Mengenal Suku Nias dan Mitologinya

Mengenal Suku Nias dan Mitologinya

Masing-masing suku bangsa biasanya memiliki kisah, dongeng, legenda, atau mitologi yang mengisahkan cerita masa lampau tentang asal usul mereka jauh ke belakang dimulai sejak adanya manusia pertama hingga terciptanya suatu kolektif yang dikenal sebagai masyarakat atau pun suku bangsa. Kisah-kisah tersebut diwariskan secara turun-temurun sebagai milik bersama, sebagai simbol identitas bersama, dan sebagai alat legitimasi tentang keberadaan mereka. Salah satu contohnya adalah mengenai mitos mengenai terjadinya mado-mado (semacam marga patrilineal) dari masyarakat di pulau Nias. 

lompat batu suku nias
via kaskus.co.id

Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di Pulau Nias, terletak di sebelah barat pulau Sumatra dan secara administratif berada dalam wilayah Provinsi Sumatra Utara. Orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan Pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah). Suku Nias merupakan masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. 

Berdasarkan penelitian Arkeologi, keberadaan penghuni (manusia) di pulau Nias diperkirakan sudah ada sejak 12.000 tahun silam. Hasil penelitian menunjukan bahwa mereka bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau menurut  Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu, hanya budaya Hoabinh, Vietnam, yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal-usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara disebut Vietnam. 

Sementara penelitian genetika terbaru menemukan bahwa masyarakat Nias berasal dari rumpun bangsa Austronesia, yang diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu. Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa kromosom-Y dan mitokondria-DNA orang Nias sangat mirip dengan masyarakat Taiwan dan Filipina. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. 

Mitologi Asal Usul Suku Nias


Menurut mitologi Nias, alam serta seluruh isinya diciptakan oleh Lowalangi. Langit yang diciptakannya berlapis sembilan. Setelah selesai mencipta langit, ia menciptakan satu pohon kehidupan yang disebut tora'a. Pohon itu kemudian berbuah dua dan harus dierami supaya menetas. Setelah dierami oleh seekor laba-laba yang merupakan jelmaan Lowalangi, menetaslah sepasang dewa pertama di alam semesta ini, yaitu Tuhamora'aangi Tuhamoraana'a yang berjenis kelamin laki-laki dan Burutiraoangi Burutiraoana'a yang berjenis kelamin perempuan. 

Salah satu keturunan sepasang dewa pertama itu bernama Sirao. Sirao kemudian menjadi raja langit lapisan pertama yang terletak paling dekat dengan bumi. Langit lapisan pertama ini disebut teteholi ana'a. Sirao mempunyai tiga orang istri dan dari mereka masing-masing menurunkan tiga orang anak laki-laki. Pada saat Sirao berusia lanjut dan hendak mengundurkan diri dari pemerintahan, timbul pertentangan di antara kesembilan putranya untuk memperebutkan singgasana. Untuk mencegah pertentangan itu, Sirao kemudian mengadakan sayembara ketangkasan menari di atas sembilan mata tombak.

Sayembara itu ternyata kemudian dimenangkan oleh putra bungsunya yang bernama Luo Mewona. Kebetulan juga putra bungsunya ini adalah putra yang paling dikasihi dan dihormati oleh rakyatnya. Hal itu disebabkan ia memiliki sifat rendah hati walaupun ia seorang yang gagah perkasa dan sangat bijaksana. Oleh karena itu, ia segera dikukuhkan sebagai dipertuan di teteholi ana'a menggantikan ayahnya. Untuk menentramkan kedelapan putranya yang lain, Sirao mengabulkan permohonan mereka untuk dinidadakan (diturunkan) ke tano niha atau tanah manusia, yang merupakan nama asli dari Pulau Nias. (diolah dari berbagai sumber

Selengkapnya
Awal Mula Hubungan India dan Nusantara Pada Masa Lalu

Awal Mula Hubungan India dan Nusantara Pada Masa Lalu

Sejarah telah mencatat mengenai hubungan bangsa Hindustan (India) dengan masyarakat Nusantara yang telah berlangsung sejak dahulu kala. Banyak aspek budaya India yang telah diserap oleh bangsa ini seiring dengan masuk dan berkembangnya ajaran Hindu-Budha di tanah Nusantara pada masa lalu. Kisah Epos Ramayana dan Mahabharata telah menjadi bukti di antara sekian banyak pengaruh budaya India yang telah diserap bangsa Indonesia, dimana keberadaannya tetap dilestarikan saat masuknya Islam di negeri ini lewat seni pewayangan. 

bangsa india dan Nusantara
via makalahirfan.blogspot.com

Kepulauan Nusantara memang menjadi jembatan penghubung antara dua benua, karena terletak dalam jalur perdagangan antara dua pusat perdagangan kuno, yakni India dan China. Meski begitu, J. C. Van Leur dan O. W. Wolters berpendapat bahwa hubungan dagang antara India dengan Nusantara lebih dulu berkembang daripada hubungan dagang antara Nusantara dengan Cina. Para ahli bahkan berpendapat bahwa hubungan dagang antara Nusantara dengan India telah terjadi sejak zaman prasejarah.

