Kampus-Kampus Perguruan Tinggi di Kendal

Kampus-Kampus Perguruan Tinggi di Kendal

Berada dekat dengan kota Semarang, sebagian pemuda Kendal memang beberapa di antaranya memilih untuk berkuliah di kota Semarang dimana banyak terdapat berbagai kampus perguruan tinggi pilihan. Meski begitu, di Kabupaten Kendal sendiri ternyata juga terdapat beberapa kampus perguruan tinggi unggulan yang tidak kalah kualitasnya dengan di tempat lain. Kampus-kampus tersebut juga membuka beragam program studi unggulan untuk ditawarkan kepada para peminatnya. Apa saja daftar kampus-kampus di Kabupaten Kendal tersebut?. Berikut informasinya. 

1. UNISS (Universitas Selamat Sri) Kendal


Kampus Uniss
pic. via hidupkita.com

Bernaung di bawah Yayasan Wakaf Selamat Rahayu, Universitas Selamat Sri (UNISS) Kendal secara resmi berdiri dengan dikeluarkannya ijin pendirian Universitas oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 156/KPT/I/2016. Universitas Selamat Sri (UNISS) membuka banyak program studi dari 6 fakultas yang tersedia, yaitu Fakultas Teknik dan Rekayasa (FTR), Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Psikologi (FPsi), Fakultas Hukum (FH), dan Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB). Untuk info selengkapnya, anda bisa kunjungi alamat kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta Km 03, Kendal. 

2. Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK) 


Pada mulanya, Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK) yang berdiri pada tahun 2003 ini hanya memiliki satu Program Studi yaitu Program Studi S-1 Pendidikan Agama Islam (PAI). Namun seiring waktu, pada tahun 2016 kampus ini membuka Program Studi S-1 Pendidikan Guru Agama Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Program Studi S-1 Ekonomi Syari’ah (ES) pada tahun 2017. STIK memiliki Visi Menjadi sekolah tinggi Islam yang unggul dalam ilmu dan akhlak pada tahun 2031. Untuk info selengkapnya, silahkan kunjungi alamat kampusnya di Jl. Raya Soekarno-Hatta, Sukup Kulon, Jambearum, Kec. Kendal, Kendal. 

3. Universitas Bhakti Kencana (UBK) Kendal


Kampus ini pada mulanya bernama Akbid Uniska yang berubah menjadi STIKES Uniska, dan berubah bentuk lagi (bergabung) menjadi (bagian) Universitas Bhakti Kencana berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia No. 238/KPT/I/2019 tentang Izin Penggabungan beberapa Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Yayasan Adhi Guna Kencana, terhitung sejak tanggal 25 Maret 2019. Kampus ini menerima Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun 2020/2021 dengan membuka Program Studi D3 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan dan SI Farmasi Fakultas Farmasi. Alamat kampus berada di Jl. Raya Soekarno-Hatta No.99, Sukup Kulon, Jambearum, Kec. Patebon, Kendal. 

4. STIKES Kendal


Bernaung di bawah Yayasan Ngesti Widhi Husada, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Kendal berdiri pada tahun 2003 berdasarkan SK Mendiknas RI Nomor: 76/D/O/2004. Pada awalnya, STIKES Kendal menyelenggarakan Program Studi Ilmu Keperawatan dan Program Studi Kesehatan Masyarakat. Selanjutnya pada tahun 2007 juga mulai menyelenggarakan Program Pendidikan Profesi Ners angkatan I, dan pada tahun 2010 menyelenggarakan Program Studi Farmasi (D3), serta pada tahun 2015 STIKES Kendal menambah 1 Program Studi S1 Farmasi. Untuk info selengkapnya, anda bisa kunjungi langsung alamat kampusnya di Jalan laut No.31 Kecamatan Ngilir Kabupaten Kendal Jawa Tengah 51311. 

5. STIKES Muhammadiyah Kendal


Bermula dari Akper Muhammadiyah Kendal yang berdiri pada tahun 1996, kampus ini kini telah berubah bentuk menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Kendal berdasarkan SK. MENRISTEKDIKTI NOMOR : 17/KPT/I/ 2018. Kampus ini memiliki visi "Pada tahun 2034 menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan yang Unggul ditingkat Nasional dalam menghasilkan Tenaga kesehatan yang Berkarakter,  Berbudaya, dan Berkompeten yang dilandasi nilai-nilai Qur’ani". STIKES Muhammadiyah Kendal membuka 2 Program Studi yakni Prodi S1 Gizi dan D3 Keperawatan. Alamat kampusnya berada di Jl. Pemuda No.42-46, Karanggeneng, Pegulon, Kec. Kendal, Kendal. 

6. STIT Muhammadiyah Kendal


Berdiri sejak tahun 1990, kampus ini semula bernama Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Kendal. Dalam perkembangannya, untuk menyesuaikan Peraturan Menteri Agama Nomor : 3 Tahun 1987 tentang Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta, kampus ini kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Kendal pada tahun 1991. Program Studi yang tersedia yaitu S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Untuk info selengkapnya, silahkan kunjungi alamat kampusnya di Jl. Sukorejo - Parakan Km. 5 Pagersari Patean Kabupaten Kendal, Kode Pos 51364 Telp. 0294-3652959.

7. STEKOM Kampus Kendal


Sebagai sebuah institusi, Sekolah Tinggi Elektronika & Komputer (STEKOM) sangat mengutamakan kualitas pendidikan dan memberikan ilmu/keahlian yang berorientasi pada dunia kerja, sehingga para lulusan STEKOM akan memiliki ilmu dan pengetahuan sebagai bekal untuk mendapatkan kesuksesan di dunia kerja. Gedung kampusnya tersebar di Semarang, Ungaran, Kendal, Salatiga, dan Ambarawa. Ada banyak program studi yang tersedia berkaitan dengan elektronika dan komputer dengan taraf Diploma dan S1 di STEKOM. Bagi anda warga Kendal, untuk kampus STEKOM Kendal kota beralamat di Jl Raya Soekarno Hatta 61 Kendal, STEKOM Kaliwungu Kendal di Jl. Pantura Semarang - Kendal No.25 Kendal, dan STEKOM Weleri di Jl. Utama Barat 26 Weleri. 

8. Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) Kendal 


Berdiri pada tahun 2018, Politeknik Industri Furnitur Dan Pengolahan Kayu atau lebih dikenal polifurneka adalah salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Kendal yang berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Kampus ini memiliki visi "Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu menjadi role model pendidikan sektor industri furnitur dan pengolahan kayu yang menjadi pijakan bagi pengakuan internasional pada tahun 2030". Tiga program studi yang disetujui untuk diselenggarakan adalah Teknik Produksi Furnitur, Desain Industri Furnitur dan Manajemen Bisnis Furnitur. Alamat kampusnya berada di Jalan Wanamarta Raya No. 20, Kawasan Industri, Tambak, Wonorejo, Kaliwungu, Kendal. 

9. Poltekkes Kemenkes Semarang Kampus Kendal


Sebelumnya, kampus ini bernama Akbid Pemkab Kendal yang kemudian pengelolaannya kini diserahkan kepada Poltekkes Kemenkes Semarang sesuai surat keputusan dari Kemenkes RI Nomor 1354/KPT/I/2018 tentang Pencabutan Izin Pembukaan Program Studi Kebidanan Program Diploma Tiga pada Akademisi Kebidanan Pemkab Kendal Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Semarang Kampus Kendal membuka program studi di antaranya yaitu Prodi D III Keperawatan dan Prodi D III Kebidanan. Alamat kampus Kendal berada di Jl. Laut No.21, Patukangan, Kendal. 

Itulah daftar kampus perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Kendal. Semoga dapat memberikan referensi bagi anda yang sedang membutuhkan. Semoga bermanfaat. (sumber dinukil dari web masing-masing kampus

Selengkapnya
Biografi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

Biografi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional


Beberapa waktu lalu (2 Mei), kita baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional atau biasa disingkat HARDIKNAS. Penentuan tanggal ini dipilih karena merupakan hari kelahiran dari Bapak Pendidikan Indonesia yakni Ki Hajar Dewantara. 

