebenaran dari firman Allah dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28:
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."
Ayat di atas menegaskan bahwa ketenangan dan kebahagiaan hakiki berada di dalam hati manusia, bukan pada jumlah kekayaan yang dimiliki atau tingginya jabatan yang disandangnya. Adapun mengenai pentingnya hati, Rasulullah SAW juga pernah bersabda:
"Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah anggota tubuh seluruhnya, dan apabila ia buruk, maka buruk pulalah anggota tubuh itu seluruhnya. Ingat, itulah hati." (H.R. Bukhari-Muslim)
Berzikir memang merupakan upaya untuk merasakan ketenangan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Inilah cara yang sudah semestinya dilakukan oleh manusia modern untuk membina hati mereka, membina rohani mereka agar mempunyai tempat bersandar dari kelelahan perjalanan hidup mereka.
Memang, ketika suatu masyarakat sudah terkena penyakit alienasi (keterasingan) karena adanya pengaruh dari proses pembangunan dan modernisasi, maka pada saat itulah manusia modern sebenarnya mulai membutuhkan pedoman hidup yang bersifat spiritual yang mendalam untuk menjaga integritas kepribadiannya. Hal ini penting agar mereka terbebas dari penyakit hati baik yang berupa kegelisahan, stres maupun kejahatan-kejahatan yang dimungkinkan muncul sebagai dampak dari kehidupan modern yang penuh dengan kompetisi.
Itulah gambaran dari kehidupan masyarakat modern dewasa ini. Ada kelebihan yang bisa dinikmati dari modernisasi tetapi juga ada celah kurang menguntungkan bagi kehidupan manusia, baik yang bersifat spiritual maupun yang bersifat moralitas. Mulai dari rasa hampa dan keringnya jiwa hingga tingkah laku yang melampaui batas kemanusiaan dan kesusilaan.
Masyarakat modern sangat membutuhkan sentuhan spiritual untuk menyejukkan dan menyirami hatinya yang telah kering dan beku, serta melabuhkan perasaan gundah dan gelisah. Ajaran agama menawarkan sebuah kegiatan yang dapat menghangatkan jiwa, menenteramkan hati dan menyejukkan rasa serta menghindarkan diri dari hawa nafsu dunia yang menyesatkan, sehingga akan melahirkan suatu kehidupan baru yang dihiasi dengan akhlakul karimah.
Dengan kembali memperdalam agama dari para Ulama dan kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan masyarakat modern dapat mewujudkan keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan batiniah, antara duniawi dan ukhrawi, sekaligus menekan tuntutan hidup duniawi yang berlebihan yang sering menyebabkan manusia lupa akan harkat dan martabatnya. Wallaahu A'lam
![]() |
| ilustrasi |
Kesetiaan Karna
Pengorbanan Karna
![]() |
| ilustrasi |
Arti Kesetiaan dan Pengorbanan Karna
![]() |
| ilustrasi |
Kesetiaan Karna
Pengorbanan Karna
![]() |
| ilustrasi |
Sombong (Takabbur)
![]() |
| sekedar ilustrasi via depositphotos |
Berdusta (Bohong)
Berkhianat
Marilah Kita Jauhi Berperilaku Sombong, Berdusta, dan Berkhianat
Sombong (Takabbur)
![]() |
| sekedar ilustrasi via depositphotos |
Berdusta (Bohong)
Berkhianat
1. Waktu yang Kita Jalani Sangat Cepat Berlalu
2. Waktu yang Telah Berlalu Tidak Akan Pernah Kembali Lagi
3. Waktu Adalah Aset Yang Sangat Berharga
3 Tabiat Waktu Menurut DR. Yusuf Al Qardhawi dan Cara Memanfaatkan Waktu
1. Waktu yang Kita Jalani Sangat Cepat Berlalu
2. Waktu yang Telah Berlalu Tidak Akan Pernah Kembali Lagi
3. Waktu Adalah Aset Yang Sangat Berharga
| via pixabay |
Untaian Hikmah Kata-Kata Bijak Imam Hasan Al Bashri
Kata-Kata Bijak Imam Hasan Al Bashri Tentang Pentingnya Menghargai Waktu
| via pixabay |
Untaian Hikmah Kata-Kata Bijak Imam Hasan Al Bashri
