Pasar-Pasar Tradisional Unik dan Populer di Indonesia

Pasar-Pasar Tradisional Unik dan Populer di Indonesia

Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk bertransaksi guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meski kini banyak dijumpai pasar-pasar dengan konsep modern, pasar-pasar tradisional juga masih cukup eksis keberadaannya dimana seni tawar-menawar harga dapat dijumpai di pasar jenis ini. Barang-barang yang diperjual belikan juga relatif murah dan terjangkau sehingga cukup ramah di kantong rakyat menengah ke bawah. 

Pasar tradisional memang memiliki ciri khas tersendiri di banding pasar modern. Bahkan di beberapa daerah, pasar-pasar tradisional ini juga memiliki ciri khas dan keunikan yang berbeda dengan pasar-pasar pada umumnya. Berikut ini kami rangkumkan beberapa pasar tradisional unik dan populer di negeri ini. 

1. Pasar Terapung di Banjarmasin


pasar apung
via tribunnews.com

Pasar terapung adalah pasar tradisional yang berlokasi di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin. Pasar ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata kota Banjarmasin karena keunikan dan ciri khasnya. Keunikan pasar ini yaitu para pedagang menjual dagangannya di atas sampan sehingga para pembeli menggunakan perahu kecil untuk berbelanja. Yang dijual di pasar ini di antaranya yaitu aneka buah dan sayuran, atau ada juga kuliner khas Banjar seperti soto banjar dan nasi sop banjar. Jika anda hendak mengunjungi pasar ini, sebaiknya anda datang pagi-pagi sekali karena aktivitas pasar sudah mulai sepi sesaat setelah matahari terbit. 

2. Pasar Klithikan di Yogya dan Solo


pasar klithikan
via solopos.com

Bagi anda pecinta barang-barang antik atau benda kuno, pasar klithikan bisa menjadi referensi tempat untuk berburu benda antik atau barang-barang bekas yang masih berkualitas baik. Di pasar ini, kita bisa menjumpai aneka barang lama seperti radio, kamera, lampu antik, kaset, dan barang-barang kuno lainnya. Tidak hanya barang antik, pasar ini juga menyediakan barang-barang bekas seperti sparepart sepeda motor, perabot rumah tangga, alat elektronik, dan lain sebagainya. Barang baru juga ada di pasar ini. Di Jogja, pasar klithikan dapat anda temui di Jl. Hos Cokroaminoto No. 34, Pakuncen, Yogyakarta. Sedangkan di Solo, anda bisa mendatangi pasar pagi Klitikan Notoharjo, Semanggi, Pasar Kliwon, Solo. 

3. Pasar Bisu di Sumatra Barat


pasar bisu
via bensradio.com

Pasar bisu adalah pasar unik lainnya yang terletak di Tanah datar, Sumatera Barat. Di pasar yang hanya buka pada hari selasa saja ini, para pedagang dan pembelinya bertransaksi tanpa bersuara alias menggunakan bahasa isyarat. Mereka berkomunikasi hanya menggunakan jari-jari yang ditutupi sehelai kain untuk tawar-menawar harga. Tujuannya agar orang lain tidak mengetahui harga yang telah disepakati sehingga hanya menjadi rahasia antara penjual dan pembeli. Tradisi ini disebut dengan istilah "marosok" dan sudah berlangsung lama di daerah Tanah Datar. Yang dijual di pasar ini biasanya adalah aneka hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. 

4. Pasar 46 di Jambi


pasar 46
via theslametsetyabudi.wordpress.com

Di Jambi atau tepatnya di Jalan Baru Sijenjang, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, anda dapat menjumpai pasar unik lainnya yaitu pasar 46. Disebut pasar 46 karena pasar ini hanya dibuka pada jam 4 sore sampai dengan jam 6 sore. Durasi cukup singkat ini menjadi ciri khas dan keunikan dari pasar ini, sehingga anda yang hendak berkunjung ke pasar ini mesti menyesuaikan jadwal dan jamnya agar tidak ketinggalan merasakan sensasi berbelanja di pasar ini. Yang banyak dijual di pasar ini biasanya yaitu aneka jenis sayuran dan ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat. Harga-harganya juga cukup terjangkau sehingga sayang jika anda lewatkan ketika sedang berkunjung ke Jambi. 

5. Pasar Bolu di Toraja


pasar bolu
via hipwee.com

Bolu di sini bukan merupakan nama kue, melainkan nama pasar yang berada di Poros Rantepao – Palopo, Bolu, Toraja. Di pasar ini, kita bisa menjumpai kerbau-kerbau yang dijual dengan beragam ukuran, warna, ukuran tanduk, hingga warna mata. Bagi masyarakat Toraja, kerbau menjadi simbol status kesejahteraan, bahkan diyakini sebagai hewan tunggangan arwah menuju Nirwana, sehingga keberadaan pasar ini menjadi penunjang bagi warga Toraja untuk transaksi jual beli hewan ini. Kerbau paling mahal yang dijual di pasar ini adalah kerbau belang atau disebut Tedong Bonga. Pasar ini digelar setiap enam hari sekali.

6. Pasar Tomohon di Manado


pasar tomohon
via manadopost.id

Berbeda dengan kebanyakan pasar-pasar pada umumnya, pasar Tomohon di kota Manado ini menyuguhkan pemandangan ekstrem karena di sana banyak dijumpai daging hewan yang tidak lazim dikonsumsi oleh kebanyakan orang. Daging-daging hewan yang diperjual belikan di pasar ini di antaranya yaitu daging babi, anjing, kucing, ular pyton, kelelawar, hingga tikus. Bagi anda yang tidak siap mental, mungkin akan merasa mual atau jijik jika berkunjung ke pasar ini. Meski begitu, pasar unik nan ekstrem ini begitu populer tidak hanya di dalam negeri, bahkan hingga mancanegara. 

7. Pasar Kaget di Wamena


pasar kaget
via detik.com

Bergeser ke bagian timur wilayah Indonesia, kita akan menjumpai pasar unik lainnya yaitu pasar tradisional khas suku Dani yang berada di tengah – tengah hutan belantara di daerah Wamena Papua. Pasar ini merupakan tempat transaksi bagi masyarakat suku Dani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Disebut pasar kaget karena pasar ini dibuka secara dadakan sehingga banyak orang menyebutnya pasar kaget. Barang-barang yang diperjualbalikan di pasar ini juga terbilang unik dan jarang ditemui di tempat lain seperti misalnya tombak, koteka hingga kalung etnik khas suku Dani. 