Tokoh yang juga merupakan Menteri Pendidikan pertama Indonesia ini telah berjasa besar dalam dunia pendidikan di tanah air. Semboyan "Tut Wuri Handayani" yang dicetuskannya juga tetap digunakan dalam dunia pendidikan Indonesia hingga saat ini. 

Untuk mengenang perjuangan beliau, pada artikel kali ini kita akan mengupas mengenai sejarah perjalanan hidup beliau. 

Ki Hadjar Dewantara

Biografi Ki Hajar Dewantara


Ki Hadjar Dewantara (Jawa: Ki Hajar Dewantoro) adalah seorang tokoh Nasional yang berjasa besar bagi sejarah dunia pendidikan di Indonesia. Beliau adalah seorang pahlawan, aktivis pergerakan kemerdekaan, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada masa penjajahan Belanda. 

Beliau juga merupakan pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Masa Kecil dan Perjalanan Karirnya


Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman, Yogyakarta. Raden Mas Soewardi adalah putra dari GPH Soerjaningrat dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, dan merupakan cucu dari Pakualam III. 

Raden Mas Soewardi menamatkan pendidikan dasarnya di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda), kemudian sempat lanjut hingga ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), namun tidak berhasil menamatkannya karena sakit. 

Menapaki dunia karir, perjalanan hidup Ki Hajar Muda berlanjut dengan menjadi seorang penulis dan wartawan di sejumlah surat kabar antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. 

Sebagai seorang jurnalis, karir Raden Mas Soewardi cukup cemerlang pada masa itu. Ia tergolong penulis yang handal dalam menggoreskan setiap pemikiran-pemikirannya. Tulisan-tulisannya dikenal komunikatif, mudah dipahami, dan tajam dalam menumbuhkan semangat antikolonial.

Aktif dalam Dunia Pergerakan


Selain menjadi seorang jurnalis, Raden Mas Soewardi juga turut berkecimpung dalam dunia pergerakan tempat berkumpulnya para aktivis pergerakan. Ia bergabung dengan Boedi Oetomo (BO), sebuah organisi pemuda yang berdiri sejak tahun 1908 dan aktif sebagai seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama Boedi Utomo di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Selain aktif di Boedi Oetomo, Raden Mas Soewardi juga menjadi anggota organisasi Insulinde, organisasi multietnis didominasi kaum Indo dengan tujuan memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. 

Bersama dengan Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) dan Tjipto Mangoenkoesoemo, R M. Soewardi Soerjaningrat kemudian mendirikan Indische Partij (Partai Hindia), partai politik pertama di Hindia Belanda pada tanggal 25 Desember 1912. Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan yang secara terang-terangan bergerak di bidang politik dan ingin mencapai Indonesia merdeka. Bersama kedua rekannya itu, kelak ketiganya kemudian dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai. 

Tiga Serangkai

Peran ketiganya terlihat nyata pada tahun 1913, yakni saat pemerintah Hindia Belanda hendak ikut mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Prancis). R M. Soewardi Soerjaningrat menulis sebuah artikel bernada sarkastis yang berjudul Als ik een Nederlander was (Andaikan aku seorang Belanda), dengan menyindir Pemerintah Hindia Belanda sangat tidak tahu diri karena merayakan kemerdekaannya di tanah bangsa yang mereka rebut kemerdekaannya. 

Akibat dari tulisannya ini, R M. Soewardi Soerjaningrat pun ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Melihat rekannya ditangkap, kedua sahabatnya yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo pun memprotes keputusan itu hingga akhirnya ketiganya malah diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. 

Berada dalam Pengasingan


Saat berada di pengasingan, R M. Soewardi Soerjaningrat aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia yakni Indische Vereeniging yang berarti Perhimpunan Hindia. Pada tahun 1913, dia kemudian mendirikan Indonesisch Pers-bureau, atau dalam bahasa Indonesia berarti "kantor berita Indonesia". Inilah penggunaan formal pertama dari penyebutan istilah "Indonesia" yang diciptakan pada tahun 1850 oleh ahli bahasa asal Inggris George Windsor Earl dan pakar hukum asal Skotlandia James Richardson Logan.

Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini, R M. Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat seperti Froebel dan Montessori, dan pergerakan pendidikan di negara Asia Selatan khususnya India yang dipimpin keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Mendirikan Taman Siswa


Setelah masa pengasingan berakhir, R M. Soewardi Soerjaningrat kembali ke tanah air pada September 1919 dan kemudian bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. 

Setelah mendapat pengalaman mengajar, Pada tanggal 3 Juli 1922 R M. Soewardi Soerjaningrat kemudian mendirikan institusi pendidikan bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau dalam Bahasa Indonesia disebut Perguruan Nasional Tamansiswa. 

Ia juga mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, dengan tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Tamansiswa

Pada masa inilah ia mencetuskan semboyannya yang terkenal dalam dunia pendidikan Indonesia hingga saat ini. Secara utuh, bunyi semboyan dalam bahasa Jawa tersebut berbunyi: "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" atau dalam Bahasa Indonesia berarti "di depan memberikan teladan, di tengah memberi semangat atau dukungan, di belakang memberi dorongan". Semboyan ini dapat dimaknai sebagai suatu dorongan motivasi bagi seorang pendidik terhadap muridnya, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, baik secara IQ maupun ESQ.

Pengabdian Setelah Masa Kemerdekaan


Setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara dipercaya oleh presiden Soekarno untuk menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama dalam kabinet pertama Republik Indonesia. 

Melalui jabatannya ini, Ki Hadjar Dewantara semakin leluasa untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1957, Ki Hadjar Dewantara juga mendapatkan gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada atas jasa-jasanya dalam dunia Pendidikan di Indonesia.

Ki Hajar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. 

Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya sebagai tokoh peletak segala dasar sistem pendidikan di Indonesia, Ki Hajar Dewantara kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Tidak hanya itu saja, tanggal kelahirannya, 2 Mei pun juga ditetapkan sebagai hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahunnya. (diolah dari berbagai sumber). 

Selengkapnya
Perintah Bekerja dalam Islam dan Etikanya

Perintah Bekerja dalam Islam dan Etikanya


Dalam pemahaman secara umum, setiap orang mesti bekerja atau berkarya agar dapat mandiri dan mampu untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Dalam Islam, Allah SWT dan Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada umatNya agar selain beribadah, mereka juga mesti rajin bekerja untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas, 77)

Selain itu, bekerja untuk mencari rezeki yang halal guna memelihara kelangsungan hidup dan meningkatkan taraf hidup ke arah lebih baik hukumnya adalah wajib. Rasulullah SAW bersabda:

"Bekerja mencari rezeki yang halal itu wajib bagi setiap Muslim". (HR. Tabrani) 

Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

"Tidaklah seseorang menyantap makanan yang lebih baik daripada makanan yang dihasilkan dari hasil kerjanya sendiri." (HR. Bukhari)

Dari dalil-dalil di atas dapat dipahami bahwa Islam mencintai umatnya yang giat bekerja, mandiri, terlebih juga rajin memberi. Sebaliknya, Islam membenci mereka yang pemalas, suka berpangku tangan dan hanya menjadi beban bagi orang lain. 

Orang rajin bekerja pandai besi
ilustrasi pekerja

Di dalam berkarya atau bekerja, setiap Muslim juga hendaknya bekerja sesuai dengan etika Islam untuk meraih tujuan filosofis kegiatan kerja yang Islami. Di antara tujuan filosofis bekerja adalah untuk memperoleh ridha Allah, memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga, serta sebagai bekal dalam beribadah. 