Dalam tradisi masyarakat barat, waktu adalah uang. Sementara bagi bangsa Arab, waktu adalah pedang. Meski beda pengibaratan, kedua pepatah tersebut menunjukkan betapa berharganya waktu sehingga siapa pun kehilangan waktu, maka sungguh ia tak kan pernah mampu mendapatkannya kembali. Amat sayang jika ada waktu kita lalui tanpa bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
| via pixabay |
Hadits-Hadits Nabi Pilihan Terkait Pentingnya Menghargai Waktu
Dalam tradisi masyarakat barat, waktu adalah uang. Sementara bagi bangsa Arab, waktu adalah pedang. Meski beda pengibaratan, kedua pepatah tersebut menunjukkan betapa berharganya waktu sehingga siapa pun kehilangan waktu, maka sungguh ia tak kan pernah mampu mendapatkannya kembali. Amat sayang jika ada waktu kita lalui tanpa bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
| via pixabay |
Perubahan lingkungan sering kali berhubungan dengan meningkatnya populasi manusia dan kemajuan teknologi. Namun seiring dengan meningkatnya populasi manusia dan aktivitas industri, berbagai masalah lingkungan telah bermunculan. Salah satu yang cukup mencolok perhatian adalah permasalahan sampah atau limbah industri yang sering kali terabaikan dan berakibat pada kualitas lingkungan yang tidak sehat.
![]() |
| via pixabay |
Pemilahan Sampah
Baca juga: Mengelola dan Mengolah Sampah Barang Bekas
Daur Ulang Sampah
![]() |
| via pixabay |
Permasalahan Sampah dan Penanganannya Untuk Lingkungan Yang Sehat
Perubahan lingkungan sering kali berhubungan dengan meningkatnya populasi manusia dan kemajuan teknologi. Namun seiring dengan meningkatnya populasi manusia dan aktivitas industri, berbagai masalah lingkungan telah bermunculan. Salah satu yang cukup mencolok perhatian adalah permasalahan sampah atau limbah industri yang sering kali terabaikan dan berakibat pada kualitas lingkungan yang tidak sehat.
![]() |
| via pixabay |
Pemilahan Sampah
Baca juga: Mengelola dan Mengolah Sampah Barang Bekas
Daur Ulang Sampah
![]() |
| via pixabay |
![]() |
| ilustrasi via pixabay |
Kisah Fatimah dan Gilingan Gandum (Nasehat Nabi SAW Kepada Para Wanita/Istri)
![]() |
| ilustrasi via pixabay |
- Seorang sahabat Nabi bernama Ka'ab bin Ajzah RA pernah bercerita kepada Rasulullah bahwa dirinya bekerja pada seorang beragama Yahudi lalu memperoleh upah darinya. Nabi Muhammad SAW membolehkan perbuatan tersebut.
- Rasulullah SAW pernah memberikan hadiah kepada Raja Najasyi dan orang Yahudi, dan pernah pula menerima hadiah dari beberapa raja non-Muslim pada masa itu.
- Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabatnya sedang berkumpul, tiba-tiba lewatlah sekelompok orang mengusung jenazah. Ketika jenazah itu lewat, seraya Nabi SAW berdiri sebagai tanda hormat. Lalu ada seorang sahabat yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah itu mayat Yahudi?". Rasulullah SAW kemudian menjawab, "Bukankah itu nyawa juga?". "Ya", jawab orang itu. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, "Setiap nyawa menurut Islam harus dihormati dan mempunyai tempat".
- Abu Thalib adalah seorang paman dari Nabi Muhammad SAW yang mengasuh, merawat, dan melindungi beliau semenjak beliau berusia 8 tahun. Setelah Nabi diangkat menjadi Rasul, beliau mengajak pamannya tersebut agar masuk Islam. Tetapi ajakan Nabi tersebut tidak dipenuhinya hingga pamannya itu meninggalkan dunia tetap dalam kekafiran. Meskipun begitu, hubungan antara Nabi SAW dengan pamannya itu tetap terjalin baik. Rasulullah SAW tetap sayang dan hormat kepada Abu Thalib, pamannya. Sebaliknya, Abu Thalib pun juga tetap sayang dan melindungi Nabi SAW dari gangguan orang-orang kafir Quraisy.
