Pengajaran, Pitutur, dan Nasehat dalam Tembang Macapat

Pengajaran, Pitutur, dan Nasehat dalam Tembang Macapat

Saat ini, keberadaan tembang Jawa memang kurang begitu diminati oleh para kawula muda di negeri ini. Semenjak terjadinya perubahan zaman, berkembangnya lagu-lagu pop, rock, atau dangdut justru semakin menenggelamkan keberadaan tembang Jawa, bahkan bagi masyarakat Jawa itu sendiri.

Para kawula muda lebih dekat dengan irama pop dan dangdut ketimbang senandung irama Pocung, Gambuh, Pangkur, Kinanthi, Dhandanggula, dan lainnnya. Di daerah pedesaan pun juga kini jarang terdengar para kawula muda yang mau menyanyikan macapat.

Tembang macapat 1
via jogja.tribunnews.com

Kalaupun disiarkan di televisi, penyanyi atau pembawa tembang macapat pada umumnya adalah orang-orang tua yang sudah sepuh. Suara dan iramanya berat, kadang salah, dan lemah (tidak nyaring). Memang tidak dipungkiri saat ini tembang Jawa telah terdesak oleh kemajuan zaman.

Masuknya budaya luar lewat televisi dan perkembangan era digital yang semakin pesat pun membuat sastra dan budaya Jawa menjadi semakin terpinggirkan. Irama musik barat, pop, rock, dan dangdut yang membuat badan bergoyang memang lebih populer ketimbang macapat yang halus dan ada iramanya.

Sebagian kaum muda ada yang beranggapan bahwa tembang macapat itu sudah kuno dan ketinggalan zaman. Musiknya kurang gaul dan bahasanya kadang sulit untuk dipahami. Meski demikian, ternyata saat ini masih bisa dikatakan bahwa tembang macapat belum hilang terlindas oleh kemajuan zaman.

Masih ada orang-orang yang mencintai dan peduli akan keberadaan tembang macapat. Tembang Jawa yang disebut sekar macapat ini masih sering dibawakan pada saat acara-acara tertentu. Pada diskursus pengajaran yang mempelajari tentang bahasa, sastra, dan budaya Jawa, tembang macapat juga masih diajarkan.

Tembang macapat juga biasa dinyanyikan di sanggar-sanggar pengajaran bahasa Jawa. Di pertunjukan orkes karawitan Jawa, penabuh gamelan dan penyanyi juga turut andil dalam ikut melestarikan tembang Jawa ini.

Perlombaan tembang macapat juga sesekali masih sering ditemui di berbagai daerah. Begitu pula di pertunjukan jagad pewayangan, Gareng dan Petruk juga sering berjoged serta membawakan tembang Pocung, Pangkur, Kinanthi, atau Gambuh.

Selain itu, macapat juga biasa dibawakan dalam acara pernikahan Jawa. Para pengisi acara biasanya ada yang nyekar (nembang) khusus ditujukan untuk pasangan pengantin. Isinya bermacam-macam terutama berupa pitutur luhur untuk calon pengantin yang akan membangun sebuah keluarga.

Tembang macapat 2
via sahabatguru.com

Menurut buku Mbombong Manah karangan R. Tedjohadisumarto, tembang Jawa terbagi menjadi 5 macam, yaitu: lagu dolanan, sekar macapat, sekar tengahan, sekar ageng, dan sekar gendhing. Disebut sekar macapat karena tembang ini dibawakan dengan maca papat-papat (membaca empat-empat), maksudnya yaitu cara membacanya terjalin tiap empat suku kata.

Dalam sejarah, sekar macapat pada mulanya diciptakan oleh Prabu Banjaransari di Sigaluh pada tahun Jawa 1191. Dulunya syair tembang macapat ditulis menggunakan bahasa Kawi yang berupa kakawin. Selanjutnya, tembang macapat bisa ditemui dalam buku-buku yang mempelajari tentang tembang dari zaman dulu hingga sekarang.
Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa sekar macapat adalah karangan dari Para Wali, khususnya Walisongo (sembilan Wali Penyebar agama Islam dari tanah jawa). Maka dalam perkembangan berikutnya kemudian dijumpai pula sastra berupa suluk dan wirid.

Para Wali mencipta, menggubah, dan melakukan perubahan yang adiluhung untuk menebarkan syiar Islam lewat sarana tembang macapat. Sekar macapat pun oleh para Wali dibuat agar isinya sesuai dan cocok dengan ajaran Islam. Tidak heran, nuansa Islam memang banyak ditemukan dalam sekar (tembang) macapat.

Selanjutnya oleh para pujangga khususnya di Keraton Surakarta atau Pura Mangkunegaran, sekar macapat ditulis atau digubah kembali menjadi jumlah sangat banyak. Jika dicermati dari beberapa tembang macapat yang ada, sangat banyak pengajaran, nasehat, petuah, atau pitutur luhur dalam hal watak atau kepribadian di dalamnya.

Lebih luas lagi, isi tembang macapat juga bisa merambah dan membumbung tinggi hingga ranah "ke-Ilahi-an", pengetahuan tentang kejiwaan, ketajaman mata batin, ngelmu, laku, budi pekerti, sopan-santun, tatakrama, unggah-ungguh, dan lain-lain. Intinya, apa yang terkandung dalam sekar macapat dapat menjadi sumber pengajaran, petuah, dan pitutur, untuk membangun watak dan karakter bangsa. 

Diterjemahkan dengan semampunya dari artikel berbahasa Jawa karya Ki Sutadi Pangarsa Persatuan Pedalangan Indonesia Komisariat Jawa Tengah- Ki Demang

Selengkapnya
Melestarikan Bahasa Jawa Krama di Tengah Pusaran Zaman Modern

Melestarikan Bahasa Jawa Krama di Tengah Pusaran Zaman Modern


Sebagai orang Jawa, kadang saya merasa cukup miris ketika banyak orang Jawa kurang peduli dengan budaya dan adat istiadatnya. Sebagai contoh, banyak kini dijumpai keluarga Jawa yang mengajari anak-anak balitanya langsung berbahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa yang mana merupakan bahasa ibu mereka.

Bagi masyarakat Jawa di wilayah perkotaan, mungkin hal ini sedikit bisa dimaklumi. Namun lain halnya dengan orang desa yang ternyata juga ikut-ikutan mengajari anak-anak balita mereka langsung berbahasa Indonesia dalam kesehariannya.

Tidak salah memang, bahkan itu bagus untuk memupuk rasa Nasionalisme sejak dini. Namun hendaknya jangan lupa bahwa sebagai orang Jawa, kita juga punya budaya dan adat istiadat yang juga mesti kita jaga kelestariannya agar jangan sampai punah. 

Mungkin ada yang berpendapat bahwa hal itu tidaklah mengapa, toh seiring waktu anak-anak juga akan lancar berbahasa jawa dengan sendirinya karena mereka hidup di lingkungan masyarakat berbahasa Jawa. Okelah jika memang demikian, tapi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan bahasa krama atau bahasa unggah-ungguh (sopan-santun) nya terhadap orang tua atau orang yang perlu dihormati?.

Inilah yang menjadi perhatian utama saya. Banyak anak-anak atau bahkan pemuda Jawa sekarang saya temui tidak bisa lagi berbahasa krama inggil atau unggah-ungguh (sopan santun) saat berhadapan dengan orang lebih tua. Dengan percaya dirinya, mereka berbicara pada orang yang lebih tua seakan-akan sedang berbincang dengan teman sebaya atau teman mainnya. 

Anak suku Jawa

Kita memang berbangsa satu dan bertanah air satu yakni bangsa dan tanah air Indonesia. Dan kita pun mempunyai bahasa yang menyatukan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke, yakni bahasa Indonesia. Namun kita juga mesti ingat bahwa bangsa ini memiliki keragaman budaya dan adat istiadat di segenap penjuru negeri ini yang mesti dipertahankan keeksisannya sebagai wujud kekayaan negeri ini, salah satunya yaitu budaya dan adat istiadat Jawa.

Menanggapi fenomena lunturnya tatanan budaya Jawa bagi sebagian masyarakat Jawa, saya sebagai orang Jawa ikut merasa prihatin akan hal ini. Saya khawatir apakah budaya dan adat istiadat Jawa ini akan mampu bertahan di tengah-tengah pusaran zaman yang serba modern ini?.

Pada artikel kali ini, saya ingin mengutip sebuah artikel menarik dari majalah Panjebar Semangat terkait fenomena ini. Harapannya, semoga tulisan ini dapat menggugah hati kita sebagai orang Jawa agar sadar kembali dan peduli akan pentingnya menjaga kelestarian budaya Jawa, terutama bahasa Jawa krama untuk unggah-ungguh di tengah-tengah masyarakat kita.

Bahasa krama merupakan tataran bahasa paling tinggi yang dijadikan dasar untuk mengukur keadaan nyata dalam kehidupan sosial masyarakat. Pendapat ini didasarkan pada penelitian yang dibuat oleh seorang pakar budaya Jawa, Niel Mulder. Namun perlu dicatat bahwa pendapat ini merupakan hasil penelitian secara kasat mata, belum menyentuh rasa batin yang memang tidak bisa dijabarkan hanya menggunakan dasar penelitian fisik semata. 