Adapun beberapa etika bagi setiap Muslim dalam bekerja yang perlu diperhatikan di antaranya yaitu:

1. Melandasi setiap kegiatan bekerja dengan niat semata-mata ikhlas karena Allah untuk memperoleh ridhaNya. Suatu pekerjaan jika dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah SWT tentu akan memperoleh pahala ibadah. Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT tidak akan menerima amalan melainkan amalan yang ikhlas untuk memperoleh keridhaanNya". (HR. Ibnu Majah)

2. Mencintai pekerjaannya, karena pekerja yang mencintai pekerjaannya, biasanya akan melaksanakan kegiatan kerjanya dengan semangat, antusiasme tinggi, dan suka hati sehingga akan meraih hasil kerja yang optimal.

3. Mengawali setiap kegiatan kerja dengan ucapan basmalah. Rasulullah SAW bersabda, "Setiap urusan yang baik (bermanfaat) yang tidak dimulai dengan ucapan basmalah (bismillaahirrahmaanirrahiim) maka terputus berkahnya". (HR. Abdul Qahir dari Abu Hurairah). 

4. Giat dalam bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya, karena hal itu juga merupakan kewajiban bagi seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya". (HR. Ahmad, Abu Daud dan al-Hakim).

5. Melaksanakan kegiatan kerja dengan cara yang halal. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang baik, mencintai yang baik (halal) dan tidak menerima (sesuatu) kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sesuatu yang diperintahkan kepada para utusanNya". (HR. Muslim dan Tirmizi). 

6. Tidak melakukan kegiatan kerja yang bersifat mendurhakai Allah dan hukumnya haram. Misalnya bekerja sebagai germo, pencatat riba (rentenir), dan semacamnya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk mendurhakai Sang Pencipta". (HR. Ahmad bin Hambal). 

7. Tidak membebani diri, alat-alat produksi, dan hewan pekerja dengan pekerjaan-pekerjaan di luar batas kemampuannya. 

8. Memiliki sifat-sifat terpuji seperti jujur, dapat dipercaya, gemar tolong menolong dalam kebaikan, dan profesional dalam bekerja. 

9. Bersabar apabila menghadapi hambatan-hambatan dalam bekerja dan bersyukur apabila mendapat kemudahan dan memperoleh keberhasilan.

10. Menjaga keseimbangan antara kerja yang manfaatnya untuk kehidupan di dunia dan ibadah/kerja yang manfaatnya untuk kehidupan di akhirat. Seseorang yang sibuk bekerja hingga meninggalkan shalat lima waktu maka itu tidak sesuai dengan etika Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok". (HR. Ibnu Asakir) 

Demikianlah sekilas tentang perintah bekerja dan etikanya bagi setiap Muslim. Insya Allah seorang manusia akan meraih kesuksesan dan meningkat taraf hidupnya apabila ia berusaha dalam bekerja dengan sungguh-sungguh. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (kecuali) bila mereka sendiri mengubah keadaannya". (QS. Ar Ra'du, 11).

Selengkapnya
Tentang Nabi dan Rasul Serta Kewajiban Mengimani Mereka

Tentang Nabi dan Rasul Serta Kewajiban Mengimani Mereka


Salah satu di antara enam rukun iman yang wajib dimiliki oleh seorang Muslim adalah iman akan keberadaan para Utusan Allah. Iman kepada Rasul-Rasul Allah berarti mempercayai bahwa Rasul Allah adalah seseorang yang diutus dan ditugaskan Allah untuk menyampaikan ajaran Allah (wahyu) yang diterimanya kepada umatnya agar dijadikan sebagai pedoman hidup.

Nabi dan Rasul
via bandungcitytoday.com

Para Ulama dan umat Islam berpendapat bahwa setiap Rasul sudah pasti Nabi, tetapi tidak setiap Nabi menjadi Rasul. Rasul adalah Nabi yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu (ajaran Allah) kepada umat manusia. Adapun Nabi yang tidak diberi tugas untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia maka ia bukan Rasul, melainkan hanya seorang Nabi. Dalam konteks syiar, para Nabi hanya akan menunjukkan wahyu yang dimiliki pada kasus-kasus yang dihadapi.

Ulama dan umat Islam yang berpendapat demikian beralasan kepada sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Zar, bahwa jumlah Nabi ada 124.000 orang, sedangkan Rasul berjumlah 313 orang. Keterangan mengenai hal ini juga termaktub dalam Syarah kitab Riyadhul Badi'ah karya Syeikh Muhammad Nawawi al Jawi. Dijelaskan dalam kitab tersebut bahwa nama 313 Rasul tersebut adalah:

Adam As., Tsits As., Anuwsy As., Qiynaaq As., Mahyaa’iyl As., Akhnuwkh As., Idris As., Mutawatsilakh As., Nuh As., Hud As., Abhaf As., Murdaaziyman As., Tsari’ As., Sholeh As., Arfakhtsyad As., Shofwaan As., Handholah As., Luth As., Ishoon As., Ibrahim As., Isma’il As., Ishaq As., Ya’qub As., Yusuf As., Tsama’il As., Su’aib As., Musa As., Luthoon As., Ya’wa As., Harun As., Kaylun As., Yusya’ As., Daaniyaal As., Bunasy As., Balyaa As., Armiyaa As., Yunus As., Ilyas As., Daud As., Sulaiman As., Ilyasa’ As., Ayub As., Aus As., Dzanin As., Alhami’ As., Tsabits As., Ghobir As., Hamilan As., Dzulkifli As., Uzair As., Azkolan As., Izan As., Alwun As., Zayin As., Aazim As., Harbad As., Syadzun As., Sa’ad As., Gholib As., Syamaas As., Syam’un As., Fiyaadh As., Qidhon As., Saarom As., Ghinadh As., Saanim As., Ardhun As., Babuzir As., Kazkol As., Baasil As., Baasan As., Lakhin As., Ilshots As., Rasugh As., Rusy’in As., Alamun As., Lawqhun As., Barsuwa As., Al-‘Adzim As., Ratsaad As., Syarib As., Habil As., Mublan As., Imron As., Harib As., Jurits As., Tsima’ As., Dhorikh As., Sifaan As., Qubayl As., Dhofdho As., Ishoon As., Ishof As., Shodif As., Barwa’ As., Haashiim As., Hiyaan As., Aashim As., Wijaan As., Mishda’ As., Aaris As., Syarhabil As., Harbiil As., Hazqiil As., Asymu’il As., Imshon As., Kabiir As., Saabath As., Ibaad As., Basylakh As., Rihaan As., Imdan As., Mirqoon As., Hanaan As., Lawhaan As., Walum As., Ba’yul As., Bishosh As., Hibaan As., Afliq As., Qoozim As., Ludhoyr As., Wariisa As., Midh’as As., Hudzamah As., Syarwahil As., Ma’n’il As., Mudrik As., Hariim As., Baarigh As., Harmiil As., Jaabadz As., Dzarqon As., Ushfun As., Barjaaj As., Naawi As., Hazruyiin As., Isybiil As., Ithoof As., Mahiil As., Zanjiil As., Tsamithon As., Alqowm As., Hawbalad As., Solih As., Saanukh As., Raamiil As., Zaamiil As., Qoosim As., Baayil As., Yaazil As., Kablaan As., Baatir As., Haajim As., Jaawih As., Jaamir As., Haajin As., Raasil As., Waasim As., Raadan As., Saadim As., Syu’tsan As., Jaazaan As., Shoohid As., Shohban As., Kalwan As., Shoo’id As., Ghifron As., Ghooyir As., Lahuun As., Baldakh As., Haydaan As., Lawii As., Habro’a As., Naashii As., Haafik As., Khoofikh As., Kaashikh As., Laafats As., Naayim As., Haasyim As., Hajaam As., Miyzad As., Isyamaan As., Rahiilan As., Lathif As., Barthofun As., A’ban As., Awroidh As., Muhmuthshir As., Aaniin As., Namakh As., Hunudwal As., Mibshol As., Mudh’ataam As., Thomil As., Thoobikh As., Muhmam As., Hajrom As., Adawan As., Munbidz As., Baarun As., Raawan As., Mu’biin As., Muzaahiim As., Yaniidz As., Lamii As., Firdaan As., Jaabir As., Saalum As., Asyh As., Harooban As., Jaabuk As., Aabuj As., Miynats As., Qoonukh As., Dirbaan As., Shokhim As., Haaridh As., Haarodh As., Harqiil As., Nu’man As., Azmiil As., Murohhim As., Midaas As., Yanuuh As., Yunus As., Saasaan As., Furyum As., Farbusy As., Shohib As., Ruknu As., Aamir As., Sahnaq As., Zakhun As., Hiinyam As., Iyaab As., Shibah As., Arofun As., Mikhlad As., Marhum As., Shonid As., Gholib As., Abdullah As., Adruzin As., Idasaan As., Zahron As., Bayi’ As., Nudzoyr As., Hawziban As., Kaayiwuasyim As., Fatwan As., Aabun As., Rabakh As., Shoobih As., Musalun As., Hijaan As., Rawbal As., Rabuun As., Mu’iilan As., Saabi’an As., Arjiil As., Bayaghiin As., Mutadhih As., Rahiin As., Mihros As., Saahin As., Hirfaan As., Mahmuun As., Hawdhoon As., Alba’uts As., Wa’id As., Rahbul As., Biyghon As., Batiihun As., Hathobaan As., Aamil As., Zahirom As., Iysaa As., Shobiyh As., Yathbu’ As., Jaarih As., Shohiyb As., Shihats As., Kalamaan As., Bawumii As., Syumyawun As., Arodhun As., Hawkhor As., Yaliyq As., Bari’ As., Aa’iil As., Kan’aan As., Hifdun As., Hismaan As., Yasma’ As., Arifur As., Aromin As., Fadh’an As., Fadhhan As., Shoqhoon As., Syam’un As., Rishosh As., Aqlibuun As., Saakhim As., Khoo’iil As., Ikhyaal As., Hiyaaj As., Zakariyya As., Yahya As., Jurhas As., Isa As., Muhammad SAW.