Itulah di antara pasar-pasar tradisional unik dan populer di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Selengkapnya
Pemanfaatan Limbah Cangkang Telur Sebagai Obat Sakit Maag

Pemanfaatan Limbah Cangkang Telur Sebagai Obat Sakit Maag

Selama ini, cangkang telur biasanya hanya menjadi limbah atau sampah rumah tangga dari dapur yang berakhir di tempat pembuangan sampah. Kita memang umumnya hanya mengambil isi dalam telur sebagai bahan untuk membuat makanan sehingga cangkang telur biasanya akan dibuang karena tidak tahu apa manfaatnya bagian luar dari telur tersebut. 

cangkang telur
via pixabay

Kalaupun ada yang berusaha memanfaatkan bagian cangkang tersebut, biasanya cangkang telur dikumpulkan untuk dibuat menjadi pupuk alami yang dicampurkan dengan tanah untuk meningkatkan kesuburan tanah. Atau kadang ada juga yang mencoba untuk mengolah limbah cangkang telur ini menjadi beragam produk hiasan unik dan cantik. 

Namun tahukah anda jika selain dibuat pupuk atau hiasan, cangkang telur juga bisa dimanfaatkan dalam bidang kesehatan untuk diolah menjadi obat sakit maag. 

Sakit maag adalah gejala penyakit yang menyerang lambung dikarenakan luka atau infeksi pada lambung yang menyebabkan rasa sakit, mulas, dan perih pada perut. Penyebab sakit maag biasanya akibat kebiasaan makan banyak dan cepat, atau terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas dan berlemak. Pemanfaatan cangkang telur sebagai bahan obat untuk mengatasi sakit maag tentunya berkaitan dengan kandungan kalsium yang ada pada cangkang telur tersebut. 

Kandungan Kalsium Karbonat Pada Cangkang Telur


Pada tahun 2016 lalu, sejumlah mahasiswa dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta telah berhasil mengolah limbah cangkang telur dan membuatnya menjadi obat untuk mengatasi asam lambung atau sakit maag. Mahasiswa berjumlah 5 orang dari beragam fakultas di institusi pendidikan tersebut telah berhasil mengembangkan formula antasida atau penetral asam lambung berbahan cangkang telur melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) UGM.

Cangkang telur mengandung kalsium karbonat sebagaimana umum dijumpai pada batu kapur, pualam, cangkang organisme laut, siput, bola arang dan mutiara. Kalsium karbonat juga menjadi komponen utama cangkang telur, bahkan kandungannya terdapat dalam jumlah besar yaitu sebanyak 97 persen. Kandungan kalsium karbonat yang tinggi pada cangkang telur ini bisa digunakan sebagai antasida untuk pengobatan sakit maag. 

Dalam dunia farmasi, kalsium karbonat biasa digunakan sebagai antasida karena kemampuannya dalam menetralkan asam lambung. Oleh sebab itu, senyawa ini banyak dimanfaatkan untuk mengobati penyakit saluran cerna. Melihat besarnya kandungan kalsium karbonat dalam cangkang telur ini, kelima mahasiswa muda ini pun berusaha membuat antasida dari bahan cangkang telur tersebut.

Mereka melakukan penelitian secara intensif untuk menggali manfaat lebih lanjut pada limbah cangkang telur sebagai antasida. Menurut tahapannya, sebelumnya limbah cangkang telur mereka pisahkan dari kulit arinya. Setelah itu, cangkang telur kemudian diekstraksi untuk diambil kandungan kalsium karbonatnya. Selanjutnya, bahan tersebut dibuat menjadi serbuk dan kemudian dibuat ke dalam bentuk tablet.

Tablet Obat Sakit Maag dari Cangkang Telur


Pembuatan antasida dari limbah cangkang telur sebagai obat sakit maag ini dibuat dalam bentuk fast dissolve tablet (FDT). Tablet jenis ini didesain mudah dan cepat larut setelah melewati kerongkongan, sehingga mampu bereaksi dengan cepat untuk mengatasi asam lambung tanpa mengharuskan kontak asing dengan lidah. Di pasaran, kebanyakan antasida yang beredar umumnya berupa suspense, effervescent, atau tablet kunyah yang semuanya menimbulkan kontak asing dengan lidah. 

Jenis tablet biasa pada umumnya membutuhkan waktu relatif lebih lama untuk mengatasi sakit maag. Hal ini karena untuk menetralkan asam lambung, perlu proses mengunyah terlebih dulu untuk menunggu reaksinya. Namun dengan tablet obat maag dalam bentuk FDT berbahan cangkang telur ini, obat akan lebih cepat larut dan bereaksi tanpa harus proses mengunyah terlebih dahulu. 

Perlu diketahui bahwa dari hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa antasida yang terbuat dari limbah cangkang telur terbukti mampu menurunkan kadar asam lambung. Uji simulasi asam lambung menunjukkan bahwa tablet yang dibuat mampu menetralkan asam lambung dengan menaikkan pH asam menjadi basa hanya dalam waktu 6 menit. Keadaan basa akan terjaga selama lebih dari 30 menit sehingga menjaga penderita dari rasa sakit yang timbul jika terlalu banyak asam yang ada pada lambung.

Hasil Penelitian para mahasiswa ini tentunya menunjukkan adanya potensi limbah cangkang telur menjadi antasida sebagai alternatif dalam pengobatan sakit maag. Oleh karenanya, harapannya temuan ini semoga juga disusul dengan penelitian-penelitian lanjutan lainnya untuk mengetahui efektivitasnya pada manusia. Dan tentu saja, temuan ini juga nantinya membuat limbah cangkang telur yang jumlahnya cukup melimpah dapat termanfaatkan dengan baik. (Sumber

Selengkapnya
Mengenal Air Keras, Kegunaan dan Bahayanya

Mengenal Air Keras, Kegunaan dan Bahayanya

Apa yang terbayang di benak anda saat mendengar istilah air keras?. Beberapa waktu lalu pernah menghangat sebuah berita tentang seorang pegawai di suatu lembaga negara yang menjadi korban kekerasan karena disiram air keras oleh orang-orang jahat. Di sisi lain kita juga sering menjumpai, terutama di pasar, para pengepul emas yang juga menggunakan air keras untuk menguji keaslian atau pun kadar emas yang hendak dibelinya. Apa sebenarnya air keras itu?. Apa manfaat dan bahayanya? 