Di India bagian selatan terdapat beberapa suku bangsa yang memiliki kesamaan ciri-ciri fisik dengan penduduk Nusantara, misalnya suku bangsa Parawar dan Shanar. Orang-orang Parawar sejak dulu dikenal sebagai penyelam mutiara di teluk Manar. Mereka juga menggunakan perahu bercadik, perahu khas bangsa bahari Austronesia yang digunakan dalam penjelajahan dan penyebaran mereka di Asia Tenggara, Oseania, dan Samudra Hindia. Sedangkan suku Shanar kehidupan utamanya dari perkebunan kelapa, dimana konon pohon-pohon kelapa tersebut diperkirakan berasal dari Indonesia yang dibawa melalui Srilangka.

Pulau Emas dalam Kitab-Kitab Kuno


Di samping itu, wilayah kepulauan Nusantara juga banyak disebutkan dalam kitab-kitab kuno dari India. Dalam kitab Jataka yang berisi tentang kehidupan Sang Budha, disebutkan tentang Suvarnabhumi sebagai negeri yang memerlukan perjalanan jauh dan penuh bahaya untuk mencapainya. Istilah Suvarnabhumi ("Negeri Emas") memang umumnya dianggap mengacu kepada Semenanjung Asia Tenggara, termasuk Burma bawah dan Semenanjung Malaya. Namun terdapat istilah lainnya berkaitan dengan emas, yakni Suwarnadwipa ("Pulau Emas"), yang mungkin berhubungan dengan Kepulauan Indonesia, terutama Sumatra.

Selain itu, dalam kitab Ramayana juga disebutkan nama Yawadwipa yang diperkirakan adalah pulau Jawa. Pulau Jawa dalam Kitab karangan Walmiki dari era 500 tahun sebelum masehi ini dianggap sebagai sebuah wilayah di seberang laut yang sangat asing dan jauh dari India. Dikisahkan bahwa tentara kera yang bertugas mencari Sinta di negeri-negeri sebelah timur telah memeriksa Yawadwipa yang dihias oleh tujuh kerajaan. Pulau ini adalah "pulau emas dan perak". Di samping itu, kitab ini juga menyebutkan nama Suwarnadwipa yang berarti "pulau emas". Suwarnadwipa memang kemudian dipergunakan untuk menyebutkan nama dari pulau Sumatera. 

Berkaitan dengan sebutan pulau emas, sebuah sumber dari Barat, kitab Geographike Hyphegesis, berisi petunjuk cara-cara membuat peta, ditulis oleh Claudius Ptolomeus, seorang Yunani di Iskandaria pada abad ke 2 Masehi juga pernah menyebutkan nama-nama tempat yang berhubungan dengan emas dan perak. Tempat-tempat tersebut adalah Argyre Chora (negeri perak), Chryse Chora (negeri emas), dan Chryse Chersonesos (semenanjung emas). Kitab ini menyebutkan pula nama Labadiou (pulau jelai).

Ywa dalam bahasa Sanskerta berarti jelai, sedangkan Diou dalam bahasa Pakrit adalah diwu dan dwipa dalam bahasa Sanskerta yang artinya pulau. Jadi, yang dimaksud dengan labadiou adalah Yawadwipa yang besar kemungkinan adalah pulau Jawa. Dalam prasasti Canggal berangka tahun 654 Saka atau tahun 732 Masehi, pulau Jawa juga disebut dengan nama Yawadwipa. Dalam bait-baitnya, prasasti Canggal juga menyebutkan mengenai pujian kepada pulau Yawa (Jawa) yang subur dan banyak menghasilkan gandum atau padi dan kaya akan tambang emas. 