Ciri-Ciri dan Sifat-Sifat Rasul


Rasul adalah manusia utama pilihan Allah SWT. Allah lah yang dengan hak mutlakNya memilih seseorang menjadi Rasulnya. Ciri-ciri seorang Rasul antara lain seorang laki-laki yang sehat jasmani dan rohaninya, mempunyai akal yang sempurna, berjiwa 'ismah (mampu mengendalikan diri dari berbuat dosa), dan berasal dari keturunan orang baik-baik. Selain itu, para Rasul juga memiliki sifat-sifat mulia yakni Sidiq (benar atau jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan risalah), dan Fathanah (cerdas atau cerdik cendekia).

Mukjizat Para Rasul


Setiap Rasul memperoleh mukjizat sebagai bukti akan kebenaran kerasulannya. Mukjizat adalah suatu kejadian luar biasa yang menyalahi adat kebiasaan dan hukum sebab akibat, yang dikaruniakan Allah kepada RasulNya. 

Contoh mukjizat para Rasul antara lain Nabi Ibrahim tidak hangus ketika dibakar oleh raja Namrud (lihat QS. Al Anbiya, 69), tongkat Nabi Musa As dapat berubah menjadi ular besar yang memakan habis ular-ular ciptaan tukang sihir raja Fir'aun (lihat QS. Taha, 69), Nabi Isa mampu membuat burung dari tanah, menyembuhkan penyakit kusta tanpa pengobatan, dan dapat menghidupkan orang yang telah mati (lihat QS. Al Maidah, 110), dan Nabi Muhammad SAW mukjizatnya yang terbesar adalah Al Qur'an, dimana isi kandungannya serta keindahan bahasanya tidak ada yang mampu menandingi (lihat QS. Al-Isra', 88).

Para Rasul Ulul Azmi


Selain daripada itu, di antara para Nabi dan Rasul itu ada 5 orang yang termasuk ulul azmi, yaitu Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa As, Nabi Isa As, dan Nabi Nuh As. Ulul Azmi adalah Nabi dan Rasul yang dikenal memiliki kesabaran dan ketabahan luar biasa di dalam menghadapi berbagai penderitaan dan gangguan selama melaksanakan tugas risalahnya. Allah SWT berfirman, "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-Rasul yang telah bersabar (ulul azmi)" (QS. Al Ahqaf, 35).

Jumlah Nabi dan Rasul dalam Al Qur'an


Mengenai jumlah para Rasul dan Nabi dari semenjak Nabi Adam As sampai dengan Nabi terakhir Nabi Muhammad SAW, Al Qur'an memang tidak menjelaskan secara keseluruhan. Akan tetapi Rasul yang dikisahkan Allah dalam Al Qur'an dimana kita wajib mengetahuinya berjumlah 25 orang. Mengenai hal ini Allah berfirman, "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada juga yang tidak Kami ceritakan kepadamu" (QS. Al Mukmin, 78).

Adapun 25 Nabi dan Rasul yang wajib diketahui bagi seorang muslim yaitu:

1. Nabi Adam A.S
2. Nabi Idris A.S 
3. Nabi Nuh A.S 
4. Nabi Hud A.S 
5. Nabi Sholeh A.S 
6. Nabi Ibrahim A.S 
7. Nabi Luth A.S 
8. Nabi Ismail A.S 
9. Nabi Ishak A.S 
10. Nabi Yaqub A.S 
11. Nabi Yusuf A.S 
12. Nabi Ayub A.S 
13. Nabi Syu’aib A.S 
14. Nabi Musa A.S 
15. Nabi Harun A.S 
16. Nabi Daud A.S 
17. Nabi Sulaiman A.S 
18. Nabi Ilyas A.S 
19. Nabi Ilyasa A.S 
20. Nabi Yunus A.S 
21. Nabi Dzulkifli A.S 
22. Nabi Zakaria A.S 
23. Nabi Yahya A.S 
24. Nabi Isa A.S 
25. Nabi Muhammad S.A.W

Kewajiban Beriman Kepada Para Rasul


Hukum beriman kepada para Rasul, bahwa mereka merupakan utusan-utusan Allah SWT yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah (wahyu atau ajaran Allah) yang diterimanya kepada umatnya agar dijadikan pedoman hidup adalah fardhu 'ain. Artinya, jika ada orang mengaku beragama Islam tetapi tidak beriman kepada para Rasul sebagaimana tercantum dalam Al Qur' an tersebut, maka orang tersebut dianggap kafir. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain), serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir). Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan." (QS. An-Nisa', 150-151)

Wujud Iman Kepada Para Rasul


Sebagai Muslim, perilaku beriman kepada Rasul-Rasul Allah ini dapat kita wujudkan antara lain dengan:

1. Menaati risalah (ajaran Allah) yang disampaikan Rasulnya. Allah SWT berfirman, "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. Al-Hasyr, 7)

2. Melaksanakan seruan Rasul untuk beribadah hanya kepada Allah SWT, dan menjauhkan diri dari segala sikap serta perilaku syirik.

3. Beperilaku giat dan rajin bekerja untuk mencari rizki halal sesuai dengan keahlian masing-masing. Muslim yang memenuhi kebutuhannya dengan hasil usaha sendiri jauh lebih terhormat daripada mengharap belas kasihan atau pertolongan orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak seorang pun yang makan lebih baik daripada makan hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud As makan dari hasil usahanya sendiri (maksudnya yang terbaik untuk dimakan seseorang ialah makanan yang berasal dari hasil jerih payahnya, sebagaimana dicontohkan Nabi Daud yang makan dari hasil kerjanya)". (HR. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa'i).

4. Menjaga eratnya persaudaraan sesama Umat Islam dengan hidup saling tolong menolong dan menebarkan kebaikan di mana pun berada. 