Air Keras

Mengutip wikipedia, Air keras atau kadang juga disebut dengan istilah air api adalah zat cair yang mudah menyala seperti asam nitrat. Sebutan air keras juga mengacu pada benda berupa larutan asam kuat yang cukup pekat, mudah terbakar, dan berbahaya jika mengenai tubuh manusia. Bila terkena kulit, maka akan timbul rasa nyeri yang bisa jadi akan membuat kulit mengalami luka bakar. 

air keras
ilustrasi

Air keras digolongkan ke dalam beberapa jenis, di antaranya yaitu asam sulfat atau H2SO4, asam klorida atau HCL, asam nitrat atau HNO3 dan asam fosfat H3PO4. Beberapa jenis air keras tersebut umumnya digunakan untuk keperluan industri, sehingga penggunaannya mesti betul hati-hati sesuai standar keselamatan yang diperlukan. 

Kegunaan Air Keras

Seperti telah disebutkan di atas, penggunaan air keras pada umumnya dimanfaatkan dalam bidang industri. Namun karena sifatnya yang merusak dan berpotensi membahayakan, penggunaan air keras mesti hati-hati agar terhindar dari kecelakaan saat bekerja. Oleh karenanya, para petugas di lab atau industri biasanya memakai banyak alat perlindungan saat menggunakan air keras untuk keperluan mereka. 

Asam sulfat masuk ke dalam kelompok 10 besar bahan kimia terpenting di dunia. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama dalam industri kimia. Di antara beberapa Kegunaannya yaitu untuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak. Selain itu, asam sulfat atau H2SO4 juga biasa digunakan dalam jumlah besar oleh industri besi dan baja untuk menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri otomobil. 

Asam klorida merupakan larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Penggunaan asam klorida harus ditangani dengan mewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif dan berbahaya. Dalam bidang industri, asam klorida biasa dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan plastik PVC, sebagai komponen dalam cairan pembersih porselen, untuk menghilangkan karat pada besi atau baja, dan lain sebagainya. 

Asam nitrat atau HNO3 merupakan larutan asam sangat kuat dan pelarut universal yang mampu melarutkan sebagian besar logam dan unsur-unsur kimia non logam. Larutan asam nitrat biasa digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan berbagai jenis pupuk nitrogen, pembuatan polyamides, dan bahan baku peledak. Asam nitrat juga biasa digunakan untuk menguji keaslian emas, passivasi stainless steel, dan sebagainya. 

Sementara asam fosfat adalah asam mineral (anorganik) yang memiliki rumus kimia H3PO4. Asam fosfat juga termasuk salah satu bahan kimia terpenting dalam bidang industri, dimana sebagian besar digunakan untuk pembuatan pupuk buatan. Dalam industri kimia, asam fosfat memiliki berbagai macam kegunaan, termasuk sebagai inhibitor karat, aditif makanan, etchant gigi dan ortopedik, elektrolit, fluks, pendispersi, etchant industri, bahan baku pupuk, komponen produk pembersih rumah, dan sebagainya.

Bahaya Air Keras

Masing-masing jenis air keras tersebut memang memiliki dampak berbeda ketika terkena tubuh, namun tidak jarang akan membuat bagian yang terkena menjadi rusak atau meninggalkan bekas luka permanen, sehingga pasien seringkali harus menanggung trauma fisik dan psikologis karena kecacatan.

Bahaya air keras terjadi jika cairan mengenai kulit, terhirup, tertelan, atau terkena mata. Pada kulit, cairan air keras dapat membuat jaringan kulit menjadi meleleh sehingga putihnya tulang akan terlihat. Bahkan terkadang kulit pun bisa hancur jika lukanya cukup dalam. Gejala yang terjadi jika terkena kulit yaitu luka bakar, gatal-gatal, kemerahan, peradangan, dan pembengkakan jaringan. 

Jika terkena mata, maka efeknya mata menjadi bengkak, nyeri, dan penglihatan kabur. Jika terpapar cukup banyak, dapat berakibat kerusakan permanen bahkan kebutaan. Sedangkan jika cairan ini sampai terhirup, bisa berakibat sangat toksik, bahkan kematian. Iritasi berat bisa terjadi pada hidung dan tenggorokan. Gejala yang terjadi yaitu berupa batuk, napas sesak, dan dada seperti tertekan.

Pertolongan Pertama Jika Terkena Air Keras

Cairan air keras memang sangat berbahaya, sehingga jika terkena kontak langsung dengannya, ada beberapa hal yang mesti dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas, di antaranya yaitu:

1. Basuh bagian tubuh yang terkena dengan air mengalir

Hal ini bertujuan untuk mengurangi bahan kimia yang masih ada di permukaan tubuh, sekaligus mengencerkannya. Anda bisa gunakan air mengalir dari air keran untuk membilas diri selama sekitar sepuluh menit. Jika kesulitan mencari air mengalir, anda juga bisa menggunakan air dari botol mineral untuk membasuh luka tersebut.

2. Tutupi bagian tubuh yang terkena air keras. 

Jika pasien jauh dari rumah sakit, lakukan penutupan pada bagian tubuh yang terkena air keras dengan menggunakan plastik tipis (plastik wrap), kasa steril ataupun kain bersih secara longgar (tidak terlalu rapat). Tujuannya untuk meminimalisir luka terkontaminasi dengan zat lainnya agar luka tidak semakin parah. Jika terkena bagian wajah, gunakan Vaseline petroleum jelly dan oleskan ke bagian luka untuk menjaga permukaan kulit dari terkontaminasi berlebihan. 

3. Segera bawa ke rumah sakit untuk ditangani

Setelah pemberian pertolongan pertama, segera pasien harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan luka bakar selanjutnya. Penanganan medis lebih lanjut dilakukan untuk melihat seberapa parah dampak dari air keras tersebut pada tubuh pasien. Penanganan yang tepat dapat mencegah kecacatan akibat kerusakan pada fungsi-fungsi tubuh yang terkena air keras tersebut. (diolah dari berbagai sumber). 