Motivasi Kedatangan Bangsa India ke Nusantara


Motivasi utama kedatangan orang-orang India ke wilayah Nusantara adalah untuk berdagang. Menurut Van Leur, barang-barang yang diperdagangkan pada masa itu adalah barang-barang bernilai tinggi seperti logam mulia, perhiasan, berbagai jenis tenunan, barang-barang pecah belah, bahan-bahan baku untuk berbagai kerajinan, bahan-bahan ramuan untuk wangi-wangian, obat dan sebagainya. 

Selain itu, tentang berpindahnya minat para pedagang India ke daerah timur, Coedes menjelaskan bahwa menjelang awal tarikh Masehi, India kehilangan sumber emas yang utama, yaitu Siberia. Sebelumnya emas didatangkan oleh para kafilah dari Siberia melalui Baktria. Akan tetapi, gerakan berbagai bangsa di Asia Tengah telah memutuskan jalan-jalan kafilah dari utara itu. Sebagai gantinya, India mengimpor mata uang emas dalam jumlah besar dari Romawi. Usaha ini kemudian dihentikan oleh Kaisar Vespasianus (69-79) karena mengalirnya emas ke luar negeri ternyata telah membahayakan ekonomi negara sehingga hal ini mendorong para pedagang India untuk mencari emas di daerah lain dan sampailah mereka ke tanah Nusantara. 

Selain emas, barang-barang lain yang diperdagangkan dari Nusantara berupa kayu cendana dan cengkeh dari wilayah Nusantara bagian timur. Dalam kitab Raghuvansa karangan Kalidasa, menurut para ahli hidup sekitar tahun 400 Masehi, disebutkan tentang lavanga (cengkeh) yang berasal dari dvipantara. Wolter percaya bahwa yang dimaksud dengan dvipantara adalah kepulauan Nusantara (dwipa = nusa = pulau). Dalam perkembangan berikutnya, kehadiran orang-orang India di wilayah kepulauan Nusantara ternyata juga turut berpengaruh besar pada perkembangan budaya di negeri ini, khususnya dalam proses penghinduan dan berdirinya beberapa kerajaan besar Hindu di Nusantara. (diolah dari berbagai sumber

Selengkapnya
Sejarah Singkat Kedatangan Bangsa Eropa dan Terbentuknya Kekuasaan Kolonial di Indonesia

Sejarah Singkat Kedatangan Bangsa Eropa dan Terbentuknya Kekuasaan Kolonial di Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa sekian lama negeri ini pernah berada di bawah kekuasaan bangsa asing selama ratusan tahun lamanya. Bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis, Prancis, Inggris dan Belanda pernah menginjakkan kakinya di negeri ini untuk mencapai 3 tujuan utama mereka yakni Gold, Glory, dan Gospel. Agar meraih keuntungan besar, mereka juga melakukan usaha monopoli di bidang perdagangan dengan cara merebut dan menguasai pusat-pusat perdagangan di tanah negeri ini. 

Bangsa Eropa di Indonesia
pic via fyraruswandi.wordpress.com

1. Kedatangan Bangsa Eropa di Indonesia


Pada tahun 1511, bangsa Portugis telah berhasil menguasai Malaka, dan pada tahun 1512 Portugis berlayar ke wilayah Indonesia Timur dan berhasil mendarat di Ternate, Maluku. Kedatangan Portugis di kepulauan rempah-rempah ini kemudian disusul oleh kedatangan Spanyol yang berhasil menjalin hubungan dengan kerajaan Tidore. Secara kebetulan pada saat itu antara Ternate dan Tidore sedang bermusuhan. Akibatnya, permusuhan itu merambat pada masing-masing sekutunya. 

Pertikaian Spanyol dan Portugis diakhiri dengan perjanjian damai yang disebut perjanjian Saragosa pada 22 April 1529. Inti dari perjanjian Saragosa antara lain sebagai berikut:
  • Bumi ini dibagi atas pengaruh dua bangsa, yaitu bangsa Spanyol dan Purtugis. 
  • Wilayah kekuasaan Spanyol membentang dari Meksiko ke arah Barat sampai ke Filipina, sedangkan kekuasaan Portugis membentang dari Brasilia ke arah Timur sampai ke kepulauan Maluku. 
Pada akhir abad ke 17, giliran orang-orang Inggris dan Belanda datang ke Indonesia. Kedatangan Inggris pertama kali dilakukan oleh Francis Drake dan Thomas Cavendish pada tahun 1579 dan berlanjut pada tahun 1586. Tujuan mereka adalah untuk membawa rempah-rempah dari Ternate menuju ke Inggris melalui samudra Hindia. Melihat potensi yang ada, Ratu Elizabeth kemudian berniat untuk mengembangkan sayap perdagangannya ke daerah Asia untuk menyaingi perdagangan Spanyol, menggalakkan ekspor wol dan mencari rempah-rempah.