5. Berusaha meningkatkan kualitas hidupnya ke derajat lebih tinggi, misalnya dengan memelihara kesehatan jasmani dan rohani, meningkatkan iman dan taqwa dengan rajin beramal ibadah, serta mendalami berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat sebagai bekal dalam beribadah dan usaha mensejahterakan umat manusia. Wallahu A'lam

Selengkapnya
Mengenal 10 Tokoh Penyair Kenamaan Indonesia

Mengenal 10 Tokoh Penyair Kenamaan Indonesia


Beberapa hari yang lalu (28/4), kita baru saja memperingati Hari Puisi Nasional, dimana dalam sejarahnya penentuan tanggal ini bertepatan dengan tanggal wafatnya salah seorang penyair kenamaan tanah air yakni Chairil Anwar. Chairil Anwar dikenal dengan gagasan puisinya yang mendobrak, sehingga beberapa kalangan menganggapnya sebagai orang yang pertama-tama merintis jalan dan membentuk aliran baru dalam kasusastraan Indonesia. 

Sepeninggal Chairil Anwar, bermunculan pula tokoh-tokoh penyair lainnya di negeri ini dengan kehebatannya masing-masing. Karya-karya puisi gubahan mereka juga melegenda dan sangat berpengaruh terhadap kesusastraan tanah air. 

Penyair dan Sastrawan kenamaan Nusantara

Penasaran siapa saja mereka?. Berikut ini kami rangkumkan beberapa di antaranya untuk anda. 

1. Chairil Anwar


Meski sudah sedikit disinggung di atas, kurang elok kiranya jika nama sosok ini kurang mendapat ulasan di artikel ini. Sosok kelahiran Medan 26 Juli 1922 ini memang telah begitu banyak menyumbangkan peninggalan di bidang sastra. Karya puisinya diketahui berjumlah kurang lebih 70 karya dari 96 karya sastra yang telah dituliskan. Chairil Anwar dikenal piawai dalam melahirkan karya-karya heroik dan menggugah kehidupan. Puisi-puisinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Dijuluki "Si binatang jalang", Chairil Anwar juga dinobatkan H. B Jasin sebagai pelopor sastrawan angkatan 45 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Salah satu karya legendarisnya berjudul "Aku", puisi yang besar pengaruhnya pada angkatan 45. Karyanya ini juga menggambarkan alam individualistis dan vitalitasnya sebagai seorang penyair. Chairil Anwar memang telah berpulang di usia muda, tepatnya pada usia 26 tahun (wafat 28 April 1949). Meski begitu, namanya akan selalu dikenang melalui karya-karyanya yang melegenda hingga kini. 

2. WS. Rendra


Penyair berjuluk "Si Burung Merak" ini lahir di Solo, 7 November 1935 dan meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada usia 73 tahun. Sejak muda, Rendra telah menulis berbagai puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Tahun 1967, ia mendirikan Bengkel Teater, yang telah banyak melahirkan seniman-seniman berbakat seperti Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, dan lain-lain. 

Sebagai seorang sastrawan, WS Rendra mempunyai pengaruh besar terhadap kesusastraan Indonesia. Karyanya mengalun menurut kebiasaannya sendiri. Ia menggubah puisi atau karya-karyanya dengan kata yang rapi dan apik dibaca maupun didengar. Karya-karyanya tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Beberapa karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. 

3. Sitor Situmorang


Penulis asal Tapanuli Utara, Sumatera Utara ini merupakan seorang penyair Indonesia terkemuka setelah meninggalnya Chairil Anwar. Sebagai seorang pengagum Soekarno, Sitor Situmorang juga terlibat dalam ideologi perjuangan pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an. Sitor Situmorang menulis sajak, cerita pendek, esai, naskah drama, naskah film, karya terjemahan, dan telaah sejarah lembaga pemerintahan Batak Toba. Sepanjang hidupnya, ia telah berkelana ke berbagai negara mulai dari Singapura, Amsterdam (Belanda), Paris (Prancis), dan Pakistan. 

Sitor memulai kariernya sebagai wartawan di beberapa Surat Kabar, dimana dia bergaul dengan dunia tulis menulis. Sitor menampilkan corak simbolik dalam sajak-sajaknya, terutama sajak-sajak awalnya yang terhimpun dalam Surat kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama. Karya-karya Sitor Situmorang ini telah memberi oksigen bagi pembaca yang haus komposisi. Puisinya yang amat terkenal sebagai puisi paling pendek berjudul "Malam Lebaran". Pujangga kelahiran 2 Oktober 1923 ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda, pada usia 91 tahun. 

4. Goenawan Mohamad


Sastrawan bernama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad ini lahir di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Selain sebagai sastrawan, ia juga merupakan budayawan dan seorang intelektual yang memiliki pandangan terbuka. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Pada tahun 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time.

Pemikiran-pemikiran Goenawan Mohamad yang terbuka turut berpengaruh terhadap karya-karyanya. Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir (Caping), sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang Majalah Tempo. Hingga kini, ia juga masih aktif menulis Catatan Pinggir tersebut. 

5. Sutardji Calzoum Bachri


Lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941, Sutardji Calzoum Bachri adalah sastrawan kenamaan tanah air yang mendapat julukan Presiden Penyair Indonesia. Ia merintis bidang sastra saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Padjadjaran dengan menulis di beberapa surat kabar. Sajak-sajaknya sempat dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana. Ia juga pernah menjadi redaktur rubrik budaya "Bentara" di Kompas dan kemudian menjadi redaktur Horison sejak tahun 1979.

Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri adalah karya sastra yang mengusung konsep kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian. Ia berhasil mengeluarkan konsep puisi keluar dari pakemnya. Ia menyatakan bahwa penciptaan puisi pada dasarnya pembebasan kata-kata yang berarti mengembalikan kata pada mulanya, yaitu mantra. Selain itu, ia juga banyak menggunakan bahasa figuratif atau bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara tidak biasa, melalui makna kias atau lambang. Salah satu karyanya yang terkenal adalah "Tragedi Winka Sihka". 

6. Joko Pinurbo


Tokoh kelahiran Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat pada 11 Mei 1962 ini merupakan salah seorang penyair terkemuka Indonesia yang karya-karyanya telah menorehkan gaya dan warna tersendiri dalam dunia puisi Indonesia. Joko Pinurbo  telah menggeluti puisi sejak remaja dan mulai menulis pada usia 20 tahun. Berbagai penghargaan berhasil ia raih seperti Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014) dan South East Asian (SEA) Write Award (2014).

Joko Pinurbo banyak melahirkan karya-karya yang memadukan unsur naratif, ironi refleksi diri, dan tak jarang membubuhkan unsur "nakal". Ia dikenal piawai menggunakan dan mengolah citraan yang mengacu pada peristiwa dan objek sehari-hari dengan bahasa yang cair tapi tajam. Puisi-puisinya banyak mengandung refleksi dan kontemplasi yang menyentuh absurditas sehari-hari. Sejumlah puisinya juga telah dimusikalisasi antara lain oleh Oppie Andaresta dan Ananda Sukarlan.

7. Widji Thukul


Widji Thukul, atau bernama asli Widji Widodo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963) adalah salah seorang sastrawan kenamaan Indonesia. Selain sebagai sastrawan, ia juga merupakan seorang aktivis hak asasi manusia yang ikut berjuang melawan penindasan pada masa rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang, tidak diketahui dimana keberadaannya, dan dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh pihak militer. Ia menjadi salah satu dari belasan aktivis yang hilang saat itu. 

Lewat karya-karyanya, Widji Thukul mengorasikan perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok. Tulisan-tulisannya menggugah semangat kaum-kaum tertindas. Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan hilang, termasuk Thukul. Sastrawan asal Surakarta ini masuk daftar orang hilang sejak tahun 2000. Tidak tahu, ia kini masih hidup atau telah menyatu dengan alam.