Pentingnya Kerukunan dalam Kehidupan Bersama Umat Manusia
- Seorang sahabat Nabi bernama Ka'ab bin Ajzah RA pernah bercerita kepada Rasulullah bahwa dirinya bekerja pada seorang beragama Yahudi lalu memperoleh upah darinya. Nabi Muhammad SAW membolehkan perbuatan tersebut.
- Rasulullah SAW pernah memberikan hadiah kepada Raja Najasyi dan orang Yahudi, dan pernah pula menerima hadiah dari beberapa raja non-Muslim pada masa itu.
- Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabatnya sedang berkumpul, tiba-tiba lewatlah sekelompok orang mengusung jenazah. Ketika jenazah itu lewat, seraya Nabi SAW berdiri sebagai tanda hormat. Lalu ada seorang sahabat yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah itu mayat Yahudi?". Rasulullah SAW kemudian menjawab, "Bukankah itu nyawa juga?". "Ya", jawab orang itu. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, "Setiap nyawa menurut Islam harus dihormati dan mempunyai tempat".
- Abu Thalib adalah seorang paman dari Nabi Muhammad SAW yang mengasuh, merawat, dan melindungi beliau semenjak beliau berusia 8 tahun. Setelah Nabi diangkat menjadi Rasul, beliau mengajak pamannya tersebut agar masuk Islam. Tetapi ajakan Nabi tersebut tidak dipenuhinya hingga pamannya itu meninggalkan dunia tetap dalam kekafiran. Meskipun begitu, hubungan antara Nabi SAW dengan pamannya itu tetap terjalin baik. Rasulullah SAW tetap sayang dan hormat kepada Abu Thalib, pamannya. Sebaliknya, Abu Thalib pun juga tetap sayang dan melindungi Nabi SAW dari gangguan orang-orang kafir Quraisy.
![]() |
| ilustrasi via istockphoto |
Ghibah, Fitnah, dan Cara Kita Menyikapi Datangnya Suatu Berita
![]() |
| ilustrasi via istockphoto |
![]() |
| via radarsurabaya |
28 Oktober 1928 menjadi hari yang luar biasa bersejarah bagi bangsa Indonesia karena ketika itu para pemuda yang terdiri dari berbagai suku dan etnis bersatu untuk mengikrarkan Sumpah Pemuda. Namun dalam proses menjadi Indonesia, setidaknya ada tiga tahapan yang menjadi tonggak sejarah amat penting untuk diacu kembali guna menata kembali kerangka pikir kita sebagai bangsa yang kini sedang dalam kondisi krisis di segala bidang.
Selain peristiwa pada tanggal 28 Oktober yang diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda, 20 Mei 1908 menjadi tonggak awal sejarah perjuangan bangsa ini dimana pada masa itu berdiri sebuah organisasi kemasyarakatan berpaham kebangsaan (Budi Utomo) yang kemudian diikuti organisasi-organisasi lainnya. Puncaknya, 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan kepada dunia bahwa berbagai suku bangsa yang berikrar pada 1928 telah menjadi satu bangsa yang merdeka yakni bangsa Indonesia.
Dari ketiga peristiwa bersejarah ini, kita hendaknya bisa memahami bagaimana para pejuang dan pendiri bangsa ini telah berjuang sekuat tenaga dan pikiran demi terwujudnya satu wadah bersama dalam satu kesatuan yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di masa-masa krisis seperti ini, hendaknya kita berkaca kembali kepada peristiwa-peristiwa tersebut untuk merekatkan kembali masalah kesatuan bangsa yang kini cenderung retak.Ketiga peristiwa bersejarah tersebut menjadi gambaran nyata dari pancaran sinar keikhlasan masing-masing suku bangsa untuk bersepakat mengubah statusnya dari berbagai suku bangsa menjadi satu bangsa. Contoh betapa tingginya rasa ikhlas dan toleransi ini juga tercermin dari penggunaan bahasa daerah Melayu-Riau yang diterima oleh semua suku bangsa di negeri ini sebagai bahasa Nasional (bahasa persatuan) sebagaimana tercantum juga dalam ikrar sumpah pemuda.