Selengkapnya
Mengenal Suku-Suku Yang Mendiami Pulau Jawa

Mengenal Suku-Suku Yang Mendiami Pulau Jawa

Pulau Jawa merupakan pulau terpadat di Indonesia dimana lebih dari 60 persen populasi penduduk Indonesia berada atau bermukim di pulau Jawa. Selama ini, kita mungkin lebih familier menyebut masyarakat penduduk pulau Jawa sebagai suku Jawa dan Suku Sunda (di bagian barat) yang memang mendominasi di pulau ini. Namun tahukah anda bahwa selain kedua suku tersebut, masih ada beberapa suku lain yang mendiami pulau Jawa dari ujung barat hingga ujung timur pulau ini. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut informasinya untuk anda. 

1. Suku Jawa 


Jawa
via tribunnews.com

Mayoritas penduduk pulau Jawa memang didominasi oleh suku Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur. Meski begitu, seiring penyebarannya keberadaan suku Jawa juga banyak dijumpai di wilayah luar pulau Jawa seperti pulau Sumatra, Kalimantan, dan bahkan negara lain seperti Suriname, Belanda, Malaysia, Kaledonia Baru, dan sebagainya. Suku Jawa terkenal akan kehalusan pribadi dan tutur katanya sehingga adab sopan-santun begitu dijaga bagi masyarakat Jawa. Selain itu, orang jawa juga dikenal akan kesederhanaan dan keramahannya sehingga mudah diterima di mana pun berada. 

2. Suku Sunda 


sunda
via tahukau.com

Selain suku Jawa, masyarakat Sunda (Urang sunda) yang banyak mendiami wilayah bagian barat Pulau Jawa juga dikenal memiliki sifat ramah, sopan dan bersahaja, meski bahasa dan budaya milik mereka berbeda dengan Suku Jawa. Suku etnis Sunda merupakan suku terbesar kedua di pulau Jawa yang sebagian besar berdomisili di tanah Tatar Pasundan meliputi wilayah Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan wilayah Jawa Tengah bagian barat (Banyumasan). Suku Sunda juga memiliki sub-etnis lain yakni suku Baduy atau Urang Kanekes (Baduy Luar dan Baduy Dalam) yang mendiami wilayah Kabupaten Lebak, Banten. 

3. Suku Betawi 


Betawi
via egindo.co

Beberapa kalangan menyebutkan bahwa Suku Betawi merupakan suku atau etnis hasil perkawinan silang antar lain etnis yang telah lama hidup di wilayah Jakarta seperti suku Jawa, Melayu, Sunda, Arab, Tionghoa, Bugis dan Makassar. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lance Castles juga mengungkapkan bahwa etnis Betawi secara biologis merupakan kaum berdarah campuran  atau keturunan campuran dari berbagai suku bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia (Jakarta) pada masa lalu. Suku Betawi memiliki ciri khas lewat dialek uniknya, tradisi, kesenian, dan sebagainya. 

4. Suku Samin 


Samin
via kompasiana.com

Masyarakat Suku Samin adalah keturunan dari para pengikut Samin Surosentiko, pencetus ajaran Samin atau disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme. Suku Samin banyak berdomisili di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur, atau tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan kedua wilayah provinsi tersebut. Suku samin juga biasa dikenal dengan istilah sedulur sikep, yaitu kelompok masyarakat yang berusaha menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Samin. Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu dan polos sehingga acap kali menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat Bojonegoro.

5. Suku Osing 


Osing
via banyuwangiwisata.com

Suku Osing atau juga disebut Laros Osing diyakini sebagai penduduk asli Banyuwangi yang telah mendiami wilayah ini sejak ratusan tahun lalu. Mereka juga kadang kala dipanggil dengan sebutan Wong Blambangan, mengacu pada Kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa yang berpusat di wilayah Banyuwangi (sekarang) atau ujung paling timur pulau Jawa. Dalam kesehariannya, masyarakat suku Osing bertutur kata menggunakan bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari bahasa Jawa Kuno dan mendapat pengaruh dari bahasa Bali. Meski masih memiliki kekerabatan dengan suku Jawa, suku Osing memiliki adat istiadat dan budaya berbeda dengan masyarakat Jawa. 

6. Suku Tengger 


tengger
via goodnewsfromindonesia.id

Suku Tengger/ wong Tengger atau wong Brama adalah masyarakat yang mendiami dataran tinggi sekitar kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, atau masuk wilayah Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo. Sebuah cerita rakyat mengatakan bahwa sebutan Tengger konon berasal dari gabungan nama leluhur suku Tengger, yakni Rara Anteng dan Jaka Seger. Suku Tengger memiliki kepercayaan, bahasa, serta kebudayaan yang unik dan kontras dengan masyarakat Jawa lainnya. Selain itu, suku Tengger juga terkenal akan salah satu upacara adatnya yang disebut Yadnya Kasada. Upacara ini biasa dilaksanakan pada tanggal 14 bulan Kasadha.

7. Suku Madura 


madura
via focusmadura.com

Suku Madura adalah masyarakat yang berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Mereka juga banyak dijumpai di bagian timur Jawa Timur atau biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Suku Madura dikenal sebagai suku yang gemar berpetualang sehingga tidak heran mereka banyak dijumpai di mana-mana dengan beragam profesinya. Masyarakat Madura juga dikenal memiliki bahasa dengan logat yang unik dan khas yakni pengulangan kata yang diambil dari suku kata terakhir sebelum diucapkan kembali. Selain itu, salah satu budaya paling terkenal dari Madura adalah Karapan Sapi dimana biasa diadakan setiap tahunnya antara bulan Agustus hingga November.

8. Suku Bawean 


bawean
via boombastis.com

Dikutip dari wikipedia, Suku Bawean atau juga disebut Boyan atau Babian adalah suku yang terbentuk dari percampuran antara orang bugis, makassar, banjar, madura dan jawa selama ratusan tahun lalu di pulau Bawean. Meski letak pulaunya sebenarnya terpisah dari pulau Jawa, secara administratif pulau Bawean masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Gresik (di sebelah utaranya). Suku Bawean juga dikenal gemar berpetualang sebagaimana suku Madura. Banyak di antara mereka yang merantau ke wilayah Malaka sejak ratusan tahun silam. Karena keragamannya, suku Bawean juga memiliki bahasa dan tradisi unik yang berbeda dengan suku lainnya. 

Itulah suku-suku yang mendiami wilayah di pulau Jawa dengan segala ciri khas dan keunikannya. Semoga dapat menambah pengetahuan kita akan keragaman negeri ini yang tiada duanya. Semoga bermanfaat.