8. Remi Silado


Bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong, sastrawan kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945 ini merupakan salah satu pelopor penulisan Puisi mBeling, bersama Jeihan dan Abdul Hadi WM. Dia menyebut bahwa Puisi mBeling adalah puisi konkret pertama dalam sejarah kasusastraan kontemporer Indonesia. Berkat puisi mBeling ini, Remi pernah diganjar tiga penghargaan yaitu Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI, Anugerah Ahmad Bakri, dan penghargaan dari Raja Thailand. 

Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18 tahun), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Tulisan-tulisannya lekat dengan kritik terhadap berbagai persoalan sosial dan budaya. Dalam karyanya, Remi Silado kerap menggunakan kata-kata arkais atau kata-kata yang sudah lama tidak digunakan. Hal ini membuat karya sastranya menjadi unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Selain menulis, ia juga dikenal piawai dalam melukis, berdrama, dan tahu banyak akan film. 

9. Sapardi Djoko Damono


Siapa yang tak kenal Bapak Hujan Juni?. Sastrawan kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 ini dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum. Sejak remaja, Sapardi Djoko Damono sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.


Berbagai penghargaan pernah ia raih seperti anugerah SEA Write Award pada tahun 1986 dan penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Dalam karya-karyanya, Sapardi Djoko Damono dikenal selalu memasang diksi-diksi yang tepat sehingga terkesan sederhana namun sarat makna. "Hujan Bulan Juni" dan "Aku Ingin" adalah salah satu karya monumentalnya. Saat ini, Sapardi Djoko Damono masih aktif mengajar di Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta sembari tetap menulis fiksi maupun nonfiksi.

10. Taufiq Ismail


Taufiq Ismail (lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 25 Juni 1935) adalah seorang penyair dan sastrawan Indonesia yang karya-karya puisinya sering dinyanyikan oleh para penyanyi ternama seperti Himpunan Musik Bimbo (pimpinan Samsudin Hardjakusumah), Chrisye, Ahmad Al bar dan Ucok Harahap. Sejak masih SMA, Taufiq memang telah bercita-cita menjadi seorang sastrawan. Sepanjang karirnya, ia juga pernah menulis di berbagai media, menjadi wartawan, dan menjadi salah seorang pendiri Horison (1966). 

Taufiq sering membacakan puisinya di depan umum. Di luar negeri, ia pernah membacakan puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota di Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak tahun 1970. Baginya, puisi baru akan 'memperoleh tubuh yang lengkap' jika setelah ditulis kemudian dibaca di depan orang. Beberapa karyanya yang cukup dikenal terhimpun dalam buku kumpulan puisi, di antaranya yaitu Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Puisi-Puisi Langit, dan lain sebagainya. 

Itulah di antara beberapa tokoh penyair Senior Kenamaan Indonesia. Semoga bermanfaat. (diolah dari berbagai sumber). 

Selengkapnya
Sewa Menyewa (Ijarah) dalam Islam

Sewa Menyewa (Ijarah) dalam Islam


Sebagai makhluk sosial, manusia pasti butuh bantuan dari individu lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin besar kebutuhan manusia terhadap manfaat suatu benda atau jasa, maka semakin besar pula ia tidak bisa mengelak dari keikutcampuran atau kerjasama dengan manusia lainnya. 

Ilustrasi sewa rumah
ilustrasi

Muamalah sebagai bagian dari hukum Islam juga telah mengatur berkaitan dengan hak, kewajiban, dan harta yang muncul dari transaksi antara seseorang dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, salah satunya yaitu melalui akad (transaksi) ijarah. Apakah ijarah itu? 

Pengertian Ijarah


Menurut asal katanya, istilah ijarah berasal dari bahasa Arab yang artinya upah, sewa, jasa, atau imbalan. Dalam prakteknya, dapat dikatakan bahwa ijarah merupakan salah satu bentuk kegiatan muamalah manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti sewa-menyewa, kontrak, dan jasa perhotelan. 

Sementara menurut para Ulama madzhab Syafi'i, definisi dari ijarah adalah transaksi tertentu terhadap suatu manfaat yang dituju, bersifat mubah, dan bisa dimanfaatkan dengan imbalan tertentu.

Dasar Hukum Ijarah


Ulama Fiqih berpendapat bahwa dasar hukum diperbolehkannya transaksi ijarah berasal dari Al Qur'an dan Hadits. Ayat-ayat Al Qur'an yang dijadikan sebagai dasar hukum ijarah di antaranya adalah QS. Az Zukhruf ayat 32, QS. Ath-Thalaq ayat 6, dan QS. Al Qashash ayat 26 (silahkan bisa anda baca sendiri). 

Sementara hadits yang dijadikan sebagai dasar hukum ijarah salah satunya yaitu hadits dan Ibnu Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Berikanlah upah/jasa kepada orang yang kamu pekerjakan sebelum kering keringatnya". (HR. Abu Ya'la, Ibnu Majah, Thabrani, dan Tirmidzi)

Macam-macam Ijarah


Dilihat dari segi objeknya, Para Ulama membagi akad (transaksi) ijarah menjadi dua macam, yaitu:

1. Ijarah yang bersifat manfaat, seperti sewa menyewa rumah, toko, kendaraan, dan semacamnya. Apabila manfaat itu termasuk manfaat yang diperbolehkan syara' untuk dipergunakan, maka Ulama fiqih sepakat menyatakan boleh dijadikan sebagai objek sewa menyewa.

2. Ijarah yang bersifat pekerjaan, yaitu dengan cara mempekerjakan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Ulama fiqih membolehkan ijarah yang berupa pekerjaan apabila jenis pekerjaannya jelas. Misalnya pembantu rumah tangga, buruh bangunan, tukang jahit, tukang sepatu, dan lain semacamnya.

Rukun dan Syarat Ijarah


Sebagai sebuah transaksi, ijarah dianggap sah apabila telah memenuhi beberapa rukun dan syaratnya, sebagaimana berlaku secara umum dalam akad (transaksi) lainnya.

Menurut jumhur Ulama, Rukun Ijarah itu ada empat, yaitu:
  1. Orang yang berakad atau bertransaksi, meliputi pihak penyewa (musta'jir) dan yang menyewakan (mu'jir).
  2. Upah/imbalan (ujrah)
  3. Manfaat (manfaat barang atau orang yang dipekerjakan) 
  4. Sighat ijab kabul. 
Sedangkan syarat-syarat akad ijarah adalah sebagai berikut:

1. Kedua orang yang bertransaksi (akad) sudah baligh dan berakal sehat. Adapun transaksi anak kecil dan orang gila tidak sah.

2. Kedua belah pihak tersebut bertransaksi dengan kerelaan, artinya tidak terpaksa atau dipaksa. Dalilnya lihat Al Qur'an Surah An Nisa ayat 29.

3. Barang yang akan disewakan (objek ijarah) diketahui kondisi dan manfaatnya oleh penyewa. Demikian juga jika objek ijarah adalah pekerjaan, pekerjaan itu harus jelas ketentuannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari perselisihan di kemudian hari.

4. Objek ijarah bisa diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak bercacat. Ulama fiqih sepakat bahwa tidak boleh menyewakan sesuatu yang tidak dapat diserahkan dan dimanfaatkan langsung oleh penyewa. Misalnya menyewakan rumah yang masih dihuni penyewa lain, dan semacamnya. 

5. Objek ijarah merupakan sesuatu yang dihalalkan syara'. Oleh karenanya, sewa menyewa dalam masalah maksiat haram hukumnya, misalnya menyewa seseorang untuk memb*n*h orang lain (pemb*nuh bayaran) dan semacamnya. 

6. Hal yang disewakan tidak merupakan suatu kewajiban bagi penyewa. Misalnya menyewa orang untuk menggantikan penyewa shalat atau mengerjakan soal-soal ujian. Maka sewa-menyewa seperti ini tidak sah. 