Ratu Elizabeth memberikan sebuah hak istimewa kepada EIC (East Indian Company) untuk mengurus segala hubungan perdagangan dengan Asia. EIC pun kemudian mengirimkan armadanya untuk menuju Indonesia. Menurut catatan sejarah, sejak pertama kali tiba di Indonesia tahun 1604, EIC telah mendirikan kantor-kantor dagangnya. Di antaranya di Ambon, Aceh, Jayakarta, Banjar, Japara, dan Makassar. Meskipun demikian, armada Inggris ternyata tidak mampu menyaingi armada dagang barat lainnya di Indonesia, sehingga mereka pun akhirnya memilih untuk lebih memusatkan aktivitas perdagangannya di wilayah India. 

2. Terbentuknya Pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia


Pada tahun 1596, bangsa Belanda mendarat di Banten di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Bangsa Belanda karena sikapnya yang semena-mena dan angkuh kemudian terusir dari Banten. Belanda kemudian mengalihkan tujuan perdagangannya ke Maluku. Di Maluku inilah Belanda memperoleh keuntungan besar dalam melakukan perdagangan. 

Untuk menghindari persaingan dagang sesama orang Belanda dan menghadapi kelompok pedagang Eropa lainnya, para pedagang Belanda membentuk persekutuan dagang yang disebut VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada tanggal 20 Maret 1602. Untuk menjalankan misi dagangnya, VOC diberi hak istimewa (Hak Oktroi) oleh pemerintah Kerajaan Belanda dalam menerapkan beberapa kebijakannya. 

Setelah berkuasa selama kurang lebih dua abad lamanya, VOC mengalami kebangkrutan. Hal itu disebabkan oleh biaya perang yang membengkak untuk memadamkan perlawanan daerah jajahan dan korupsi yang dilakukan para pegawainya. VOC kemudian dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799. Kebetulan saat itu Belanda juga kalah perang dari Prancis, sehingga wilayah-wilayah yang dimiliki Belanda pun menjadi milik Prancis.

Pemerintah Perancis melalui Napoleon kemudian mengirim Daendels menuju pulau Jawa dengan tugas utama membenahi, memperkuat dan mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris.

A. Masa Pemerintahan Herman William Daendels (1800 - 1811)


Untuk melaksanakan tugasnya, Daendels mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Membentuk pasukan yang beranggotakan orang-orang Indonesia. 
  2. Mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya. 
  3. Membangun pangkalan Angkatan Laut di Merak dan Ujung Kulon. 
  4. Mendirikan benteng-benteng pertahanan. 
  5. Membuat jalan dari Anyer sampai Panarukan. 
Sementara itu, untuk memperoleh pemasukan untuk mengisi kas negara, Daendels mengambil tindakan antara lain sebagai berikut:
  • Tanah-tanah yang dianggap sebagai milik negara dijual kepada swasta, seperti orang Belanda dan Tionghoa. 
  • Peraturan penyerahan sebagian hasil bumi sebagai pajak (contingenten) dan peraturan penjualan hasil bumi secara paksa oleh pemerintah (verplichte leverentie) tetap berjalan. 
  • Pelaksanaan kerja paksa tanpa upah (rodi).
  • Perluasan penanaman tanaman wajib kopi.
Daendels juga berusaha melakukan pengaturan sistem pemerintahan sebagai berikut:
  • Memperbaiki gaji pegawai, memberantas korupsi, dan memberikan hukuman bagi para pengawas yang melanggar.
  • Wilayah Jawa dibagi menjadi sembilan karesidenan.
  • Para bupati seluruh Jawa dijadikan pegawai pemerintah.
  • Mendirikan badan-badan peradilan yang akan mengadili orang-orang Indonesia sesuai dengan adat istiadatnya.
Pada masa Daendels dibuatlah jalan raya dari Anyer sampai Panarukan yang menyebabkan ribuan nyawa penduduk Jawa meninggal. Oleh karena kekejamannya, Daendels kemudian ditarik kembali ke negerinya dan digantikan oleh Yansens.

B. Masa Pemerintahan Thomas Stamford Raffles (Inggris) 


Gubernur Jenderal Yansens ternyata tidak mampu mempertahankan pemerintahannya dari serangan Inggris. Yansens kemudian menyerah kepada Inggris dan menandatangani perjanjian damai di Tuntang (Salatiga, Jawa Tengah). 