Menurut data pada tahun 1930, jumlah pemakai bahasa suku bangsa pada saat itu menunjukkan bahwa pemakai bahasa Jawa merupakan jumlah yang paling tinggi (47,02%), bahasa Sunda sebanyak 14,53%, sementara bahasa Melayu hanya 4,97% dari jumlah penduduk Nusantara saat itu. Namun baik masyarakat Jawa, Sunda, Madura, Bali, Batak, Bugis, dan lain-lain, semuanya menerima dengan ikhlas dan sepakat untuk menjunjung tinggi bahasa Melayu-Riau sebagai bahasa Nasional yakni Bahasa Indonesia.
Namun sayangnya, rasa ikhlas sebagai bangsa yang satu kini semakin menipis. Hampir setiap aktivitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berlangsung dan diakhiri dengan tindakan yang mencerminkan tidak adanya keikhlasan apalagi toleran. Mengedepankan kepentingan masing-masing, kegiatan saling menuding, menyalahkan, menjatuhkan, menyerang, merusak, membakar, menyakiti, melukai, bahkan hingga menghilangkan nyawa orang kini seperti menjadi hal yang biasa.
Krisis yang terjadi seperti ini mencerminkan adanya pergeseran tentang apa hak dan kewajiban warga negara untuk hidup bersama dalam ikatan satu bangsa. Dewasa ini, sikap kita tidak lagi menjunjung prinsip hubungan bersanding, tetapi telah bergeser ke arah hubungan bertanding. Dalam prinsip bertanding, hubungan tercipta dalam posisi berlawanan dan bersaing sehingga masing-masing berusaha untuk mendapatkan kemenangan. Tampaknya seperti inilah yang kini sedang terjadi, dimana suasana pertandingan antar kelompok yang berkepentingan terjadi tidak hanya di lapisan atas, tetapi juga merebak ke segala lapisan masyarakat.
Dari momentum bersejarah di atas, marilah kita kembali sadar bahwa kita hidup di negeri yang indah ini sebagai satu bangsa yang hidup dalam hubungan bersanding, bukan bertanding. Masing-masing dari kita memang berbeda suku, beda etnis, beda organisasi, atau beda partai, namun kita hidup bersandingan dalam satu wadah yang sama. Bila dalam prinsip bertanding akan tercipta lawan atau musuh, maka dalam prinsip bersanding akan tercipta hubungan persaudaraan dalam kesejajaran untuk saling menghargai, menghormati, mengasihi, menyayangi dan saling menjaga demi keutuhan bangsa ini.
Disarikan dengan berbagai perubahan dan penambahan dari artikel dengan judul yang sama dalam rubrik Opini, Media Indonesia, 2006.
Hidup Bersanding, Bukan Bertanding
![]() |
| via radarsurabaya |
28 Oktober 1928 menjadi hari yang luar biasa bersejarah bagi bangsa Indonesia karena ketika itu para pemuda yang terdiri dari berbagai suku dan etnis bersatu untuk mengikrarkan Sumpah Pemuda. Namun dalam proses menjadi Indonesia, setidaknya ada tiga tahapan yang menjadi tonggak sejarah amat penting untuk diacu kembali guna menata kembali kerangka pikir kita sebagai bangsa yang kini sedang dalam kondisi krisis di segala bidang.
Selain peristiwa pada tanggal 28 Oktober yang diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda, 20 Mei 1908 menjadi tonggak awal sejarah perjuangan bangsa ini dimana pada masa itu berdiri sebuah organisasi kemasyarakatan berpaham kebangsaan (Budi Utomo) yang kemudian diikuti organisasi-organisasi lainnya. Puncaknya, 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan kepada dunia bahwa berbagai suku bangsa yang berikrar pada 1928 telah menjadi satu bangsa yang merdeka yakni bangsa Indonesia.
Dari ketiga peristiwa bersejarah ini, kita hendaknya bisa memahami bagaimana para pejuang dan pendiri bangsa ini telah berjuang sekuat tenaga dan pikiran demi terwujudnya satu wadah bersama dalam satu kesatuan yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di masa-masa krisis seperti ini, hendaknya kita berkaca kembali kepada peristiwa-peristiwa tersebut untuk merekatkan kembali masalah kesatuan bangsa yang kini cenderung retak.Ketiga peristiwa bersejarah tersebut menjadi gambaran nyata dari pancaran sinar keikhlasan masing-masing suku bangsa untuk bersepakat mengubah statusnya dari berbagai suku bangsa menjadi satu bangsa. Contoh betapa tingginya rasa ikhlas dan toleransi ini juga tercermin dari penggunaan bahasa daerah Melayu-Riau yang diterima oleh semua suku bangsa di negeri ini sebagai bahasa Nasional (bahasa persatuan) sebagaimana tercantum juga dalam ikrar sumpah pemuda.