7. Objek ijarah adalah sesuatu yang biasa disewakan seperti rumah, mobil, aneka busana, atau hewan tunggangan. Menyewakan sesuatu yang tidak lazim disewakan seperti menyewakan sebatang pohon untuk menjemur kain cucian tidak dibolehkan, karena sebatang pohon manfaatnya bukan untuk menjemur pakaian. 

8. Upah/imbalan dalam transaksi ijarah harus jelas, tertentu, dan sesuatu yang bernilai harta. Ulama fiqih sepakat bahwa memberi upah kerja atau uang sewa tidak boleh menggunakan sesuatu yang dilarang syara' seperti mengunakan khamr dan babi. 

Sifat Akad/ Transaksi Ijarah


Jumhur Ulama berpendapat bahwa akad ijarah bersifat mengikat, kecuali ada cacat, atau barang tersebut tidak bisa dimanfaatkan. Karena bersifat mengikat, kematian salah satu pihak baik yang menyewakan atau pihak penyewa juga tidak membatalkan ijarah. Manfaat dari sewa menyewa termasuk harta (al maal) yang bisa diwariskan. 

Tanggung Jawab Orang yang Diupah/Digaji


Ijarah yang berupa pekerjaan, apabila orang yang dipekerjakan itu bersifat pribadi, maka seluruh pekerjaan yang ditentukan untuk dikerjakan menjadi tanggung jawabnya. Hal ini sesuai dengan akad/transaksi antara yang mempekerjakan dengan yang dipekerjakan. Orang yang dipekerjakan mengerjakan suatu pekerjaan sesuai dengan ketentuan dari yang mempekerjakan, sedangkan yang mempekerjakan memberikan upah kerja kepada yang dipekerjakan sesuai dengan perjanjian. 

Ilustrasi pekerja
ilustrasi pekerja

Ulama fiqih sepakat bahwa apabila objek dikerjakan rusak di tangan pekerja bukan karena kelalaiannya dan tidak ada unsur kesengajaan, maka pekerja tidak dapat dituntut ganti rugi. Misalnya jika piring-piring yang sedang dicuci pembantu rumah tangga pecah bukan karena lalai atau disengaja, maka pembantu tidak dapat dituntut ganti rugi. Namun jika kerusakan diakibatkan oleh kelalaian atau kesengajaan si pekerja, maka ia wajib menggantinya. 

Begitu pula penjual jasa untuk kepentingan orang banyak seperti tukang jahit dan tukang sepatu, apabila melakukan suatu kesalahan sehingga sepatu orang yang diperbaikinya atau pakaian yang sedang dijahitnya mengalami kerusakan, maka menurut Imam Abu Hanifah, Ulama madzhab Hambali dan Syafi'i, apabila kerusakan itu bukan karena unsur kesengajaan dan kelalaian tukang sepatu atau tukang jahit, ia tidak dapat dituntut untuk membayar ganti rugi. 

Berakhirnya Akad Ijarah


Ulama fiqih sepakat bahwa transaksi ijarah akan berakhir apabila terjadi dua hal berikut:

1. Objek ijarah hilang atau musnah, seperti rumah terbakar atau baju yang dijahitkan hilang, dan semacamnya. 

2. Habisnya tenggang waktu yang disepakati dalam akad ijarah. Jika yang disewakan itu sebuah rumah, maka setelah habis masa sewanya, rumah itu dikembalikan oleh penyewa kepada pemiliknya. Sedangkan apabila yang disewa berupa jasa seseorang, maka yang memberikan jasanya (pekerja) berhak menerima upah kerja. 

Selengkapnya
Tiga Kelompok Umat Islam dalam Tafsir Surah Fathir Ayat 32

Tiga Kelompok Umat Islam dalam Tafsir Surah Fathir Ayat 32

Nasib tiap-tiap Muslim itu akan berbeda tergantung amal perbuatannya ketika hidup di dunia. Beberapa ayat dalam Al Qur'an juga telah menyebutkan akan pengelompokkan tiap-tiap Muslim berdasarkan kadar kualitas ketaqwaannya. Nah, pada kesempatan kali ini, saya hendak sedikit mengulas tentang hal ini dari sebuah ayat dalam Al Qur'an, yakni ayat 32 Surah Fathir. 

Fathir artinya Pencipta, diambil dari ayat pertama surah ini. Surah Fathir adalah Surah ke 35 dalam Al Qur'an yang terdiri atas 45 ayat dan tergolong dalam surah Makkiyyah (turun di Makkah). Surah Fathir menerangkan bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, manusia, dan makhluk lainnya.

Alam akhirat

Seperti tertera pada judul artikel ini, ada tiga kelompok Umat Islam sebagaimana disebutkan dalam Surah Fathir Ayat 32. Allah SWT berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا  ۖ  فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِإِذْنِ اللَّهِ  ۚ  ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar."


Mengenai tafsir ayat di atas, Imam Jalaluddin Al Mahalli dalam tafsir Jalalain menyebutkan:

"(Kemudian Kami wariskan) Kami berikan (Kitab itu) yakni Alquran (kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami) mereka adalah umatmu (lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri) karena sembrono di dalam mengamalkannya (dan di antara mereka ada yang pertengahan) dalam mengamalkannya (dan di antara mereka ada pula yang lebih cepat berbuat kebaikan) di samping mengamalkan Alquran, juga mempelajarinya, mengajarkannya dan membimbing orang lain untuk mengamalkannya (dengan izin Allah) dengan kehendak-Nya. (Yang demikian itu) yakni diwariskannya Alquran kepada mereka (adalah karunia yang amat besar.)"


Jika dirangkum, kandungan dari Surat Fathir ayat 32 di atas yaitu:

  • Allah SWT mewariskan Kitab Suci Al Qur'an kepada hamba-hambaNya yang terpilih yaitu Umat Islam. 
  • Sikap umat Islam terhadap Al Qur'an terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok yang menganiaya diri mereka sendiri, kelompok yang berada di tengah-tengah, dan kelompok yang lebih dahulu berbuat kebaikan. 

Penjelasan Ayat


Sebagaimana disebutkan di atas, umat Islam sebagai pewaris Al Qur'an terbagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan amal perbuatannya selama hidup di dunia. 

Kelompok Pertama


Kelompok Umat Islam pertama adalah yang menganiaya dirinya sendiri, maksudnya yaitu kelompok yang mengaku beragama Islam, tetapi mereka lebih banyak berbuat keburukan daripada berbuat kebaikan. Kelompok ini di alam akhirat kelak akan dicampakkan ke dalam neraka, dan akan memperoleh siksa sesuai dengan dosa-dosanya. 

Namun apabila masa hukumannya habis, mereka akan dipindahkan ke dalam surga dengan syarat ketika di dunia tergolong orang beriman. Rasulullah SAW bersabda:

"Akan keluar dari neraka barang siapa yang mengucapkan: 'Laa Ilaaha Illallaahu', sedang dalam hatinya ada kebaikan seberat biji kacang. Akan keluar dari neraka siapa saja yang mengucapkan: 'Laa Ilaaha Illallaahu', sedang dalam hatinya ada kebaikan seberat gandum. Akan keluar dari neraka siapa saja yang mengucapkan: 'Laa Ilaaha Illallaahu', sedangkan dalam hatinya ada kebaikan seberat debu". (HR. Al Bukhari, Muslim, dan At Tirmidzi) 


Kelompok Kedua


Kelompok Umat Islam kedua adalah golongan yang berada di pertengahan, maksudnya yaitu kelompok Umat Islam yang perbuatan-perbuatan baiknya sebanding dengan perbuatan-perbuatan buruknya. Kelompok ini kelak di alam akhirat mula-mula akan ditempatkan di suatu tempat bernama A'raf yang terletak di antara surga dan neraka. Akan tetapi kemudian dengan izin dan kasih sayang Allah akan dipindahkan ke dalam surgaNya. Allah SWT berfirman:

 ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ... 