Pada tanggal 11 September 1811, Thomas Stamford Raffles diangkat oleh Inggris sebagai gubernur di wilayah Hindia Belanda (1811 - 1816). Beberapa kebijakan yang diambil Thomas Stamford Raffles antara lain sebagai berikut:
  1. Penghapusan segala bentuk penyerahan wajib dan kerja paksa atau rodi. Segala perdagangan budak dilarang.
  2. Penguasa pribumi hanya sebagai pemerintah kolonial. Wilayah pulau Jawa dibagi menjadi 16 karesidenan termasuk Yogyakarta dan Surakarta. Setiap karesidenan mendapatkan sebuah land road (badan peradilan).
  3. Raffles menganggap bahwa pemerintah kolonial sebagai pemilik semua tanah yang ada di daerah jajahan sehingga petani dianggap sebagai penyewa. 
1. Kebijaksanaan Sistem Sewa Tanah (landrent) 
  • Pajak tanah diberlakukan pada semua hasil pertanian sebesar 1/2, 1/5, atau 1/3 dari hasil panen yang diwujudkan dalam bentuk uang atau beras. 
  • Pungutan pajak tanah tersebut dilakukan oleh bupati. 
Pada prakteknya, sistem sewa tanah ini mengalami kegagalan, sebab:
  • Bangsa Indonesia belum mengenal sistem mata uang dengan bentuk fisik dan nilai standar.
  • Sangat sulit untuk menentukan jumlah pajak bagi setiap pemilik tanah secara tepat. 
2. Pelaksanaan Sistem Sewa Tanah (landrent) 

Pelaksanaan Sistem Sewa Tanah di Indonesia mengalami kegagalan sehingga pemerintahan Raffles melakukan tindakan keras, antara lain sebagai berikut:
  1. Pemerintah kolonial Inggris menghidupkan kembali kerja paksa untuk menanam tanaman eksport, seperti kayu jati dan kopi. 
  2. Rakyat harus bekerja keras, sebab harus memberikan keuntungan kepada dua pihak, yakni kaum bangsawan pribumi dan pemerintah kolonial.

C. Indonesia Kembali di bawah Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda


Penyerahan wilayah Hindia Belanda (Indonesia) dari Inggris kepada Belanda berlangsung di Batavia pada tanggal 19 Agustus 1819. Pemerintahan Inggris diwakili John Ferdall yang menggantikan Raffles karena menolak menyerahkan Indonesia. Sedangkan pemerintah Belanda diwakili komisaris Jenderal yang terdiri atas Ellout, Vander Capellen, dan Buykes. 

Kebijakan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda selama berkuasa kembali di Indonesia adalah sebagai berikut:

a. Sistem Tanam Paksa (cultur stelsel). 

Pemerintah Kerajaan Belanda mengalami kesulitan keuangan, sehingga kemudian mengangkat Van Den Bosch sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia dengan misi utama mencari dana. Secara teori, peraturan sistem tanam paksa yaitu sebagai berikut:
  • Penduduk desa wajib menyerahkan 1/5 dari tanahnya untuk ditanami tanaman perdagangan. 
  • Waktu yang digunakan untuk menanami tanaman wajib tersebut tidak melebihi waktu yang diperlukan untuk menanam padi. 
  • Tanah yang disediakan untuk melakukan penanaman tanaman wajib bebas dari pajak. 
  • Hasil panen dari penanaman diserahkan kepada pemerintah Belanda. Apabila hasilnya lebih besar daripada jumlah pajak yang harus dibayar, maka akan dikembalikan kepada pemiliknya.
  • Kerugian akibat panen yang gagal akan ditanggung oleh pemerintah. 
  • Bagi mereka yang tidak memiliki tanah wajib bekerja selama 66 hari dalam satu tahun. 
  • Pengolahan tanah untuk tanaman wajib akan diawasi langsung oleh para penguasa pribumi. 
Namun pada prakteknya, pelaksanaan tanam paksa banyak mengalami pelanggaran. 

b. Pelaksanaan Politik Kolonial Liberal 

Karena mendapatkan reaksi keras dari warga negaranya, maka pemerintah Belanda segera mengambil keputusan menghapus sistem tanam paksa secara bertahap. Penghapusan sistem tanam paksa dimulai dari penanaman lada (1860), kemudian penanaman nila dan teh (1865), dan secara keseluruhan jenis tanaman wajib (1870). Kaum liberal di Belanda juga ingin mengelola tanah jajahan di Indonesia, sehingga pemerintah Belanda kemudian mengeluarkan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) dan Undang-Undang Gula (Saicker Wet) pada tahun 1870. Dikeluarkannya 2 Undang-Undang tersebut menyebabkan banyak pemodal dari Eropa, khususnya dari Belanda yang datang dan membuka usaha di Indonesia. Masa ini juga disebut masa Politik Pintu Terbuka. 