Apa sih sebenarnya yang menjadikan bahasa krama semakin hilang penggunaannya dalam keseharian masyarakat Jawa, terutama bagi kalangan kawula muda?.

Setidaknya ada tiga asumsi yang menjadikan bahasa krama semakin hilang, atau setidak-tidaknya berkurang penggunaannya dalam keseharian masyarakat Jawa, yaitu:

1. Kompleksitas, Njlimet, dan Birokratis

Memang tidak dipungkiri bahwa bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa yang njlimet dan mempunyai tingkatan (hierarkial) serta sistematis. Setiap orang mesti tahu dengan siapa dia berbicara atau bercakap-cakap.

Dalam prakteknya, membiasakan penggunaan bahasa krama untuk bertutur kata memang bukanlah perkara mudah, membutuhkan waktu serta proses yang cukup lama. Bahkan ketika hati sudah niat untuk membiasakannya namun lingkungan keluarga atau masyarakat tidak mendukung, maka hal ini tidaklah akan bisa terlaksana. 

2. Mengandung Stratifikasi Sosial

Siapapun tahu bahwa bahasa Jawa mengandung unggah-ungguh yang menentukan kelas (derajat) masing-masing orang dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi pada masa kini, adanya kelas-kelas tersebut tidak begitu disukai seiring dengan dijunjungnya azas demokratisasi, serta semangat pendidikan agama yang menyebutkan bahwa semua orang itu sama, yang membedakan hanyalah derajat ketaqwaan di sisi Gusti Allah. Penggunaan unggah-ungguh bahasa ini juga dianggap semakin memperlebar jarak antara seseorang dengan sesamanya, sehingga sudah semestinya ditinggalkan. 

3. Tidak Mengikuti Zaman 

Kita semua maklum bahwa modernisasi, kecanggihan ilmu serta teknologi membutuhkan kecepatan serta ketepatan. Era digital dan perkembangan teknologi yang serba cepat ini membuat bahasa Jawa menjadi tidak laku untuk digunakan.

Terlebih dengan adanya propaganda modernitas yang santer digaungkan bangsa Barat, membuat para muda-mudi tidak mau lagi berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Intinya, sebagian kawula muda menganggap bahwa bahasa Jawa (terutama krama) sudah tidak sesuai dengan zaman, semangat demokrasi, serta modernisasi. 

Tiga hal inilah kiranya yang menjadikan generasi muda kita tidak mau lagi menggunakan bahasa Jawa (krama inggil). Memang tiga poin ini hanya asumsi secara umum, karena bisa jadi setiap orang punya alasan masing-masing mengapa tidak mau untuk menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian mereka.

Berikan Teladan

Setelah mengetahui alasan-alasan di atas, lantas bagaimana sebaiknya?. Memang tidaklah bijaksana dan jangan sampai untuk kita menyalahkan, apalagi menjadikan para kawula muda sebagai terdakwa atas fenomena lunturnya penggunaan bahasa Jawa krama ini.

Sebab jika dicermati, para kawula muda tersebut pada dasarnya juga hasil didikan para orang tuanya, sehingga tidak sepatutnya mereka dimarahi dan disalahkan jika mereka tidak mau atau tidak bisa menggunakan bahasa krama. Kita percaya bahwa para orang tua juga telah berupaya memberikan teladan yang baik dalam usahanya menerapkan penggunaan bahasa krama di lingkungan keluarga dan masyarakat. 

Yang perlu diminta dari para kawula muda sejatinya bukan hanya persoalan bahasa krama ini saja, lebih dari itu para orang tua juga harus bisa memberikan contoh atau teladan yang baik untuk anak-anaknya, terutama pada persoalan akhlak atau moralitas.

Jangan sampai para orang tua hanya bisa menasehati namun tidak mau memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Atau jangan sampai orang tua punya sikap diam saja (permissive) ketika melihat keadaan yang tidak pantas dicontoh oleh anak-anaknya.

Bagi para orang tua jawa, pentingnya pembinaan akhlak bagi anak sebagai calon penerus generasi muda ini bisa diterapkan salah satunya yaitu dengan mengajarkan bahasa krama sebagai bahasa sopan santun. 

Terkait pembinaan akhlak atau budi pekerti lewat penggunaan bahasa krama ini, sebenarnya hal ini juga menjawab atau mematahkan alasan pada poin kedua di atas. Memang di satu sisi, agama (baca: Islam) datang dengan tidak membeda-bedakan status sosial masing-masing orang.

Semua orang di hadapan Allah adalah sama derajatnya, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya. Namun di sisi lain, Islam juga menekankan akan pentingnya pembinaan akhlak atau budi pekerti dalam kehidupan sosial, sehingga penggunaan bahasa krama untuk unggah-ungguh ini sebetulnya justru selaras dengan ajaran agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, sebagai sosok teladan (uswah hasanah) bagi umat manusia di bumi ini. Intinya, dalam hal ini lihatlah konteksnya, dan jangan asal sembarangan dalam mengambil suatu kesimpulan.

Orang Jawa berkomunikasi

Revitalisasi

Agar harapan ini dapat terlaksana, ada beberapa cara agar supaya para kawula muda mau menggunakan bahasa krama dengan baik. Pertama, bahasa krama mesti direvitalisasi. Siapa saja yang mampu berkomunikasi dengan bahasa jawa krama mesti berpartisipasi dan ikut serta bersama-sama melestarikan bahasa jawa krama ini.

Maksudnya, gunakanlah bahasa krama di mana saja anda berada. Di lingkungan paling kecil, yaitu keluarga hingga sampai lingkungan pemerintahan. Kebiasaan ini mesti menjadi program bersama, bergotong royong, semua orang Jawa mesti diajak mendukung program ini, dari lapisan masyarakat bawah sampai masyarakat atas mesti mempunyai tekad yang sama. 

Kedua, tidak hanya memperbaiki persoalan bahasa semata, semua nilai, etika, serta aturan yang berdasarkan akhlak serta moralitas juga mesti dijaga dan dilestarikan agar tidak menyebabkan ringkihnya mentalitas Jawa. Kita tidak dapat memungkiri bahwa ruh bangsa Indonesia ini adalah ruh Jawa, jadi baik buruknya bangsa ini juga tergantung dari perilaku orang-orang Jawa. Inilah tantangan dari tatanan Jawa. 

Ketiga, orang jawa juga mesti cerdas. Orang jawa mesti gemar dalam menuntut ilmu pengetahuan serta teknologi. Perihal menimba ilmu serta pengetahuan ini baiknya kita bisa mencontoh semangat orang Jepang dalam belajar (mencari ilmu).

Bangsa Jepang yang pernah remuk akibat dibom oleh sekutu tahun 1945 sampai sekarang masih tetap menjadi salah satu bangsa Asia yang menonjol lantaran para warga dan pemerintahnya benar-benar memperhatikan akan keberadaan para ilmuwan. Setelah Jepang takluk oleh sekutu, banyak para pemuda Jepang disekolahkan di negara-negara barat guna mencari cara untuk membangun kembali bangsanya menggunakan teknologi modern.

Setelah berhasil, tidak lama kemudian para pelajar dari Jepang itu pun menyelesaikan belajarnya, dan segera pulang ke negaranya untuk lekas bergegas bahu membahu membangun bangsanya. Tidak kurang dari dua dasawarsa, bangsa Jepang telah mampu berdiri mandiri sama seperti bangsa-bangsa barat lainnya.

Contoh tersebut mestinya menjadi perhatian dan pembelajaran bagi para pejabat serta pemangku kekuasaan di negeri ini agar bangsa Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi martabatnya di mata dunia. Jangan jadi bangsa yang diam saja, tidak jelas apa hendak dicari. 

Itulah diantara beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya mengangkat kembali budaya Jawa lewat penggunaan bahasa krama sebagai sarana pembinaan akhlak dan pentingnya semangat menuntut ilmu bagi kemajuan bangsa ini.

Kita memang cukup prihatin akan lunturnya tatanan Jawa seperti halnya perihal unggah-ungguh bahasa ini. Namun hal ini juga hendaknya jangan sampai membuat kita memaksa generasi muda supaya menuruti kemauan kita, jika kita sendiri belum bisa memberikan contoh yang baik kepada mereka. Intinya, lestarikan bahasa dan semangat mentalitas Jawa agar jangan sampai kita dikatakan "Wong Jawa ilang Jawane". Demikian. Semoga bermanfaat. 


*Tulisan di atas bersumber dari artikel berbahasa jawa yang saya terjemahkan dari majalah Panjebar Semangat edisi Oktober 2010 dengan beberapa perubahan dan penambahan agar mudah dipahami. Sebagai informasi, Panjebar Semangat adalah majalah mingguan berbahasa Jawa yang terbit sejak tahun 1933 atas prakarsa Dr. Soetomo, pendiri pergerakan Budi Utomo sebagai salah satu media untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selengkapnya
Rangkuman Sejarah 3 Kerajaan Besar Islam Abad Pertengahan

Rangkuman Sejarah 3 Kerajaan Besar Islam Abad Pertengahan


Lain halnya dengan periode klasik dimana Islam mengalami kemajuan dan masa keemasan, wilayah yang luas, dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, sejarah Islam pada abad pertengahan justru mengalami kemunduran. Hal ini ditandai dengan tidak adanya lagi kekuasaan Islam yang utuh meliputi seluruh wilayah Islam dan terpecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah.