"... Masuklah kamu sekalian ke dalam surga! Tidak ada rasa takut pada kamu sekalian dan tidak pula akan bersedih hati" (QS. Al-A'raf, 49)


Kelompok Ketiga


Kelompok Umat Islam ketiga adalah golongan yang lebih dahulu berbuat kebaikan, maksudnya yaitu kelompok umat Islam yang perbuatan-perbuatan baiknya lebih banyak dari perbuatan-perbuatan buruknya. Kelompok ini kelak di alam akhirat akan ditempatkan di surga 'Adn, surga yang penuh dengan berbagai kenikmatan. Allah SWT berfirman:

(فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوٰزِينُهُ (٦)  فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ (٧

"Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang)" (QS. Al-Qari'ah, 6-7)


Itulah sedikit ulasan mengenai tiga kelompok Umat Islam sebagaimana tertera dalam Surah Fathir Ayat 32. Isi atau kandungan Surah Fathir ayat 32 di atas adalah penegasan Allah tentang adanya tiga kelompok umat Islam (pewaris Al Qur'an), yaitu kelompok yang menganiaya diri mereka sendiri, kelompok yang berada di pertengahan, dan kelompok yang lebih dahulu berbuat kebaikan. 

Di antara ketiga kelompok tersebut, kelompok yang lebih dahulu berbuat kebaikan tentu akan memperoleh keberuntungan dan langsung masuk ke dalam surga. Wallahu A'lam. 

Selengkapnya
Optimis, Dinamis, dan Berpikir Kritis Bagi Seorang Muslim

Optimis, Dinamis, dan Berpikir Kritis Bagi Seorang Muslim


Di zaman milenial dan serba modern ini, siapa pun mesti bisa beradaptasi atau menyesuaikan dirinya agar tidak ketinggalan informasi dan segala hal yang terjadi pada masa kini. 

Tidak terkecuali bagi umat Muslim, kita juga tidak boleh ketinggalan zaman jika ingin maju dan mampu bersaing, atau bahkan mengungguli umat lainnya dalam segi menebarkan hal-hal positif bagi keberlangsungan hidup di bumi ini. Kita mesti bangkit agar hidup menjadi lebih bermakna dan memberikan manfaat bagi orang lain. 

Memang sebagai Muslim kita mesti punya pegangan kuat agar tidak ikut terbawa segala hal berbau negatif penggoda iman. Namun selain harus punya prinsip, agar kita mampu mengimbangi atau bahkan mengungguli umat lainnya kita juga harus memiliki pola pikir atau sikap-sikap berkemajuan untuk ikut menyongsong sengitnya persaingan di era percepatan ini. Sikap-sikap tersebut di antaranya yaitu optimis, dinamis, dan berpikiran kritis. 

1. Optimis

Apakah optimis itu?. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa maksud dari optimis adalah orang yang selalu berpengharapan (berpandangan), baik dalam menghadapi segala hal atau persoalan. 

Sebagai contoh misalnya seorang siswa hendak mengikuti ujian Penerimaan Mahasiswa Baru, maka dengan segala usaha maksimal yang telah dia lakukan, dia juga mesti punya pengharapan (optimis) akan lulus dan diterima di Perguruan Tinggi yang ia pilih.

Muslim optimis
via shutterstock

Sebagai salah satu sifat terpuji, seorang Muslim haruslah memiliki sifat optimis ini. Seorang Muslimin dan Muslimat yang optimis akan selalu berprasangka baik terhadap Allah, sehingga ia akan selalu berusaha agar kualitas hidupnya meningkat dan bermanfaat bagi orang lain. 

Kebalikan dari sifat optimis adalah sifat pesimis. Sifat pesimis ini seharusnya dijauhi, karena termasuk ke dalam sifat tercela. Seseorang yang pesimis dapat diartikan berprasangka buruk terhadap Allah. Dalam hidupnya kemungkinan besar ia tidak akan memperoleh kemajuan. Seseorang yang pesimis biasanya selalu khawatir akan memperoleh kegagalan, kekalahan, kerugian, atau bencana, sehingga ia tidak mau berusaha untuk mencobanya.

Seorang Muslim yang bersifat optimis hendaknya bertawakkal kepada Allah SWT yaitu berusaha sekuat tenaga untuk meraih apa yang dicita-citakannya, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Orang yang tawakkal tentu akan memperoleh pertolongan dari Allah SWT. Firman Allah: "Dan Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya" (QS. Ath Thalaq, 3).

2. Dinamis

Kata dinamis berasal dari bahasa Belanda "dynamisch" artinya giat bekerja, tidak mau tinggal diam, selalu bergerak, dan terus tumbuh. 

Seseorang yang berjiwa dinamis tentu selama hidupnya tidak akan diam berpangku tangan. Dia akan terus berusaha secara sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas dirinya ke arah lebih baik dan lebih maju. Misalnya seorang petani agar hasil pertaniannya meningkat tentu akan berusaha semaksimal mungkin merawat dan menjaga tanamannya agar meraih hasil panen seperti yang diinginkan.

Muslim dinamis
via pixabay

Sikap perilaku dinamis seperti tersebut sebenarnya sesuai dengan fitrah (pembawaan) manusia, yang memiliki kecenderungan untuk meningkat ke arah yang lebih baik. 

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa amal usahanya lebih baik dari hari kemarin maka orang itu termasuk beruntung, dan jika amal usahanya sama dengan kemarin, maka ia termasuk merugi, dan jika amal usahanya lebih buruk dari hari kemarin, maka orang itu termasuk yang tercela". (HR. At- Thabrani) 

Kebalikan dari sifat dinamis adalah sifat statis. Sifat statis harus dijauhi oleh setiap Muslim karena termasuk akhlak tercela yang dapat menghambat kemajuan dan mendatangkan kerugian. Seorang pelajar yang berperilaku statis biasanya akan malas belajar dan tidak bergairah untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Hal ini menyebabkan pelajar tersebut kualitas ilmunya tidak meningkat, sehingga ia tergolong orang merugi dan nantinya akan menyesal di kemudian hari. 

3. Berpikir Kritis

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa berpikir kritis artinya tajam dalam penganalisaan, bersifat tidak lekas percaya, dan sifat selalu berusaha menemukan kesalahan, kekeliruan, atau kekurangan, untuk segera diperbaiki. Orang yang ahli memberi kritik atau memberikan pertimbangan apakah sesuatu itu benar atau salah, tepat atau keliru, sudah lengkap atau masih kurang disebut seorang kritikus.

Ibarat pisau bermata dua, sikap mengkritik dapat dikategorikan sebagai sifat terpuji atau juga sifat tercela tergantung orangnya. 

Pertama, kritik yang termasuk akhlak terpuji yaitu kritik yang sehat, didasari dengan niat ikhlas karena Allah, tidak menggunakan kata-kata pedas yang menyakitkan hati, dan dengan maksud untuk memberikan pertolongan kepada orang yang dikritik agar menyadari kesalahan, kekeliruan, dan kekurangannya, disertai dengan memberikan petunjuk tentang jalan keluar dari kesalahan, kekeliruan, dan kekurangannya tersebut. 

Rasulullah SAW bersabda, "Yang dinamakan orang Muslim adalah orang yang menyelamatkan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lidah dan tangannya". (HR. Al Bukhari)

Kedua, kritik yang termasuk akhlak tercela yaitu kritik yang merusak, tidak didasari niat ikhlas karena Allah, dengan menggunakan kata-kata keji dan menyakitkan hati serta tidak memberi petunjuk tentang jalan keluar dari kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan. Kritik semacam ini termasuk akhlak tercela karena dapat merusak hubungan antara yang mengkritik dan dikritik, sehingga antara mereka bisa saling bermusuhan dan saling mendengki, dimana hal itu sangat dilarang oleh Allah SWT.

Itulah sekilas mengenai sikap seorang Muslim dewasa ini agar selalu optimis, dinamis, dan berpikir kritis dalam menyongsong era modern ini. Demikian. Semoga bermanfaat. 

Selengkapnya