c. Pelaksanaan Politik Etis 

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan bumiputera. Politik etis dikemukakan oleh Van de Venter yang meliputi tiga hal, yaitu edukasi (pendidikan), irigasi, dan transmigrasi. Program balas budi yang dikemukakan Van de Venter ini juga disebut dengan Trias Van de Venter. Meski bertujuan baik, namun pada kenyataannya pelaksanaan politik etis di Indonesia sebenarnya hanya untuk memenuhi kepentingan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kebijakan kolonial tersebut berdampak pada bidang ekonomi, pemerintahan, dan bidang sosial budaya.
 
Selengkapnya
7 Cara Untuk Melindungi Akun Gmail Anda dari Tindakan Peretasan

7 Cara Untuk Melindungi Akun Gmail Anda dari Tindakan Peretasan

Bagi penggiat dunia maya, memiliki akun email sudah menjadi keharusan untuk dapat mengakses segala keperluan secara online. Bisa dikatakan, email merupakan alamat resmi kita di dunia maya untuk dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang tersedia di sana. Dengan menggunakan email, kita dapat dengan mudah terhubung untuk melakukan berbagai macam kegiatan online seperti berkirim surat elektronik, mengakses situs jejaring sosial, membuka website, mengelola bisnis online dan lain sebagainya. 

akun gmail

Namun seiring perkembangan teknologi, berbagai macam tindak kejahatan di dunia maya juga semakin canggih, sehingga akun email kita pun juga rawan untuk diretas, data dicuri, dan kemudian disalahgunakan. Oleh karenanya untuk mengantisipasi hal itu, perlu kiranya bagi kita untuk melindungi akun email kita agar tetap aman dari tindakan jahat para peretas. Bagi anda pengguna layanan email dari google (gmail), beberapa cara yang perlu dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Ganti Password Secara Berkala

Mengganti password secara berkala merupakan salah satu langkah antisipasi termudah untuk mengamankan akun gmail anda dari peretasan. Langkah ini juga merupakan tindakan antisipasi untuk mengamankan informasi penting anda apabila password telah diketahui oleh orang lain baik secara sengaja maupun tidak sengaja. 

Untuk lebih aman, gunakan password yang terdiri dari susunan kata rumit dengan kombinasi huruf, angka, simbol dan tanda baca. Semakin rumit kombinasi kata sandi dibuat, maka semakin kuat keamanan password akun anda. Namun perlu diingat, jangan sampai anda lupa password tersebut agar saat log in bisa masuk kembali tanpa mendapat masalah.

2. Aktifkan Verifikasi 2 Langkah

Selain menggunakan antisipasi mandiri, anda juga dapat menggunakan fasilitas yang telah disediakan oleh google dengan mengaktifkan Verifikasi 2 Langkah. Fitur ini menawarkan metode perlindungan ganda dengan cara memasukan kode yang dikirim lewat ponsel yang didaftarkan, sehingga akun anda akan sangat sulit untuk diretas oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. 

verifikasi 2 langkah

Memang cara ini sedikit lebih ribet untuk dilakukan, namun terbukti cukup ampuh untuk mengamankan akun gmail agar tidak mudah dibobol oleh para peretas. Untuk mengaktifkan fitur verifikasi 2 langkah ini, anda dapat masuk menggunakan link berikut ini untuk mulai dan mengaktifkannya sesuai petunjuk tahapan-tahapannya. 

3. Hindari Penggunaan Password Sama di Situs Lain

Pada umumnya, kita terbiasa membuat kata sandi sama pada setiap situs yang kita miliki seperti situs sosial media, game, dan lainnya agar lebih mudah saat diakses. Tindakan ini sebenarnya sangat tidak disarankan karena sangat rawan terkena penyusupan sehingga akun gmail anda pun akan dapat diketahui lewat kata sandi yang sama seperti halnya pada situs-situs tersebut.

Bisa dibayangkan jika seseorang telah mengetahui kata sandi anda pada salah satu akun website tersebut, maka bukan tidak mungkin ia dapat dengan mudahnya mengakses akun website anda lainnya, termasuk tentunya akun gmail anda jika passwordnya sama. Oleh karenanya demi keamanan akun gmail, sebaiknya gunakan password berbeda pada setiap akun website yang anda kelola. 