Sejarah pemerintahan Islam pada periode pertengahan dimulai dari tahun 1250 sampai tahun 1800, diawali dengan runtuhnya dinasti Abbasiyah yang diakibatkan oleh serangan bangsa Mongol dan konflik internal pemerintahan Abbasiyah. Munculnya Dinasti Timuriyah dan Dinasti Mamluk juga tidak bisa berbuat banyak dalam mengembalikan lagi kejayaan Islam seperti era sebelumnya. 

Setelah mengalami fase transisi atau fase kemunduran ini, Umat Islam akhirnya kembali bangkit dan meraih kejayaannya kembali setelah munculnya tiga kerajaan besar yaitu Kesultanan Utsmani (Ottoman) di Turki, Kesultanan Mughal (Mogul) di India, dan Kesultanan Safawi di Iran. 

1. Kerajaan Ottoman di Turki

Kerajaan Ottoman atau kesultanan Turki Utsmani didirikan dan diproklamasikan kemerdekaannya oleh Utsman I dari bangsa Turki Utsmani, setelah Sultan Alauddin dari Dinasti Saljuk meninggal dunia tahun 1300 M. Utsman I dinobatkan sebagai raja (Sultan) pertama dari kerajaan Ottoman, yang disusul dengan raja-raja berikutnya.

Kerajaan Ottoman mengalami kemajuan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II (1451-1481 M). Sultan ini berjasa besar karena telah menyebarluaskan Islam hingga ke Benua Eropa, melalui penaklukan kota benteng Konstatinopel ibukota Romawi Timur pada tahun 1453 M. Karena keberhasilannya ini, Sultan Muhammad II kemudian mendapat julukan Al Fatih yang artinya Sang Penakluk.

Istana Topkapi
istana Topkapi, Istanbul via pixabay

Kerajaan Ottoman mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman I (1520-1566 M), yang bergelar Sulaiman Agung dan Sulaiman Al Qanuni. Pada masa pemerintahannya, kerajaan Ottoman memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas meliputi Afrika Utara, Mesir, Hejaz, Irak, Armenia, Asia Kecil, Krimea, Balkan, Yunani, Bulgaria, Bosnia, Hongaria, Rumania, sampai ke batas Sungai Danube dengan tiga lautan yaitu Laut Merah, Laut Tengah, dan Laut Hitam. Namun setelah Sulaiman Agung meninggal dunia, kerajaan Ottoman Turki mengalami kemunduran sehingga satu demi satu wilayah kekuasaannya melepaskan diri.

2. Kerajaan Mogul di India

Peranan umat Islam India dalam penyebarluasan agama Islam dapat dilihat dalam empat periode, yaitu periode sebelum kerajaan Mogul (705-1526 M), periode Mogul (1526-1858 M), periode masa penjajahan Inggris (1858-1947 M), dan periode negara India Sekuler (1947-sekarang).

Kerajaan Mogul atau Kesultanan Mughal didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur, keturunan Jengiz Khan bangsa Mongol pada tahun 1526 M setelah  mengalahkan Ibrahim Lodi, Sultan Delhi terakhir dalam Pertempuran Panipat I. Kerajaan Mogul diperintah secara silih berganti oleh 15 orang raja (Sultan). Sultan pertama kerajaan Mogul yaitu Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530 M) dan Sultan terakhirnya yaitu Sultan Bahadur Syah II (1837-1858 M). 

Jahangir mahal
Jahangir mahal, Agra via pixabay

Kerajaan Mogul mencapai puncak kejayaannya tatkala diperintah oleh Abu Fath Jalaluddin atau juga dikenal dengan gelarnya Sultan Akbar Agung (1556-1605 M), raja terbesar di antara raja-raja Mughal di India. Sepeninggal Sultan Akbar, kejayaan Mughal kemudian dilanjutkan oleh Jahangir atau Nuruddin Muhammad Jahangir (1605-1627 M), Syah Jihan (1627-1658 M), dan Aurangzeb atau Alamgir I (1658-1707 M).

Setelah kematian Aurangzeb pada tahun 1707, kesultanan ini pun mulai mengalami kemunduran, meskipun tetap berkuasa selama 150 tahun berikutnya. Wilayah kekuasaan Mogul saat itu meliputi Kabul, Lahore, Multan, Delhi, Agra, Oud, Allahabad, Ajmer, Gujarat, Melwa, Bihar, Bengal, Khandes, Berar, Ahmad, Nagar, Ousra, Kashmir, Bajipur, Galkanda, Tajore, dan Trichinopoli.

3. Kerajaan Safawi di Persia (Sekarang Iran)

Kerajaan Safawi didirikan oleh Syah Ismail Syafawi (Ismail I) pada tahun 907 H (1501 M) di Tabriz. Beliau berkuasa pada tahun 1501-1524 M, yang wilayah kekuasaannya di sebelah barat berbatasan dengan kerajaan Utsmani (Ottoman) di Turki dan di sebelah timur berbatasan dengan kerajaan Islam Mogul di India.

Setelah pemerintahan Syah Ismail Safawi berakhir, silih berganti sultan-sultan dinasti Safawi melanjutkan pemerintahannya hingga sebanyak 17 sultan. Sultan terakhir kerajaan Safawi bernama Sultan Muhammad.

Kerajaan Safawi mencapai puncak kejayaannya tatkala diperintah oleh Syah Abbas (1585-1628 M). Beliau berjasa mempersatukan seluruh Persia, mengusir Portugis dari kepulauan Hormuz, dan nama pelabuhan Gumran diubah menjadi Bandar Abbas (sampai sekarang). Syah Abbas juga memindahkan ibukota kerajaan dari Qizwan ke Isfahan.

Kompleks maidan Imam
kompleks Maidan Imam, Isfahan via republika.co.id

Setelah pemerintahan Syah Abbas berakhir dan digantikan oleh sultan-sultan berikutnya, kedudukan kerajaan Safawi menjadi lemah. Kelemahan kerajaan Safawi ini antara lain disebabkan adanya perebutan kekuasaan. Pada masa berikutnya, wilayah Persia kemudian diperintah oleh Dinasti Zand (1759-1794), Dinasti Qajar (1794-1925, dan Dinasti Pahlevi (1925-1979).

Kemudian sejak 11 Februari 1979 melalui revolusi Islam yang dipimpin oleh Ulama terkenal Ayatullah Khomeini (1900-1989 M), sistem kerajaan yang telah ribuan tahun berkuasa akhirnya dihapus dan diganti dengan sistem republik (demokrasi) dengan nama "Jumhuri-ye Eslami-ye Iran" (Republik Islam Iran) dengan presiden pertamanya Abalhassan Bani Sadr.

Demikian Rangkuman mengenai Sejarah 3 Kerajaan Besar Islam pada Abad Pertengahan. Semoga bermanfaat. Baca juga: Perkembangan Dunia Islam Pada Abad Pertengahan

Selengkapnya
Sekilas Tentang Prasasti dan Penulisannya dalam Sejarah Nusantara

Sekilas Tentang Prasasti dan Penulisannya dalam Sejarah Nusantara


Bagi anda yang suka dengan pelajaran sejarah, terutama sejarah peradaban di Nusantara, pastinya tidak asing dengan yang namanya prasasti. Dikutip dari Ensiklopedi Nasional Indonesia, pengertian prasasti adalah artefak yang berupa huruf-huruf, kata-kata, atau tanda-tanda konvensional yang dipahat atau ditulis pada bahan yang mudah musnah seperti batu, tanah liat (baik dibakar maupun dijemur), logam (baik itu emas, perak, perunggu) serta tanduk binatang.

Sedangkan dalam pengertian modern, prasasti juga bisa berarti batu pertama atau tanda peringatan. 

Prasasti Tarumanegara
Prasasti Ciaruteun (Tarumanegara) via cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Pada dasarnya, pada masa lalu prasasti dibuat untuk menyampaikan informasi, mencatat peristiwa yang dianggap penting, atau sekadar keindahan. Kebiasaan menulis prasasti ini timbul setelah nenek moyang kita mempelajari aksara dari kebudayaan India.

Prasasti atau peninggalan tertulis berupa pahatan ini merupakan salah satu sumber sejarah yang penting untuk penulisan sejarah kuno. Tercatat ada sekitar 3000 prasasti telah ditemukan yang berasal dari zaman Indonesia (Nusantara) klasik. 

Pada masa lalu, prasasti biasanya merupakan dokumen resmi yang dikeluarkan oleh raja atau pejabat tinggi kerajaan. Pada umumnya, prasasti-prasasti tersebut mempunyai bentuk dan susunan yang hampir sama, yaitu diawali dengan uraian mengenai pembebasan tanah disertai dengan angka tahun, batas serta ukuran tanah yang dibebaskan, daftar orang-orang yang diserahi melaksanakan tugas, hadiah-hadiah yang disediakan untuk keselamatan, upacara-upacara yang dilakukan dan akhirnya juga mengenai kutukan-kutukan terhadap mereka yang tidak menaati aturan yang telah ditetapkan oleh raja.