Selengkapnya
Pedang-Pedang Legendaris Milik Rasulullah SAW

Pedang-Pedang Legendaris Milik Rasulullah SAW

Saat mendakwahkan Islam dan mempertahankan diri dari serangan kaum kafir, Rasulullah SAW juga seringkali turun langsung ke medan laga sebagai pemimpin pasukan perang. Dalam setiap peperangan yang dilaluinya, beliau juga bersenjatakan pedang sebagai alat pertahanan dan menghalau serangan musuh. Pedang adalah sejenis senjata tajam yang memiliki bilah panjang dan berujung runcing. Menurut beberapa catatan sejarah, Rasulullah SAW memiliki beberapa pedang legendaris yang menyertai sepak terjang beliau dalam menegakkan ajaran Islam.

pedang pedang Nabi

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa nama pedang milik Rasulullah SAW beserta info singkat mengenai pedang-pedang tersebut. 

1. Al-Ma'thur


Sebelum Nabi SAW menerima wahyu pertamanya saat masih di Makkah, Nabi memiliki pedang warisan dari ayahnya yang dikenal dengan nama Al Ma'thur. Sewaktu beliau hijrah ke Madinah, pedang ini juga ikut dibawa serta hingga nantinya pedang ini kemudian beliau berikan kepada Ali bin Abi Thalib RA. Pedang sepanjang 99 cm ini memiliki pegangan berlapiskan emerald dan perak dengan bentuk dua kepala ular, serta bertuliskan lafaz 'Abdullah bin Abd Al-Muthalib'. Kini pedang ini dapat dijumpai di Museum Topkapi, Turki. 

2. Zulfikar


Konon pedang bernama Zulfikar ini merupakan salah satu senjata terkuat di bumi dan memiliki kekuatan sebanding dengan kekuatan seribu prajurit. Rasulullah SAW mendapatkan pedang ini seusai kaum Muslimin meraih kemenangan dalam perang badar. Pedang ini memiliki tampilan yang unik dimana bentuknya melengkung dan pada bagian ujung pedangnya terbelah menjadi dua. Pedang ini kemudian Rasulullah berikan kepada Ali bin Abi Thalib dan selalu menyertai Ali dalam setiap pertempuran yang dilaluinya. 

3. Al Battar


Pedang sepanjang satu meter ini merupakan harta rampasan perang yang beliau dapatkan dari Bani Qaynaqa. Pedang ini juga dikenal dengan sebutan "pedang para Nabi" dimana terdapat tulisan nama para Nabi yang pernah menggunakan pedang ini dari mulai Nabi Daud As hingga Nabi Muhammad SAW. Pada bagian pedang ini juga terdapat gambar Nabi Daud ketika memotong kepala Goliat, pemilik pedang ini sebelumnya. Beberapa kalangan mempercayai bahwa pedang ini akan kembali digunakan oleh Nabi Isa As untuk mengalahkan Dajjal menjelang hari kiamat nanti. 

4. Al-Adb


Secara harfiah, pedang legendaris milik Rasulullah SAW bernama Al-Adb ini berarti memotong atau tajam. Pedang ini merupakan kiriman dari salah seorang sahabat beliau sebelum terjadinya perang Badar. Namun pedang ini baru beliau gunakan saat terjadinya perang Uhud pada tahun 3 H (625 M). Para pengikut dan sahabat Rasulullah SAW juga menggunakan pedang ini sebagai tanda kesetiaan mereka terhadap beliau. Kini, pedang Al-Adb ini bisa dijumpai keberadaannya di Masjid Husain, Kairo, Mesir.

5. Al Mikhdam


Sebuah riwayat mengatakan bahwa pedang ini merupakan pemberian Nabi Muhammad kepada Ali bin Abu Thalib dan kemudian diwariskan secara turun temurun kepada anak-anaknya. Namun ada juga yang mengatakan bahwa pedang ini merupakan salah satu hasil rampasan perang yang didapat Ali bin Abi Thalib saat beliau memimpin perang di Suriah. Pedang ini memiliki ukuran panjang 97 cm dan terdapat ukiran bertuliskan Arab yang berbunyi Zayn al-Din al-Abidin. Kini keberadaan pedang ini dapat dijumpai di Museum Topkapi, Istanbul, Turki. 

6. Hatf


Selain pedang al Battar, pedang Hatf juga merupakan pedang milik Rasulullah SAW yang berasal dari harta rampasan perang Bani Qaynaqa. Bentuk pedang ini juga menyerupai pedang al Battar dengan ukuran lebih besar. Pedang ini memiliki panjang 112 cm dan lebar 8 cm. Pedang yang awalnya milik Nabi Daud As ini dahulunya diwariskan secara turun temurun kepada suku Lewi, dan senjata milik bani Israel ini terus digunakan hingga akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Saat ini, pedang hatf ini masih tersimpan di museum Topkapi, Istanbul, Turki.

7. Al-Qadib


Pedang ini memiliki bilah tipis sehingga bentuknya menyerupai sebuah tongkat. Kabarnya pedang ini biasa Rasulullah SAW bawa sebagai pertahanan saat bepergian, dan tidak digunakan untuk peperangan. Pedang ini berukuran panjang 100 cm dan memiliki sarung dari kulit hewan yang dicelup. Pada sisi pedang yang terbuat dari perak juga terdapat lafadz bertuliskan "Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah-Muhammad bin Abdallah bin Abdul Muththalib". Kini pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul, Turki. 

8.  Al Rasub


Pedang Al Rasub merupakan pedang wasiat milik keluarga Nabi yang disimpan dan dijaga oleh keluarga beliau seperti halnya Tabut milik bangsa Israel. Pedang berbentuk blade ini memiliki panjang 140 cm, terdapat lingkaran emas di salah satu bagiannya dan bertuliskan nama "Jafar al Sadiq (seorang ulama besar keturunan Ahli Bait)". Pedang ini saat ini disimpan di museum Topkapi, Istanbul, Turki. 

9. Qal'i


Pedang ini merupakan salah satu dari tiga pedang milik Nabi yang berasal dari harta rampasan perang Bani Qaynuqa. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa nama pedang ini merujuk pada timah atau timah putih yang ditambang dari beberapa lokasi berbeda. Pedang ini mempunyai desain unik berbentuk gelombang, berukuran panjang sekitar 100 cm, dan terdapat ukiran bertuliskan lafadz arab yang artinya "Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah". Saat ini, pedang Qal'i tersimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki.