4. Lakukan pemeriksaan Keamanan Akun

Saat menggunakan internet, sempatkan waktu anda untuk melakukan pemeriksaan akun anda secara rutin lewat fitur pemeriksaan akun yang telah disediakan oleh google. Pemeriksaan akun ini cukup penting karena dengan memanfaatkan fitur ini, kita pun dapat lebih cepat tanggap untuk mengamankan akun gmail kita saat muncul masalah di akun kita. 

cek keamanan akun

Untuk melakukan pemeriksaan akun, silahkan masuk ke My Account, dan kemudian pilih pada bagian pemeriksaan keamanan (security checkup). Selanjutnya klik tombol mulai (get started) dan ikuti setiap petunjuk penjelasan sesuai tahapan-tahapannya. Pastikan tidak ada hal yang mencurigakan, maka akun anda pun akan tetap aman dari tindakan peretasan. 

5. Lindungi Komputer/ Ponsel dari Virus

Sudah banyak virus atau malware diciptakan dan berkeliaran membahayakan komputer hingga dapat mengambil data pribadi penting lewat berbagai cara seperti menyusupi sebuah program dan lainnya. Untuk mengantisipasi akan hal ini, pastikan untuk selalu mengecek kesehatan komputer anda dengan menggunakan antivirus terpercaya agar komputer dan akun anda terlindungi dari tindakan peretasan.

Hal ini juga berlaku bagi anda yang seringkali mengakses internet lewat ponsel atau gadget kesayangan. Selain menggunakan antivirus, hindari juga menggunakan aplikasi bajakan karena sangat rentan dimasuki virus jahat yang dapat mencuri data si pengguna. Dengan menghindari menginstall software atau aplikasi bajakan, maka keamanan data pribadi pada akun anda pun akan lebih terjamin.

6. Selalu Update Sistem Operasi

Untuk menjalankan program aplikasi pada komputer, setiap komputer pastinya dilengkapi Sistem Operasi (OS) yang diprogram sedemikian rupa untuk memungkinkan menerima perubahan/pengembangan baru yang efektif dan efisien, dan dapat melakukan pengujian sistem tanpa mengganggu layanan yang telah ada. Secara berkala, biasanya kita akan disuruh untuk memperbarui sistem manakala ada update terbaru untuk perangkat komputer kita.

Setiap terjadi pembaruan sistem, biasanya pihak pengembang juga menyisipkan pembaruan untuk sistem keamanan di dalamnya, sehingga pembaruan ini juga penting untuk anda lakukan untuk dapat lebih memproteksi akun-akun penting milik anda. Selain pada perangkat OS komputer, pembaruan sistem ini juga berlaku pada perangkat lunak elektronik lainnya seperti pembaruan sistem pada ponsel pintar berbasis android dan lainnya. 

7. Pastikan Log Out Setelah Memakai Komputer Umum

Bagi anda yang sering menggunakan fasilitas komputer kantor ataupun komputer warnet untuk mengakses situs lewat akun email, pastikan untuk selalu logout dari akun anda setelah selesai menggunakannya. Hal ini penting dilakukan karena fasilitas tersebut bukan anda saja yang menggunakan sehingga jika tidak logout, meskipun karena lupa, orang lain bisa mengetahui semua aktivitas dan data pribadi anda yang masih terbuka untuk diakses orang lain. 

Ini tentunya sangat berbahaya bagi akun anda jika data penting pribadi sampai dicuri dan disalahgunakan oleh orang yang mengakses komputer tersebut setelah anda. Jadi pastikan dan jangan sampai lupa untuk selalu logout dari akun anda setelah menggunakan fasilitas komputer yang digunakan secara umum untuk mencegah terjadinya hal-hal tidak diinginkan. Oya cara ini juga berlaku misalnya ketika anda hendak meminjamkan laptop/komputer milik anda kepada teman agar akun lebih aman. 

Itulah beberapa langkah penting untuk Untuk Melindungi Akun Gmail Anda dari Tindakan Peretasan. Dengan menerapkan cara-cara di atas, setidaknya akun gmail anda akan lebih terjamin keamanannya. Semoga bermanfaat. 