Pada umumnya, prasasti berisi tentang hal-hal sebagai berikut:

  1. Penghormatan kepada Dewa. Dalam agama Hindu biasanya diawali dengan Ong Civaya, sedangkan dalam agama Budha diawali dengan kata Ong nama Budhaya.
  2. Angka tahun dan penanggalan yang biasanya diawali dengan kata-kata: "Swasti Cri Cakrawarsitta" yang artinya "Selamat tahun yang sudah berjalan".
  3. Menyebut nama Raja yang biasanya diawali dengan kata-kata: "Tatkala Cri Maharaja Rakai Dyah... ".
  4. Perintah kepada pegawai tinggi yang biasanya melalui Rakyan Mahapatih dengan istilah: "Umingsor ring rakyan Mahapatih..." sehingga Raja tidak memberikan perintah langsung.
  5. Penetapan daerah sima (bebas pajak) yang merupakan hadiah dari Raja kepada orang yang berjasa kepada Raja atau kepada orang banyak.
  6. Sambhada (sebab musabab mengapa suatu daerah dijadikan daerah sima).
  7. Para saksi.
  8. Desa perbatasan sima yang disebut "wanua tpisring".
  9. Hadiah yang diberikan dari daerah yang dijadikan daerah sima kepada Raja, pendeta, dan para saksi.
  10. Jalannya upacara.
  11. Tontonan yang diadakan.
  12. Kutukan atau sumpah serapah kepada orang-orang yang melanggar peraturan daerah sima.

Sriwijaya
Prasasti Telaga Batu (Sriwijaya) via dictio.id

Dalam rentang sejarah, prasasti-prasasti di Nusantara pada abad ke 4 sampai abad ke 8 ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Tulisan Pallawa ini mirip dengan tulisan yang digunakan di India Selatan, Srilangka, dan Asia Tenggara Daratan.

Prasasti-prasasti tersebut biasa ditulis dalam bentuk syair dengan menggunakan kaidah-kaidah penulisan dari India. Hal ini misalnya dapat dilihat dari prasasti-prasasti Yupa yang dikeluarkan oleh Raja Mulawarman dari Kutai, dimana isinya menunjukkan proses penghinduan di daerah Kutai. 

Selain untuk penulisan prasasti, penggunaan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta untuk proses penghinduan juga disematkan pada nama-nama Raja pada masa itu. Misalnya nama keturunan Raja Kundungga (nama penduduk asli setempat) yang menjadi Mulawarman (nama Sanskerta). Begitu pula nama Sanskerta pada Purnawarman (Raja Tarumanegara), Sanjaya (Raja Medang/Mataram Kuno), atau Gajayana (Raja Kanjuruhan). 

Dalam perkembangannya, penggunaan huruf Pallawa pada beberapa prasasti kemudian berubah menjadi huruf Kawi (Jawa Kuno). Bentuk huruf atau simbol-simbol yang digunakan dalam huruf Kawi merupakan bentuk tulisan khas Jawa. Sejak Prasasti Dinoyo (prasasti pertama berhuruf Jawa Kuno yang dipadu dengan bahasa Sanskerta) dari tahun 682 Saka (760 M) ditemukan di Malang, huruf Kawi diketahui telah menjadi huruf yang dipakai di Nusantara pada masa itu.

Kanjuruhan
Prasasti Dinoyo (Kanjuruhan) via satria-aji.org

Menjelang abad ke 8, maka bahasanya bukan lagi bahasa Sanskerta yang menjadi bahasa resmi, melainkan bahasa Kawi (Jawa Kuno). Bahasa dan huruf Kawi selanjutnya pun menjadi bahasa dan tulisan resmi di Nusantara klasik. Namun ada pengecualian misalnya pada prasasti-prasasti raja-raja Syailendra di Jawa Tengah yang menggunakan huruf Dewanagari dan bahasa Sanskerta. Akan tetapi, peranannya untuk masa-masa berikutnya tidak banyak. 
Berdasarkan bahasa dan tulisan yang dipergunakan, prasasti-prasasti di Nusantara dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. Prasasti Berbahasa Sanskerta

Prasasti yang menggunakan bahasa Sanskerta pada umumnya digunakan oleh kerajaan-kerajaan dari abad ke 5 sampai dengan abad ke 9.

  1. Huruf Pallawa, misalnya: prasasti Yupa dari kerajaan Kutai, prasasti-prasasti dari kerajaan Tarumanegara seperti prasasti Ciaruteun, prasasti Kebun Kopi, prasasti Jambu. Serta prasasti Mataram Hindu pada masa awal perkembangannya seperti prasasti Tuk Mas dan prasasti Canggal. 
  2. Huruf Pra-Nagari atau huruf Siddham (yang banyak dipakai di India Utara dan Srilangka dari abad 11 sampai 12), misalnya prasasti Kalasan, prasasti Kelurak, Ratu Boko, dan prasasti Plaosan Lor. 
  3. Huruf Jawa Kuno (Kawi), misalnya prasasti Dinoyo, prasasti Plumpungan (prasasti hamparan). 

b. Prasasti berbahasa Jawa Kuno

  1. Huruf Jawa Kuno, dipakai pada abad ke 10, misalnya prasasti Kedu atau prasasti Mantyasih (907 M) peninggalan Mataram Kuno, prasasti Randusari I dan II dari masa pemerintahan Balitung, dan prasasti Trowulan I, II, III, IV, yang berasal dari kerajaan Majapahit. 
  2. Huruf Pra-Nagari (Siddham), misalnya prasasti Sanur, tulisan pada sandaran arca-arca di Candi Singasari dan Candi Jago. 

c. Prasasti Berbahasa Melayu Kuno

Prasasti yang menggunakan bahasa Melayu Kuno adalah prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, baik di Sumatera maupun di Semenanjung Malaka. Isinya terutama berupa sumpah-sumpah dan kutukan-kutukan yang dibuat agar rakyat tunduk pada kekuasaan raja. Misalnya prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang Tuo, prasasti Telaga Batu, dan prasasti Ligor.

d. Prasasti berbahasa Bali Kuno

Prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuno merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan di Bali. Prasasti tersebut pada umumnya berisi Raja Casana atau peraturan dari Raja. Huruf yang digunakan adalah huruf Pallawa, Jawa Kuno, dan Pranagari. Misalnya prasasti Julah, prasasti Ugrasena, dan prasasti Tugu Sanur.

Selengkapnya
Beberapa Ketentuan Jual Beli dalam Islam

Beberapa Ketentuan Jual Beli dalam Islam

Pengertian, Dasar Hukum dan Hukum Jual Beli


Pada dasarnya, jual beli merupakan sarana tolong menolong bagi sesama manusia dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan tercapainya masalahat-maslahat dalam hidup. Menurut bahasa, Jual beli (al bai') adalah saling menukar, atau mengambil sesuatu dan memberikan sesuatu.

Sedangkan menurut istilah, arti jual beli yaitu pemberian harta karena menerima harta dengan ikrar penyerahan dan jawab penerimaan (ijab-qabul) dengan cara yang diperbolehkan. Atau bisa juga dipahami bahwa jual beli yaitu menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara tertentu (akad).

Intinya, jual beli adalah persetujuan saling mengikat antara penjual sebagai pihak yang menyerahkan/menjual barang dan pembeli sebagai pihak yang membayar/membeli barang. 

Jual beli 1

Sebagai sarana tolong menolong sesama manusia, jual beli dalam Islam juga mempunyai dasar-dasar hukum kuat yang berasal dari Al Qur'an maupun Al Hadits. Ayat-ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang jual beli antara lain yaitu Surah Al Baqarah ayat 198 dan 275 serta Surah An Nisa ayat 29. Sedangkan hadits-hadits Nabi yang mengatur tentang jual beli ada banyak jumlahnya tergantung pada inti pembahasan atau penjabaran dalam jual beli tersebut.

Mengacu kepada ayat-ayat Al Qur'an dan Hadits tersebut, maka hukum jual beli pada dasarnya adalah mubah (boleh). Namun pada situasi tertentu, hukum jual beli itu bisa berubah menjadi sunnah, wajib, haram, dan makruh.