Itulah daftar pedang-pedang kepunyaan Rasulullah SAW yang pernah menemani perjalanan dan perjuangan Nabi dalam berjuang mendakwahkan Islam ke berbagai tempat. Semoga bermanfaat.
 
Selengkapnya
Kitab-Kitab Kuno (Sastra Sejarah) dari Masa Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

Kitab-Kitab Kuno (Sastra Sejarah) dari Masa Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

Pada masa berdirinya kerajaan-kerajaan besar bercorak Hindu-Budha di tanah Nusantara ini, bidang kesusastraan juga mengalami kemajuan yang cukup pesat. Para pujangga pada masa itu telah berhasil menulis sejumlah kitab-kitab sastra tingkat tinggi yang keberadaannya dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk menyingkap suatu peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lampau. Berkembangnya kesusastraan Nusantara pada masa Hindu Budha secara umum dapat dibagi ke dalam beberapa periode, yaitu:

  1. Zaman Mataram lama (sekitar abad ke 9 dan 10)
  2. Zaman Kediri (sekitar abad ke 11 dan 12)
  3. Zaman Majapahit I (sekitar abad ke 14)
  4. Zaman Majapahit II (sekitar abad ke 15 dan 16), sebagian kesusastraan pada masa ini berkembang di Bali (zaman Kerajaan Samprangan Gelgel). 

Hasil-hasil kesusastraan pada masa-masa tersebut di atas pada umumnya ditulis dalam bentuk gancaran (prosa) dan tembang (syair). Namun sebagian besar berbentuk tembang. Tembang Jawa Kuno biasanya disebut dengan Kakawin, sedangkan tembang Jawa Tengahan disebut Kidung. 

Ditinjau dari segi isinya, kitab-kuno hasil karya sastra pada masa Hindu-Budha tersebut dapat dibagi menjadi sebagai berikut:

  • Tutur atau kitab keagamaan, seperti Sang Hyang Kamahanikam yang disusun pada masa pemerintahan Empu Sindok (Mataram lama).
  • Kitab Hukum, termasuk di dalamnya kitab-kitab sasana yang berisi peraturan-peraturan untuk golongan masyarakat tertentu. Misalnya Resisasana yang menguraikan kedudukan dan hak-hak serta kewajiban para resi. 
  • Wiracarita atau cerita kepahlawanan, seperti Ramayana dan Mahabharata. 
  • Kitab Sejarah, seperti Nagarakertagama dari zaman Majapahit. 

kitab sastra kuno
naskah lontar Negarakertagama via wikipedia

Kemungkinan ada banyak hasil-hasil kesusastraan lama yang ditulis pada masa berkembangnya Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha di negeri ini. Namun pada saat Islam kemudian dianut oleh masyarakat Jawa, kitab-kitab sastra tersebut kurang mendapat perhatian sehingga naskah-naskah yang banyak ditulis di atas daun lontar tersebut tidak bertahan lama. Meski begitu, ada beberapa kitab-kitab sastra lama dari masa Hindu Budha yang masih bisa diketahui sampai sekarang. Berikut di antaranya:

1. Sang Hyang Kamahayanikam


Kitab ini disusun dalam bentuk prosa antara tahun 929-947 Masehi oleh Mpu Shri Sambhara Surya Warama pada masa kekuasaan Empu Sindok dari kerajaan Mataram kuno. Kitab ini menjelaskan tentang ajaran Buddha aliran Tantrayana. Kitab ini juga berisi mantra-mantra dan diagram serta mudra dalam posisi sentral sebagai bentuk formula rahasia yang bersifat mistis.

2. Arjuna Wiwaha


Kitab sastra ini ditulis oleh Empu Kanwa pada masa pemerintahan Prabu Airlangga, yang memerintah di Jawa Timur dari tahun1019 sampai dengan 1042 Masehi. Kitab ini menceritakan tentang perjuangan Sang Arjuna yang penuh tantangan dan ujian hingga kisah cintanya dengan Dewi Supraba. kitab ini juga menguraikan serangkaian pedoman atau pegangan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. 

3. Bharatayudha


Kitab sastra berbentuk kakawin ini digubah oleh dua orang yaitu Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada masa pemerintahan Raja Jayabaya (Kediri). Kitab ini menceritakan peperangan antara kaum Kurawa dan Pandawa atau biasa disebut peperangan Bharatayuddha. Kitab ini juga merupakan simbolisme dari perang saudara yang terjadi antara Kerajaan Kediri/ Panjalu dan Kerajaan Jenggala.

4. Negarakertagama


Kitab ini ditulis dalam bentuk kakawin (syair) Jawa Kuna oleh Empu Prapanca pada tahun 1365. Kitab ini menguraikan keadaan keraton Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (raja keempat Majapahit yang memerintah pada tahun 1350-1389), daerah kekuasaannya, kondisi keagamaan, dan sebagainya. Kitab ini mempunyai peran besar bagi penulisan sejarah Indonesia, dimana isinya banyak yang bersesuaian dengan sumber-sumber prasasti. 

5. Sutasoma 


Kitab ini ditulis oleh Empu Tantular pada abad ke 14. Isinya menceritakan tentang Sutasoma, seorang putra raja yang keluar dari istana dan memutuskan untuk menjadi seorang pendeta Budha. Isi kitab ini juga mengajarkan tentang toleransi antar umat beragama pada masa itu, terutama antar agama Hindu - Siwa dan Buddha. Selain itu, dalam kitab ini juga terdapat ungkapan "Bhineka Tunggal Ika" yang kini dijadikan sebagai motto dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

6. Pararaton


Diperkirakan kitab ini berasal dari tradisi lisan sehingga tidak ditemukan nama pengarangnya. Meski berbau dongeng yang penuh dengan kegaiban, kitab ini dimaksudkan sebagai karya sejarah, menguraikan tentang tokoh Ken Arok beserta raja-raja Singasari lainnya, kisah tentang Raden Wijaya semenjak menjadi menantu Kertanegara (Raja Singasari terakhir) sampai menjadi raja Majapahit, dan lain sebagainya. Kitab ini juga menguraikan informasi mengenai silsilah anggota keluarga kerajaan Majapahit.