Menurut data pada tahun 1930, jumlah pemakai bahasa suku bangsa pada saat itu menunjukkan bahwa pemakai bahasa Jawa merupakan jumlah yang paling tinggi (47,02%), bahasa Sunda sebanyak 14,53%, sementara bahasa Melayu hanya 4,97% dari jumlah penduduk Nusantara saat itu. Namun baik masyarakat Jawa, Sunda, Madura, Bali, Batak, Bugis, dan lain-lain, semuanya menerima dengan ikhlas dan sepakat untuk menjunjung tinggi bahasa Melayu-Riau sebagai bahasa Nasional yakni Bahasa Indonesia.
Namun sayangnya, rasa ikhlas sebagai bangsa yang satu kini semakin menipis. Hampir setiap aktivitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berlangsung dan diakhiri dengan tindakan yang mencerminkan tidak adanya keikhlasan apalagi toleran. Mengedepankan kepentingan masing-masing, kegiatan saling menuding, menyalahkan, menjatuhkan, menyerang, merusak, membakar, menyakiti, melukai, bahkan hingga menghilangkan nyawa orang kini seperti menjadi hal yang biasa.
Krisis yang terjadi seperti ini mencerminkan adanya pergeseran tentang apa hak dan kewajiban warga negara untuk hidup bersama dalam ikatan satu bangsa. Dewasa ini, sikap kita tidak lagi menjunjung prinsip hubungan bersanding, tetapi telah bergeser ke arah hubungan bertanding. Dalam prinsip bertanding, hubungan tercipta dalam posisi berlawanan dan bersaing sehingga masing-masing berusaha untuk mendapatkan kemenangan. Tampaknya seperti inilah yang kini sedang terjadi, dimana suasana pertandingan antar kelompok yang berkepentingan terjadi tidak hanya di lapisan atas, tetapi juga merebak ke segala lapisan masyarakat.
Dari momentum bersejarah di atas, marilah kita kembali sadar bahwa kita hidup di negeri yang indah ini sebagai satu bangsa yang hidup dalam hubungan bersanding, bukan bertanding. Masing-masing dari kita memang berbeda suku, beda etnis, beda organisasi, atau beda partai, namun kita hidup bersandingan dalam satu wadah yang sama. Bila dalam prinsip bertanding akan tercipta lawan atau musuh, maka dalam prinsip bersanding akan tercipta hubungan persaudaraan dalam kesejajaran untuk saling menghargai, menghormati, mengasihi, menyayangi dan saling menjaga demi keutuhan bangsa ini.
Disarikan dengan berbagai perubahan dan penambahan dari artikel dengan judul yang sama dalam rubrik Opini, Media Indonesia, 2006.
Berkurangnya kualitas iman seseorang memang sangatlah berbahaya. Iman yang tipis akan berdampak pada berkurangnya ketaatan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama. Dalam hal ini, memang ada hubungan timbal balik antara iman (aqidah), ibadah (syariah), dan akhlak (mu'amalah). Dari ketiganya ini, iman berada pada posisi dasar yang melahirkan ibadah dan akhlak. Sebaliknya, kualitas ibadah dan akhlak dapat juga berpengaruh kepada kualitas iman.
![]() |
| via pixabay |
Cara Merawat Iman (Analogi Bercocok Tanam)
Berkurangnya kualitas iman seseorang memang sangatlah berbahaya. Iman yang tipis akan berdampak pada berkurangnya ketaatan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama. Dalam hal ini, memang ada hubungan timbal balik antara iman (aqidah), ibadah (syariah), dan akhlak (mu'amalah). Dari ketiganya ini, iman berada pada posisi dasar yang melahirkan ibadah dan akhlak. Sebaliknya, kualitas ibadah dan akhlak dapat juga berpengaruh kepada kualitas iman.
![]() |
| via pixabay |

