Rukun dan Syarat Jual Beli


Yang dimaksud dengan rukun dan syarat jual beli adalah ketentuan-ketentuan dalam jual beli yang harus dipenuhi agar jual belinya sah menurut syara' (hukum Islam).

a. Orang yang melaksanakan akad jual beli (penjual dan pembeli)


Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penjual dan pembeli adalah:

  1. Berakal, jual belinya orang gila atau rusak akalnya dianggap tidak sah.
  2. Baligh, jual belinya anak kecil yang belum baligh tidak sah. Akan tetapi, jika anak itu sudah mumayyiz (mampu membedakan baik buruk), maka diperbolehkan melakukan jual beli terhadap barang-barang yang harganya murah seperti permen, kue, jajan, dan kerupuk.
  3. Berhak menggunakan hartanya. Orang yang tidak berhak menggunakan (membelanjakan) hartanya karena kurang sempurna akalnya/terbelakang mental, tidak sah jual belinya. Harta milik orang tersebut diurus oleh walinya yang baligh dan berakal sehat serta jujur. (lihat QS. An Nisa: 5)

b. Sighat atau Ucapan Ijab dan Kabul


Ulama fiqih sepakat bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena kerelaan itu berada dalam hati, maka harus diwujudkan melalui ucapan ijab (dari pihak penjual) dan kabul (dari pihak pembeli).

c. Barang yang diperjualbelikan


Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan syara'. Syarat-syarat barang yang diperjualbelikan antara lain:

  1. Barang yang diperjualbelikan adalah sesuatu yang halal. 
  2. Barang itu ada manfaatnya. Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya. 
  3. Barang itu ada di tempat, atau tidak ada tetapi sudah tersedia di tempat lain, misalnya di gudang, dan penjual bersedia mengambilnya bila transaksi jual beli berlangsung. 
  4. Barang itu merupakan milik si penjual atau di bawah kekuasaannya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Tidak sah jual beli kecuali pada suatu yang dimiliki" (HR. Abu Daud dan At Tirmizi). 
  5. Barang itu hendaklah diketahui oleh pihak penjual dan pembeli dengan jelas, baik zatnya, bentuknya, kadarnya, maupun sifat-sifatnya. Sesuatu yang belum diketahui zat, bentuk, dan kadarnya dianggap tidak sah. Misalnya memperjualbelikan buah-buahan yang putiknya saja belum tampak di pohon (sistem ijon). Rasulullah SAW bersabda: "Nabi SAW melarang menjual buah-buahan sehingga nyata keadaan patutnya" (HR. Al Bukhari dan Muslim). 

d. Nilai Tukar Barang yang dijual 


Pada masa Rasulullah SAW, harga barang itu dibayar dengan mata uang yang terbuat dari emas (dinar) dan mata uang terbuat dari perak (dirham). Sedangkan pada zaman modern sekarang ini berupa uang kertas atau koin. 

Syarat-syarat bagi nilai tukar barang yang dijual adalah:

  1. Harga jual yang disepakati penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya. 
  2. Nilai tukar barang itu dapat diserahkan pada waktu transaksi jual beli, walaupun secara hukum, misalnya pembayaran dengan menggunakan cek atau kartu kredit. Jika harga barang dibayar dengan cara utang atau kredit, waktu pembayaran harus jelas. 
  3. Apabila jual beli dilakukan secara barter atau al muqayyadah (nilai tukar barang yang dijual bukan berupa uang tetapi berupa barang), maka nilai tukarnya tidak boleh dengan barang haram misalnya dengan babi atau khamar. 

Khiyar


Khiyar adalah hak memilih bagi si penjual dan si pembeli untuk meneruskan jual belinya atau membatalkan karena sesuatu hal, misalnya ada cacat pada barang. Hukum Islam membolehkan hak khiyar agar tidak terjadi penyesalan bagi penjual maupun pembeli, antara lain disebabkan merasa tertipu.

Bila terjadi penyesalan dalam jual beli, baik kepada penjual atau pembeli, maka hukumnya sunnah untuk membatalkan jual beli dengan cara pembeli menyerahkan barang yang dibelinya kepada penjual dengan ikhlas. Sedangkan penjual menyerahkan uang (nilai tukar barang yang dibeli) kepada pembeli dengan ikhlas pula. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang rela mencabut jual beli terhadap saudaranya, maka Allah pun akan mencabut kerugiannya di hari Kiamat". (HR. Thabrani). 

Jual beli 2

Secara umum, khiyar dikategorikan ke dalam tiga macam, yaitu:

  1. Khiyar majlis, yaitu hak untuk memilih bagi pihak-pihak yang melakukan transaksi jual-beli antara melanjutkan atau membatalkan transaksi selama masih berada dalam majlis akad (seperti di toko, kios, pasar dan sebagainya). Atau bisa dikatakan bahwa khiyar majlis adalah kebebasan untuk memilih bagi pihak penjual dan pembeli untuk melangsungkan jual beli atau membatalkannya selama masih berada di tempat jual beli. Artinya, jika kedua belah pihak telah terpisah dari majlis, maka hilanglah hak khiyar sehingga perubahan dalam jual beli itu tidak bisa dilakukan lagi.
  2. Khiyar syarat, yaitu hak untuk memilih yang dijadikan syarat pada waktu akad jual beli, artinya pembeli atau penjual memilih antara meneruskan atau membatalkan transaksi sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.  Setelah hari yang ditentukan itu tiba, maka jual beli itu harus dipastikan apakah dilanjutkan atau tidak.
  3. Khiyar 'aib, yaitu hak untuk memilih antara meneruskan atau membatalkan akad jual beli jika ditemukan kecacatan (aib) pada barang yang diperjualbelikan, sedang pembeli tidak mengetahui adanya kecacatan tersebut pada saat akad berlangsung. Atau dengan kata lain, jika seseorang membeli barang yang mengandung kecacatan dan ia tidak mengetahuinya hingga si penjual dan si pembeli berpisah, maka pihak pembeli berhak mengembalikan barang dagangan tersebut kepada penjualnya, dengan meminta ganti barang yang baik atau meminta kembali uangnya, atau sesuai dengan perbandingan kerusakan dan harganya. Namun perlu diingat bahwa kecacatan tersebut murni dari pihak penjual (cacat bawaan) dan bukan karena kelalaian atau kesalahan pembeli seperti akibat terjatuh dan lainnya.

Macam-Macam Jual Beli


Jual beli dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain ditinjau dari segi sah atau tidak sah dan terlarang atau tidak terlarang. 

1. Jual beli yang sah dan tidak terlarang, yaitu jual beli yang terpenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya (lihat penjelasan di atas). 

2. Jual beli yang terlarang dan tidak sah (bathil), yaitu jual beli yang salah satu atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi atau jual beli itu pada dasar dan sifatnya tidak disyariatkan (disesuaikan dengan ajaran Islam). 

Contoh jual beli jenis ini seperti:

  • Jual beli sesuatu yang termasuk najis, seperti bangkai dan daging babi. 
  • Jual beli air mani hewan ternak. Sahabat Ibnu Umar menjelaskan: "Rasulullah SAW telah melarang menjual mani hewan" (HR. Bukhari). 
  • Jual beli anak hewan yang masih berada dalam perut induknya (belum lahir). Hadits dari Ibnu Umar menyebutkan: "Rasulullah SAW telah melarang menjual anak (hewan) yang masih berada dalam perut induknya" (HR. Bukhari dan Muslim). 
  • Jual beli yang mengandung unsur kecurangan dan penipuan, misalnya mengurangi timbangan (takaran) dan memalsukan kualitas barang yang dijual. 

3. Jual beli yang sah tetapi terlarang (fasid). Ada beberapa contoh jual beli yang hukumnya sah, tidak membatalkan akad jual beli, tetapi dilarang oleh Islam karena sebab-sebab tertentu misalnya:

  • Merugikan si penjual, si pembeli, dan orang lain. 
  • Mempersulit peredaran barang. 
  • Merugikan kepentingan umum. 

Jual beli 3

Contoh jual beli yang sah tetapi terlarang (fasid):

  1. Mencegat para pedagang yang akan menjual barang-barangnya ke kota, dan membeli barang-barang mereka dengan harga yang sangat murah, kemudian menjualnya di kota dengan harga yang tinggi. Jual beli seperti ini dilarang karena akan merugikan para pedagang dari desa, dan juga menyebabkan naiknya harga pasar. Rasulullah SAW bersabda yang artinya "Janganlah kamu mencegat orang-orang yang berkendaraan (membawa dagangannya) sebelum mereka tiba di pasar dan mengetahui harga pasar". (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. Jual beli dengan maksud untuk ditimbun terutama terhadap barang vital atau kebutuhan pokok. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan menimbun barang kecuali orang yang salah atau durhaka" (HR. Muslim). 
  3. Menjual barang yang akan digunakan oleh pembelinya untuk berbuat maksiat. Allah SWT berfirman: "... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan..." (QS. Al-Ma'idah: 2). 
  4. Menawar suatu barang dengan maksud hanya untuk mempengaruhi orang lain agar mau membeli barang yang ditawarnya, sedangkan orang yang menawar barang tersebut adalah teman si penjual. Jual beli seperti ini disebut najsyi. Hadits dari Ibnu Umar menyebutkan: "Rasulullah SAW melarang jual beli dengan cara najsyi" (HR. Bukhari dan Muslim). 
  5. Monopoli yaitu menimbun barang agar orang lain tidak membeli, walaupun dengan melampaui harga pasaran. Rasulullah SAW melarang jual beli seperti ini, karena akan merugikan kepentingan umum. 

Itulah beberapa ketentuan mendasar dalam jual beli menurut Islam. Pada dasarnya, kajian fiqih Islam selalu dapat berkembang menyesuaikan zaman dan kemaslahatan manusia, sehingga beberapa ketentuan dalam transaksi jual beli menurut Islam pun dapat mengalami perkembangan seiring zaman serba modern seperti sekarang ini. Demikian. Wallahu A'lam.

Selengkapnya
Contoh-Contoh Pidato Sambutan dalam Bahasa Jawa Untuk Upacara Pernikahan

Contoh-Contoh Pidato Sambutan dalam Bahasa Jawa Untuk Upacara Pernikahan


Dalam prosesi pernikahan adat Jawa, tentunya akan ditemui acara sambutan berisi pidato, baik itu untuk menyambut para tamu undangan, pidato saat seserahan dari pihak calon pengantin pria, pidato diterimanya seserahan dari pihak calon pengantin wanita dan lain sebagainya.