7. Sundayana


Kitab ini menceritakan nasib Raja Sunda, Sri Baduga Maharaja yang datang ke Majapahit untuk mengantarkan puterinya, Dyah Pitaloka untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Akan tetapi di Bubat terjadi perselisihan dengan Gajah Mada sehingga terjadi pertumpahan darah (perang Bubat) dimana rombongan Raja Sunda ini terbunuh. 

8. Panji Wijayakrama 


Kitab ini menceritakan tentang riwayat Raden Wijaya sampai ia menjadi Raja di Majapahit. 

9. Ranggalawe


Mengisahkan tentang pemberontakan Ranggalawe dari Tuban terhadap Raja Jayanegara. 

10. Sorandaka


Mengisahkan tentang pemberontakan Sora terhadap Raja Jayanegara. 

11. Pamancangah


Mengisahkan para Dewa Agung dari Kerajaan Gelgel (Bali). 

12. Usana Jawa


Menceritakan penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar. Diceritakan pula tentang penumpasan raja raksasa Maya Danawa dan pemindahan keraton Majapahit ke Gelgel. 

Selengkapnya
Mengenal Akad Muzara'ah, Mukhabarah, dan Musaqah

Mengenal Akad Muzara'ah, Mukhabarah, dan Musaqah

Sebagai negara Agraris, sebagian besar penduduk negeri ini memang bekerja di sektor pertanian baik itu berupa lahan persawahan, ladang, atau perkebunan yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan juga meningkatkan taraf perekonomian. Namun sayangnya karena kekurangan modal atau kendala lainnya, banyak dijumpai para petani tidak dapat mengolah lahan yang ada sehingga lahan menjadi terbengkalai dan tidak termanfaatkan. 

tandur di sawah

Agar hal itu bisa diminimalisir dengan baik, Islam telah mengatur berkaitan dengan pemanfaatan lahan-lahan pertanian tersebut agar dapat menghasilkan dan juga bermanfaat bagi orang lain. Para pemilik tanah dapat memanfaatkan tanah-tanah pertanian yang mereka miliki dengan berbagai cara di antaranya sebagai berikut:

  • Tanah pertanian tersebut ditanami sendiri, dan hasilnya selain untuk kepentingan mereka dan keluarganya juga untuk disedekahkan kepada fakir miskin atau makanan hewan ternak. 
  • Para pemilik lahan yang tidak dapat menanami sendiri tanah pertanian miliknya hendaknya dengan ikhlas meminjamkan tanah pertaniannya itu kepada orang-orang yang bersedia menanaminya atau menggarapnya (diutamakan para fakir miskin). Sedangkan seluruh hasil garapan tanah sepenuhnya diserahkan kepada pihak penggarap. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya salah seorang di antara kamu yang memberikan tanahnya kepada kawannya atau saudaranya (untuk digarap), lebih baik daripada dia mengambil atas tanahnya itu hasil yang ditentukan". (HR. Bukhari) 
  • Para pemilik tanah yang tidak dapat menanami sendiri tanah pertanian miliknya, maka boleh saja ia melakukan usaha bersama dengan para penggarap tanah melalui akad muzaraah, mukhabarah, dan musaqah. 

Muzara'ah dan Mukhabarah


Muzaraah adalah paruhan hasil sawah atau ladang antara pemilik dan penggarap, sedangkan benihnya berasal dari pemilik. Jika benihnya berasal dari penggarap, maka disebut mukhabarah. Jadi dapat dipahami bahwa perbedaan keduanya ialah pada modal, jika modal berasal dari penggarap disebut mukhabarah, sedangkan jika modal dikeluarkan oleh pemilik tanah maka disebut muzara'ah. (selengkapnya lihat Kifayatul Akhyar jilid I, hal. 253, Dar al Fikr). 

Muzaraah dan Mukhabarah merupakan kerja sama di bidang pertanian yang dibolehkan Islam, dan sesuai dengan ketentuan syara' dan dalam pelaksanaannya tidak ada unsur kecurangan dan pemaksaan. Adapun ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam muzaraah dan mukhabarah adalah sebagai berikut:

  • Pemilik dan penggarap harus sudah baligh (dewasa), berakal sehat, bersikap jujur, dan amanah. 
  • Sawah atau ladang yang digarap betul-betul milik orang yang menyerahkan sawah (ladang)nya untuk digarap. 
  • Hendaknya ditentukan lamanya masa penggarapan. Misalnya, satu  tahun atau dua tahun, dua kali masa panen, atau empat kali masa panen. 
  • Besarnya paruhan hasil sawah (ladang) untuk pemilik dan penggarap ditentukan berdasarkan musyawarah antara keduanya yang diliputi oleh rasa kekeluargaan dan keadilan. 
  • Pemilik dan penggarap hendaknya menaati ketentuan-ketentuan yang telah mereka sepakati bersama. 

Musaqah


Musaqah adalah paruhan hasil kebun antara pemilik dan penggarap, yang besar bagian masing-masingnya sesuai dengan perjanjian pada waktu akad. Musaqah pernah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya sebagaimana tercantum dalam hadits berikut:

عن ابن عمر ان النبى صلى الله عليه وسلم عامل اهل خيبر بشرط ما يخرج منها من ثمر او زرع - رواه مسلم

"Dari Ibnu Umar RA, Sesungguhnya Nabi SAW telah menyerahkan kebun miliknya kepada penduduk Khaibar agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian mereka akan diberi sebagian dari hasilnya baik dari buah-buahan atau hasil tanaman (palawija)". (HR. Muslim) 

Musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzara'ah, dimana pihak penggarap hanya bertanggungjawab atas penyiraman dan pemeliharaan tanaman, dan sebagai imbalan, pihak penggarap kemudian berhak atas bagian tertentu dari hasil panen. Adapun mengenai ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam musaqah hampir sama dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku pada akad muzara'ah maupun mukhabarah. 

Manfaat-manfaat dari akad muzaraah, mukhabarah, dan musaqah sangat banyak, antara lain sebagai berikut:

  • Mewujudkan persaudaraan dan tolong menolong khususnya antara pemilik tanah pertanian dan penggarap. 
  • Mengurangi dan menghilangkan pengangguran menuju terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. 
  • Memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah pertanian. 
  • Usaha pencegahan terhadap terjadinya lahan-lahan kritis. 
  • Memelihara, meningkatkan, dan melestarikan keindahan alam (lingkungan). 