Bagi yang sudah terbiasa membawakan acara atau mengisi sambutan dalam upacara-upacara adat Jawa, mungkin mudah saja membuat rangkaian isi pidato dalam bahasa Jawa untuk upacara prosesi pernikahan adat Jawa tersebut. Namun bagi yang belum terbiasa, mungkin akan kesulitan untuk merangkai kalimat dalam bahasa Jawa halus (krama inggil) agar sesuai dengan makna dan suasana yang hendak ditampilkan. 

Pidato pernikahan adat jawa
via republika.co.id

Pidato-pidato ini biasanya akan dibawakan oleh seseorang yang ditunjuk untuk mewakili pihak keluarga baik dari calon pengantin pria maupun calon pengantin wanita sesuai tujuan yang hendak disampaikan.

Nah, bagi anda yang sedang membutuhkan contoh pidato dalam bahasa Jawa untuk upacara adat pernikahan Jawa, berikut ini ada beberapa contoh pidato sambutan yang mungkin bisa anda jadikan sebagai rujukan. 

Contoh Pidato Sambutan Selamat Datang Untuk Tamu Undangan (Kawilujengan) 

Contoh 1

Assalamu'alaikum WR. WB. 

Kawilujengan, katentreman sih wilasa saha nugrahanipun Gusti Ingkang Mahakawasa, mugi tansah kapatedhakna dhumateng kula sadaya wonten ing pahargyan punika. 

Kula nuwun. 

Saderengipun katuraken esthining sedya keparengna kula ndherekaken saha ndherek para tamu sadaya, boten kendhat-kendhat munjukaken puja-puji sukur wonten ing ngarsanipun Gusti Ingkang Murbeng Jagad. 

Awit peparing rahmat, wujud pinten-pinten raos nikmat ing antawisipun wonten ing wanci punika penjenengan kula sadaya ginanjar bagas waras kiyat. 

Para tamu kakung-putri ingkang sinuba ing pakurmatan. 

Kula hingkang kasaroya Bapa ..... (Orang tua/Ayah calon pengantin) kalilana kula matur:

  1. Ngaturaken pambagya wilujeng saha matur sanget nuwun, awit kepareng panjenengan sampun kersa rawuh wonten ing papan pahargyan punika, mituruti-minangkani panyuwunipun Bapa ..... (Orang tua/Ayah calon pengantin). Mila boten mokal rumaos suka gembiraning manah bebasan kajugrugna wukir sari kaeroban seganten madu, bombong kabegan ing kabagyan panggalihipun. 
  2. Matur nuwun sanget sedaya peparingipun tali asih tanda tresna ingkang awujud punapa kemawon, sampun katampi kanthi bingah katarimah ing manah, mugi dadosa ngamal kasaenan penjenengan saha angsala ganjaran ingkang murwat saking Gusti Ing Murbeng Jagad. 
  3. Ugi matur nuwun katur para tangga tepalih, sanak kadang, mitra sutresna ingkang paring pambiyantu, penyengkuyung arupi bahu-suku, panggalihan, eguh pratikel, rerigen, saha sanes-sanesipun mrih rancak, lancar, regeng kaleksananipun pahargyan punika.

Para tamu ingkang winengku suka basuki. 

Kaperluan ing dinten punika kados sampun kaserat wonten ing serat sedhahan, Bapa ..... (Orang tua/Ayah calon pengantin) kagungan kersa hangemah-emahaken putra pawestrinipun ingkang anama Rr. ... (Nama Mempelai Wanita) kadhaup Bg. ...(Nama Mempelai Pria) putranipun Bapa/Ibu ...(Orang tua mempelai pria) ing Ngayogyakarta (Contoh). 

Kaleksanan ijab, panggih, saha tata cara adat kejawen sanes-sanesipun awit rahmating Gusti Ingkang Mahaagung wimbuh kasembuh pudyastutinipun para tamu kakung-putri, ginanjar wilujeng tanpa pambeng, rahayu tanpa rerindu, yuwana nis ing sambekala. 

Salajengipun nyuwun tambahing pengestu para tamu, mugi-mugi panganten kekalih tansah rukun, runtung-runtung rerentengan suka bagya mulya, tansah runtut atut, wohing atut pinaringan patutan putra ingkang hanung-hanindhita (maksudnya, anak yang baik lahir batinnya, membahagiakan orang tuanya, serta berguna bagi Nusa, Bangsa, dan Agamanya). 

Para tamu kakung-putri ingkang winantu ing suka rena. 

Niyating manah lan panjangkah, tansah mbudi daya panampi kula, mugi para tamu karenan ing driya.

Ewa dene kok inggih wonten kemawon kekiranganipun, wiwit atur sedhahan ingkang boten trep, asma-sesebatan, kalenggahan, saha sanes-sanesipun, boja saha subasitanipun. Ingkang punika kula nyuwun gunging pangapunten. Ing wasana, kula piyambak kiranging tata krami, nalisiring kasusilan ingkang njalari kirang renaning panggalih, kasuwun halapang jaja hangluberaken agunging samodra pangaksama. Nuwun. 

Wassalamu'alaikum WR. WB. 

Contoh 2

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Para pinisepuh, para bapak, ibu, saha kadang sumitra sinedhahan

Karahayon peparingipun Pengeran, satemah penjenengan kula sedaya saged pinanggih linimputan ing karaharjan. Wajib tinanggapan hing sembah sukur trusing batos.

Salajengipun mangga, tansah nyenyuwun ing Gusti mrih nugraha peparing kang Mahaagung punika, lumastariya dados pepayung ing sapanginggil ing sadayanipun.

Pambage wilujeng kula, kaaturna utawi dhumatenga para sinedhahan, sarta agunging katarimah dene panjenengan sedaya sampun kersa merlokaken hanjenengi utawi hangestreni ijab kalajengaken panggihing panganten, Rr. Dyah Raras Puspita (Contoh/mempelai wanita) kadhaup angger Bg. Setyo Nugroho(Contoh/mempelai pria), sampun kalampahan wilujeng sepen ing sambekala.

Ingkang punika kula suwunaken tambahing pangestu utawi panjurung pepuji mugi lestariya widada jejodhohanipun panganten, runtut salajengipun atut temah tutug terah tumerah ingkang sami bebesanan, kanthi tetangsul turun tan hamastani jalu wanita punapa dene cacahipun. Ing pangesthi momongan ing benjing, mugi boten handadosaken ribeting balewisma.

Tumrap saliring tandha tresna ingkang sampun katampi, ngaturaken sanget agunging panuwun. Nanging panalangsaning manah, bilih anggenipun males sih amung kasumanggakaken ing Pengeran Ingkang Mahawicaksana, hangganjara wilasa ingkang langkung ing sabobot katimbang luhuring budinipun para lila-legawa ing penggalih.

Wasana tumrap kirang jengkeping subastanipun ingkang hatur-hatur kersaa halapang jaja, kanthi ngluberaken samodra gung pangaksama.

Kajawi ugi kasuwun keparenga hanglajengaken lelenggahan sarwi sesanti-sesanti "rahayu wilujeng winantu ing sukarena".

Wassalamu'alaikum Wr. Wb. 


Contoh Pidato Sambutan dari Pihak Mempelai Pria (Pasrah Paningset) 

Contoh 1

Assalamu'alaikum WR. WB. 

Kula nuwun. 

Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) sekalian hingkang winengku ing pakurmatan. 

Sowan kula dipunsaroya Bapa ... (Ayah calon mempelai pria) kekalih, saking Tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat (Contoh) kadhawuhan matur ing ngarsa panjenengan. 

Atur ingkang kapisan, kula hangaturaken salam wilujengipun Bapa ... (Ayah calon mempelai pria) kekalih, mugi katur Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) sakulawarga tansah hamanggya suka basuki. 

Ingkang kaping kalih, kadhawuhan hangantepaken rembag ingkang sampun gumalong hanggenipun Bapa ... (Ayah calon mempelai pria) kekalih, badhe mundhut mantu putra estri panjenengan pun Rr. ....(Nama mempelai wanita) badhe kajodhohaken kaliyan pun Bg. ... (Nama mempelai pria), putra jaleripun Bapa ... (Ayah calon mempelai pria) kekalih, ingkang punika kula kadhawuhan haningseti rembag sesambetanipun Rr. ....(Nama mempelai wanita) kaliyan pun Bg. ... (Nama mempelai pria). 

Kajawi punika, kula ugi kasaroya hangaturaken abon-abon sawatawis minangka rerangkening paningset, mugi Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) keparenga hanampi. Dene, menggah kalajenganing lampah jejodhoanipun lare kekalih punika kula hamung sumangga hing keparengipun Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) sekaliyan. 

Dene minangka pungkasing atur kula, kula nyuwun pangapunten sedaya kekirangan kula nalika matur saha sowan. 

Sapisan malih kula nyuwun pangapunten. Ing wasana cekap semanten atur kula. Nuwun. 

Wassalamu'alaikum WR. WB. 

Contoh 2

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kasugengan saha sih nugrahaning Gusti Ingkang Mahaasih mugi tansah comondhok wonten ing panjenengan sami.

Kairing sagunging pakurmatan.
Ibu saha Bapak Sudarmaji (Contoh/ Orang tua mempelai wanita) tuwin para putra-putri, dalasan sagung kulawarga, miwah para rawuh.

Nuwun, keparenga matur, minangka sesulihipun ibu saha Bapak Gunawan Wibisana (Contoh/ Orang tua mempelai pria) sakeluwarga, kula kadhawuhan masrahaken panganten kakung pun Bagus Setyo Nugroho (Contoh/mempelai pria) katur Ibu saha Bapak Sudarmaji.

Wondene kalampahanipun makaten, kala wau wanci tabuh 09.00 panganten kakung kula pendhet saking dalem jalan Sinar Kencana Raya 4 Semarang (Contoh), kanthi kairing para sepuh, kulawarga, sanak kadang, mitra pitepangan sawatawis, kula bekta sowan dumugi ing dalem Jalan Mangga 27 Temanggung (Contoh) ngriki, kalayan gangsar saha gancar.

Pramila, ngembun saha ngemban dhawuh wigatosing sedya, keparenga ing samangke panganten kakung kula pasrahaken saha kula sumanggakaken katur ibu saha Bapak Sudarmaji cundhuk kaliyan lampahing upacara.

Wasana kula nyuwun pangaksami mbok bilih anggen kula nindakaken ayahan punika wonten ingkang kirang ndadosaken pirenaning panggalih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb. 


Contoh Pidato Sambutan dari Pihak Mempelai Wanita (Nampi Paningset)

Contoh 1

Assalamu'alaikum WR. WB. 

Nuwun. 

Bapa ... (Ayah calon mempelai pria) hingkang winengku ing karahayon. 

Kula hingkang kapiji Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) kekalih, langkung rumiyin kula hangaturaken pambagya wilujeng rawuh panjenengan sakadang.

Salajengipun kaparenga kula hanampi salam wilujengipun Bapa ... (Ayah calon mempelai pria) sekaliyan, hingkang mangke nuli badhe kula aturaken dhumateng Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) kekalih. 

Kajawi hingkang punika, sadaya paring pangandika panjenengan kados sampun cetha trawaca, Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) kekalih hangaturaken sanget agunging panuwun hawit sadaya paparingipun Bapa ... (Ayah calon mempelai pria) minangka abon-aboning paningset. 

Dene menggah kalajenganing tata cara badhe dhaupipun Rr. ....(Nama mempelai wanita) sarta Bg. ... (Nama mempelai pria) sampun wonten hing pamurbanipun Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) kekalih. 

Salajengipun kula ndherek nitipaken salam wilujengipun Bapa ... (Ayah dari calon mempelai wanita) kekalih mugi katur hing Bapa ... (Ayah dari calon mempelai pria) sakaliyan winantu hing sasanti, mugi tansah rahayu hingkang sami pinanggih. 

Mugi wontena keparingipun Bapa ... (Ayah dari calon mempelai pria) sakadang hanglajengaken lelenggahan wonten papanggihan tata cara ringkes hing wiwahan punika ngantos dumugi saparipurnanipun. 

Hing wasana kula nyuwun pangapunten hawit anggen kula hanampi rawuh panjenengan, saha kirang runtuting anggen kula matur. 

Kados cekap semanten atur panampi kula. Nuwun. 

Wassalamu'alaikum WR. WB. 

Contoh 2

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kasugengan saha sih nugrahaning Gusti Ingkang Mahaasih mugi tansah kajiwa kasarira wonten ing panjenengan sami.

Kairing sagunging pakurmatan.
Ibu saha Bapak Gunawan Wibisana (Contoh/ Orang tua mempelai pria) tuwin para putra putri, dalasan agung sakeluwarga, miwah para rawuh.

Nuwun, tumanggap pangandikanipun Bapak Drs. Santoso Wijaya (Contoh/ pembicara dari pihak mempelai pria) ingkang anyulihi ibu saha Bapak Gunawan Wibisana amasrahaken panganten kakung, keparenga matur, minangka sulih sarira Ibu dalah Bapak Sudarmaji, kula kadhawuhan nampi pasrahing panganten kakung ing dalem jalan Mangga 27 Temanggung (Contoh) ngriki.

Pramila, keparenga amratelakaken bilih ing samangke wanci tabuh 10.00 anggen panjenengan masrahaken panganten kakung kula tampi kanthi sae, andadosaken bombong dalah bingahing manah, saha sumangga sami sukur ing Gusti Allah Ingkang Mahaasih.

Salajengipun panganten kakung badhe sarimbit kaliyan panganten putri pun Dyah Raras Puspita (Contoh/ mempelai wanita) dumungkap upacara candhakipun.

Kula nyuwun pangapunten mbok bilih wonten kakirangan tuwin kaladuking panampi.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Itulah Contoh-Contoh Pidato Sambutan dalam Bahasa Jawa Untuk Upacara Pernikahan (Pengantenan). Pidato-pidato di atas dikutip dari tulisan WahYou Eka Solo, dengan sedikit perubahan yang dimuat dalam buku Kabeh Bisa Basa Jawa. Demikian. Semoga bermanfaat.

Selengkapnya
Cara Mudah Isi Pulsa Lewat SMS Banking BRI

Cara Mudah Isi Pulsa Lewat SMS Banking BRI


Bagi pengguna handphone, baik itu android, iphone atau ponsel jadul, pastinya tidak asing dengan yang namanya pulsa. Dengan pulsa, hape baru bisa digunakan untuk mendapatkan beragam fungsi tertentu seperti menelepon, SMS dan sebagainya.

Meski kini kebanyakan orang lebih sering membeli kuota internet daripada pulsa, namun tetap saja sesekali pulsa perlu diisi untuk membuat nomor SIM Card anda tetap hidup dan tentunya bisa untuk internetan.

Apa jadinya jika anda punya banyak kuota internet tapi masa aktif nomor anda sudah habis, pastinya akan sia-sia saja kiranya. Oleh karenanya, pulsa tetap mesti diisi secara berkala entah berapapun nominalnya agar SIM Card anda tetap dapat dipakai selama mungkin, atau mungkin seumur hidup.

Baca juga: Cara Mudah Cek Saldo Rekening BRI Lewat SMS

Mudah isi pulsa sms banking BRI

Bagi anda nasabah Bank BRI, tentunya pernah mendengar adanya layanan dari Bank BRI untuk kemudahan nasabahnya seperti Internet Banking, SMS Banking dan layanan-layanan lainnya. Dengan hadirnya layanan-layanan ini, maka transaksi bank seperti dalam genggaman anda. Khusus bagi pengguna ponsel jadul, anda juga tetap bisa menikmati salah satu dari layanan tersebut yaitu layanan SMS Banking.

Nah, bagi anda yang kebetulan pulsa nomer hapenya mau habis tapi malas untuk pergi beli pulsa ke conter, anda juga bisa memanfaatkan layanan dari SMS Banking ini untuk membeli (isi) pulsa tanpa perlu melangkahkan kaki anda. Bagaimana caranya? 

Cara Mengisi Pulsa Lewat SMS Banking BRI

1. Buka pesan (SMS) baru anda dan gunakan format penulisan berikut ini:

PULSA<spasi>No.HP<spasi>Nominal pulsa<spasi>PIN Rekening anda ➡kirim ke 3300

Sebagai contoh misalnya seperti berikut ini:

Cara sms isi pulsa

2. Jika pesan sudah dikirim, maka tidak lama kemudian anda akan mendapat balasan dari BRI yang berisi keterangan bahwa permintaan pengisian pulsa telah berhasil dipenuhi. Pulsa pun langsung masuk ke nomor anda. 

Balasan 3300

Catatan: 
  • Mungkin akan dikenakan biaya untuk setiap pengiriman SMS. 
  • Nominal isi pulsa minimal Rp. 50.000.
  • Format penulisan pulsa, misal untuk 50.000 cukup ditulis 50, pulsa 100.000 cukup ditulis 100, dst. 
  • Bisa juga untuk mengisi nomor selain yang didaftarkan. 

Namun perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kemudahan dalam mengisi pulsa ini, anda mesti pastikan dulu nomor anda sudah terdaftar untuk bisa menikmati layanan SMS banking ini. Untuk mendaftarkannya, anda bisa datang langsung ke kantor Bank BRI terdekat di kota anda. Jika tidak ingin ribet dan anda faham cara menggunakan mesin ATM, anda bisa mendafarkannya sendiri lewat ATM, caranya yaitu:

  1. Masukan ATM ke mesin ATM. 
  2. Selanjutnya masukkan PIN ATM anda.
  3. Pada menu utama, silahkan pilih  menu Transaksi Lain.
  4. Pilih menu Registrasi, maka kemudian akan muncul menu SMS Banking. Silahkan pilih menu tersebut.
  5. Masukkan nomer handphone yang akan digunakan untuk layanan SMS Banking anda. 
  6. Anda akan diarahkan untuk membuat PIN sebanyak 6 digit. Silahkan buat PIN yang mudah diingat (boleh berbeda dengan PIN ATM). 
  7. Setelah selesai, maka akan keluar struk berisi informasi bahwa anda telah berhasil mendaftar.

Namun jika mendaftar lewat ATM, anda hanya bisa melakukan transaksi nonfinansial seperti cek saldo dan mutasi rekening. Agar bisa untuk transaksi finansial seperti transfer, pembayaran, dan pembelian, maka sebaiknya anda minta tolong pada bagian Customer Service agar dibantu untuk proses pendaftaran dengan melengkapi persyaratan yang diminta.