Selengkapnya
Asal Usul Moyang Manusia dan Persebarannya (Kajian Ilmiah)

Asal Usul Moyang Manusia dan Persebarannya (Kajian Ilmiah)

Selama berpuluh-puluh tahun, petunjuk satu-satunya dalam penelitian sejarah persebaran manusia adalah fosil-fosil dan artefak-artefak yang ditinggalkan dalam pengembaraan mereka. Penelusuran asal-usul manusia seperti mendapatkan darah baru setelah penerapan teknologi dengan menggunakan DNA mitokondria (mtDNA) untuk mencari tahu hubungan kekerabatan antarpopulasi. Terobosan itu membuka pintu gerbang menuju pengungkapan cikal bakal manusia modern atas dasar persamaan genetik.

moyang manusia

Manusia adalah makhluk sosial dengan intelegensi tinggi yang dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan. Setiap tetes darah manusia berisi buku sejarah yang ditulis dalam bahasa genetika. Kode-kode genetika manusia atau genom adalah 99,9 persen identik di seluruh dunia. Selebihnya ialah DNA yang bertanggungjawab terhadap perbedaan individual seperti warna mata, resiko penyakit, dan beberapa DNA yang tidak begitu jelas fungsinya. 

Suatu ketika dalam perubahan genetika yang langka, mutasi acak dan tidak berbahaya dapat terjadi dalam salah satu DNA yang tidak berfungsi tersebut, yang kemudian diwariskan ke semua keturunan orang itu. Namun, mutasi-mutasi yang memberikan petunjuk tetap terlindungi. Salah satunya adalah DNA mitokondria (mtDNA), yang diteruskan utuh dari ibu ke anak. Demikian juga sebagian besar kromosom Y, yang menentukan laki-laki, berpindah utuh dari ayah ke anak laki-laki. 

"Hawa Mitokondria" dan "Adam Kromosom Y" Asal Mula Manusia Modern

Berdasarkan penelitian mtDNA dari berbagai populasi, para ilmuwan menyimpulkan bahwa manusia modern sekarang ini semua merupakan satu keturunan dari satu nenek moyang. Hawa Mitokondria (Eva Mitokondria) adalah julukan terkini yang diberikan kepada moyang bersama manusia lewat garis matrilineal (garis ibu). Dengan kata lain, wanita yang dijuluki demikian adalah moyang dari semua manusia yang hidup saat ini (disamakan dengan Hawa, nama perempuan pertama menurut Kitab-kitab suci agama Samawi), dari sisi ibu, dan dari ibu ke ibu, mundur ke masa lampau sampai semua garis keturunan bertemu pada satu orang. 

Hawa Mitokondria kemudian segera bergabung dengan Adam Kromosom Y (nama yang diberikan kepada moyang bersama lewat garis ayah atau patrilineal). Secara analog dengan Adam kromosom Y, Hawa mitokondria adalah penemuan dari mana semua orang hidup diturunkan dari garis ibu (matrilineal), yang diperkirakan hidup pada 140.000 sampai 200.000 tahun lalu. Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa semua umat manusia modern terkait dengan Hawa Mitokondria melalui rantai para ibu yang tak terpatahkan. 

Orang-orang dari berbagai belahan dunia memiliki garis keturunan berbeda, tetapi mereka memiliki mtDNA kromosom Y purba yang setara. Untuk mempelajari persebaran manusia pada masa lalu, penelitian DNA mitokondria ini menggunakan sumber genetik yang dapat bertahan dalam waktu lama, yaitu tulang belulang yang sudah menjadi fosil. Kesimpulan di atas tentunya membuka cakrawala baru bahwa manusia modern ternyata bukanlah keturunan dari manusia purba, melainkan kita semua adalah keturunan dari satu nenek moyang, yakni wanita "Hawa" di atas.

Daerah Asal Manusia dan Persebarannya

Pada pertengahan tahun 1980 an, Allan Wilson dan rekan-rekannya di University of California, Barkeley, menggunakan mtDNA untuk mengidentifikasikan tempat asal nenek moyang umat manusia. Mereka merekonstruksi sejarah asal-usul dan persebaran manusia dari sisi ibu (maternal) dengan membandingkan mtDNA dari wanita-wanita di seluruh dunia. Hasilnya, mereka menemukan bahwa wanita-wanita keturunan wilayah Afrika menunjukkan keanekaragaman dua kali lebih banyak daripada kaum wanita lain. 

Max Ingman, doktor genetik asal Amerika Serikat juga pernah mengungkapkan hal senada dengan berpendapat bahwa moyang manusia modern saat ini dahulunya berasal dari salah satu tempat di Afrika antara kurun waktu 100 - 200 ribu tahun lalu. Di sana moyang manusia masa kini itu lantas menyebar dan mendiami tempat-tempat di luar Afrika. Gen manusia modern ini juga tidak bercampur dengan gen manusia purba.

persebaran manusia

Sekitar 50.000 hingga 70.000 tahun silam, satu gelombang kecil manusia yang mungkin hanya berjumlah seribu orang dari Afrika tersebut kemudian bergerak menuju pantai-pantai di Asia bagian Barat. Ada dua jalur tersedia menuju Asia, pertama mengarah ke lembah Sungai Nil melintasi Semenanjung Sinai lalu ke utara lewat Levant. Namun, jalur yang satunya lagi juga mengundang untuk dijelajahi, yaitu melintasi Laut Merah. Pada saat itu, bumi memasuki zaman es terakhir dan permukaan laut menjadi lebih rendah karena air tertahan dalam gletser. Pada bagian tersempit di muara Laut Merah hanya berjarak beberapa kilometer, dengan menggunakan perahu primitif, manusia modern dapat menyeberangi laut untuk pertama kalinya.

Setelah berada di Asia, bukti genetis memperkirakan populasi terpecah. Satu kelompok tinggal sementara di kawasan Timur Tengah, sementara kelompok lain menyusuri pantai sekitar Semenanjung Arab, India, dan wilayah Asia yang lebih jauh. Setiap generasi mungkin bergerak hanya beberapa kilometer lebih jauh, semakin jauh dan akhirnya tersebarlah populasi manusia ke seluruh penjuru bumi ini. Demikianlah asal usul mengenai manusia modern dan persebarannya menurut kajian Ilmiah. Semoga bermanfaat. (Referensi dari buku Sejarah, karya Prof. Dr. M. Habib Mustopo dkk.

Selengkapnya