Tentunya ini akan lebih maksimal, jadi serahkan saja langsung pada Customer Service untuk menanganinya. Jika menemui Customer Service, ada baiknya anda bisa minta sekalian daftarkan juga layanan Internet Banking dan Mobile Banking anda agar bisa mendapatkan kemudahan-kemudahan lainnya sebagai nasabah Bank BRI. Demikian, semoga bermanfaat. 

Selengkapnya
Jenis-Jenis Kurma Populer, Termasuk Kurma Kesukaan Nabi

Jenis-Jenis Kurma Populer, Termasuk Kurma Kesukaan Nabi


Kurma atau dalam bahasa Arab disebut Tamr (تمر) adalah tanaman palma (Arecaceae) dalam genus Phoenix dimana buahnya dapat dimakan. Sudah sejak lama, tanaman kurma telah dibudidayakan dan menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun lamanya.

Di negara-negara Islam, buah kurma juga biasa dijadikan sebagai hidangan utama untuk berbuka puasa saat menjalani puasa di bulan Ramadan. Selain rasanya enak dan manis, buah kurma juga terkenal memiliki banyak kandungan zat gizi yang baik bagi kesehatan. Dikelompokkan menjadi tiga golongan utama yaitu lunak, semi kering, dan kering, ada ratusan jenis kurma yang bisa dijumpai di seluruh dunia ini. 

Jenis jenis kurma
via labbaik.id

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut di antara jenis-jenis kurma populer, termasuk kurma kesukaan Nabi beserta informasinya:

1. Kurma Khalas


Kurma ini merupakan salah satu jenis kurma favorit masyarakat Arab Saudi. Tidak heran, jenis kurma ini banyak tumbuh di wilayah Huffuf dan juga Qatif di bagian timur Arab Saudi. Kurma khalas memiliki ukuran sedang dengan warna coklat kemerahan. Daging buahnya memiliki tekstur lembut dan lengket.

Sedangkan tingkat kemanisan kurma ini tidak terlalu tinggi sehingga banyak disukai untuk dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat Arab. Banyak orang mengatakan rasa kurma khalash ini manis dan enak seperti halnya rasa karamel. Kurma khalas juga termasuk di antara salah satu jenis kurma terbaik kelas atas.

2. Kurma Sukkari


Banyak tumbuh di daerah Arab Saudi, kurma Sukkari atau sering disebut si Ratu Kurma merupakan salah satu jenis kurma yang menjadi kegemaran raja-raja di Timur Tengah. Mungkin karena inilah kurma sukkari ini termasuk kurma mahal dibanding jenis-jenis lainnya.

Kurma sukkari memiliki bentuk hampir bulat dengan warna coklat gelap. Rasa daging buahnya sangat manis seperti namanya, sukkari, yang dalam bahasa Arab berarti gula. Meski bagian luarnya kering renyah, daging buahnya terasa lembut saat bersentuhan dengan lidah. Kurma jenis ini juga memiliki rasa yang khas dan istimewa di banding jenis kurma lainnya. 

3. Kurma Thoori


Jenis kurma ini sangat populer di negara Aljazair dan banyak ditemui di mana-mana, termasuk di Indonesia. Kurma thoory atau thuri ini juga cukup tahan lama jika disimpan, sehingga bisa dinikmati kapan saja. Kurma thoori termasuk jenis kurma kering yang memiliki warna cokelat kemerahan.

Uniknya, ketika diawetkan warnanya akan berubah menjadi kebiru-biruan. Meski memiliki kulit cenderung keriput dengan tekstur daging buah agak keras, kurma ini memiliki dominasi rasa manis serta terdapat sentuhan rasa kacang saat dimakan. 

4. Kurma Mazafati


Banyak tumbuh di wilayah Kerman, Iran, kurma yang juga dijuluki kurma bam ini merupakan jenis kurma paling popular dan terkenal di Iran, bahkan kurma mazafati ini menyumbang sekitar 20% dari jumlah eksport kurma di Iran.

Jenis kurma mazafati memiliki ukuran sedang, berwarna gelap, dan dagingnya bertekstur lembut. Rasanya buahnya cenderung manis dan menyegarkan. Meski kurma mazafati biasa dikonsumsi selagi masih segar, jenis kurma ini juga bisa tahan lama bahkan dapat disimpan hingga dua tahun jika disimpan pada suhu minus lima derajat Celsius. 

5. Kurma Ajwa


Mungkin banyak yang sering mendengar nama jenis kurma satu ini. Ya, kurma ajwa adalah salah satu jenis kurma kegemaran dan kesukaan Nabi Muhammad SAW sehingga sering juga disebut kurma Nabi. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa "Barang siapa mengonsumsi tujuh butir kurma ajwa pada pagi hari, maka hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir" (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Selain keistimewaannya ini, jenis kurma yang tumbuh di kota Madinah ini juga memiliki cita rasa khas lain daripada yang lain. Buahnya berwarna hitam gelap, bertekstur lembut dan memiliki rasa enak tidak terlalu manis menyerupai kismis. Kurma ini juga sangat baik untuk kesehatan. 

6. Kurma Khudri


Kurma Khudri cukup banyak ditemui di pasaran, bahkan sering dijadikan oleh-oleh ketika baru pergi haji atau umrah. Selain itu, jenis kurma ini juga cukup populer di kalangan para koki. Hal ini karena kurma khudri juga sering dijadikan bahan olahan makanan dengan isian cokelat, kacang almond dan sebagainya.

Kurma ini memiliki warna merah kecoklatan, berukuran agak besar, tekstur daging tebal, kering dan kenyal. Rasanya tidak terlalu manis mirip seperti karamel. Kurma khudri juga kaya akan serat, kalium, magnesium dan vitamin sehingga baik untuk kesehatan. Rasa tidak terlalu manis ini membuat kurma khudri cocok untuk dikombinasikan dengan isian berbagai cita rasa pada makanan.

7. Kurma Amer hajj


Jenis kurma ini merupakan varietas kurma terkenal dari Irak. Kurma amer hajj atau amir hajj ini juga sering disebut dengan the visitor's date atau kurma tamu karena memang masyarakat Irak biasa menjadikan kurma ini sebagai hidangan bagi para tamu yang datang berkunjung ke rumah mereka.

Kurma amer hajj memiliki daging tebal dengan tekstur lembut dan kulit tipis. Sedangkan rasanya manis seperti karamel dengan sensasi sedikit ada rasa pedasnya. Jika anda sedang berada di timur tengah dan ingin membelinya, harga kurma ini juga cukup murah dan terjangkau sehingga cukup nyaman untuk menghemat pengeluaran anda. 

8. Kurma Medjool


Berbeda dengan jenis-jenis sebelumnya, kurma Medjool adalah salah satu varietas kurma yang selain dijumpai di kawasan timur tengah juga banyak dibudidayakan di wilayah Arizona, Amerika Serikat. Karena ukurannya yang jauh lebih besar dari jenis kurma lainnya, kurma medjool juga sering dijuluki raja kurma atau cadillacnya kurma, dengan ukuran panjang bisa mencapai 10-15 cm.

Jenis kurma ini memiliki warna coklat muda dengan daging buah gemuk, tebal dan lembab. Rasanya memiliki aroma manis yang khas sehingga banyak orang menyukai kurma jenis ini. Kandungan serat dan mineral penting seperti potassium, magnesium, tembaga, dan mangan dalam kurma ini juga membuat kurma ini sangat baik bagi kesehatan.

9. Kurma Safawi


Kurma safawi adalah salah satu jenis kurma terbaik setelah kurma ajwa yang banyak dijumpai di kota Madinah. Kurma Safawi juga paling digemari karena jumlahnya banyak dan mudah didapatkan di Madinah. Selain cukup populer di pasaran, kurma safawi juga memiliki keunggulan tertentu dibanding jenis kurma lainnya.

Kurma safawi memiliki warna coklat gelap dengan daging buah bertekstur lembab, tebal, legit dan kenyal. Rasanya lezat dengan cita rasa manis alami sehingga dapat menjadi sumber energi bagi tubuh tanpa perlu khawatir akan kadar gula dalam darah. Manfaat lainnya, kurma safawi juga kaya akan kandungan serat sehingga baik untuk kelancaran sistem pencernaan anda. 

10. Kurma Deglet Noor


Jenis kurma terakhir ini merupakan varietas unggul yang sangat terkenal di Libya, Algeria, Amerika, dan Tunisia. Dalam bahasa Indonesia, nama jenis kurma ini bermakna "kurma yang bercahaya" karena buahnya berwarna kuning keemasan atau terang saat terkena sinar matahari. Bahkan kabarnya biji dalam daging buah ini bisa terlihat saat kurma ini didekatkan ke cahaya.

Daging buahnya agak kering dengan tekstur lembut sedikit renyah. Sedangkan rasanya legit mirip madu namun tidak terlalu manis. Selain terkenal di wilayah timur tengah, kurma Deglet Noor juga cukup populer di seluruh dunia karena jenis kurma ini juga cocok untuk diolah menjadi campuran pada puding dan kue.

Itulah di antara jenis-jenis kurma populer yang banyak digemari warga di seluruh dunia. Tentunya selain enak dan manis rasanya, masing-masing jenis kurma tersebut juga memiliki banyak manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh kita. Demikian. Semoga bermanfaat.

Selengkapnya