Selengkapnya
Kumpulan Paribasan (Peribahasa) Jawa dan Maknanya (O - Y)

Kumpulan Paribasan (Peribahasa) Jawa dan Maknanya (O - Y)

Dalam berbagai kebudayaan, peribahasa memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Peribahasa biasa digunakan untuk menyampaikan pesan, nasehat, sindiran, dan teguran kepada orang lain lewat bahasa yang lumrah digunakan oleh masyarakat tersebut. Peribahasa juga biasa digunakan untuk memberikan teguran atau mengingatkan orang lain akan kesalahannya dengan susunan kata atau kalimat yang tidak menyinggung atau melukai perasaannya. 

orang jawa

Artikel berikut ini merupakan bagian terakhir dari trilogi kumpulan paribasan Jawa dan Maknanya. Untuk anda yang belum membaca 2 bagian sebelumnya, silahkan bisa anda baca lewat link berikut ini:




O

Obah mamah : asal mau bekerja, rezeki pasti bakal datang. 

Obah ngarep kobet mburi : lebih baik bersusah payah dulu, karena nantinya akan hidup enak.

Opor bebek mentas awake dhewek : lolos dari kesulitan yang dibuatnya sendiri. 

Ora ana banyu mili mendhuwur : watak anak pasti biasanya meniru watak orang tuanya. 

Ora ana kukus tanpa geni : kalau ada berita pasti ada kejadian (tidak ada akibat tanpa sebab). 

Ora ana tekan wedi ing jeglogan : tidak ada orang yang senang mengumbar nafsunya takut pada bahaya. 

Ora angon kosok : tidak tahu tempat (tidak selaras).

Ora ganja ora unus : buruk rupanya, juga buruk hatinya. 

Ora kena diampu-ampu : orang yang tidak bisa dipaksa siapa pun. 

Ora mambu enthong irus : bukan saudara, bukan kerabat (tidak memiliki hubungan sama sekali).

Ora tedheng aling-aling : orang jujur tidak takut pada orang lain. 

Ora tembung ora lawung : mengambil tanpa minta izin dulu. 

Ora uwur ora sembur : tidak mau ikut rembuk atau memberi bantuan sedikitpun. 

Ora weruh ing lebuh : tidak tahu tata krama atau sopan santun. 

Ora weruh marang kenthang kimpule : tidak tahu awal mula kejadiannya. 

Othak athik didudut angel : katanya seolah mudah, setelah diseriusi ternyata sulit. 

P

Padu jiwa dikanthongi : pintar omongan. 

Palang mangan tandur : diberi kepercayaan tetapi malah disalahgunakan. 

Pandengan karo srengenge : bermusuhan dengan orang berkuasa. 

Pecruk tunggu bara : diberi mandat yang menjadi kesukaannya. 

Peking abuntut merak : perkara sepele menjadi besar. 

Pitik trondhol diumbar ing padaringan : orang jahat diberi kepercayaan menjaga barang berharga. 

Punjul ing apapak : orang yang memiliki kemampuan lebih dari rata-rata. 

Pupur sadurunge benjut : berhati-hati sebelum mendapat celaka. 

Pupur sawise benjut : berhati-hati setelah terlanjur terjadi. 

R

Raga tanpa mule : orang yang diuji oleh orang lain. 

Rampek-rampek kethek : mendekat hanya untuk membuat kerugian (onar). 

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung : semua yang menghalang-halangi disingkirkan. 

Rebut balung tanpa isi (rebut kemiri kobong) : Perselisihan akibat perkara sepele.

Renggang gula, kumepyur pulut : berteman dekat. 

Rindhik asu digitik : diberi tugas pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. 

Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah : kerukunan menjadikan hidup sentosa, sedangkan pertikaian menjadikan kerusakan. 

Rumangsa bisa nanging ora bisa rumangsa : merasa pintar tanpa berkaca pada diri sendiri. 

S

Sabegja-begjane kang lali, luwih begja wong sing tansah eling lan waspada : seberuntungnya orang lupa lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada (berhati-hati). 

Sadawa-dawane lurung, isih dawa gulung : kenyataan yang ditutupi, pada suatu saat bakal terkuak dan tersebar. 

Sadulur sinawa wedi : persaudaraan atau pertemanan dekat. 

Sadumuk bathuk sanyari bumi : perselisihan sampai nyawa taruhannya (dipertahankan sampai mati). 

Sanadyan padhang mripate, nanging peteng atine : kelihatan senang padahal dirundung kesedihan. 

Sandhing kebo gupak : berdekatan dengan orang jahat bisa ketularan jahat. 

Sandhing kirik gudhiken : bergaul dengan orang jahat bisa ketularan menjadi jahat. 

Sapa nandur ngundhuh : siapa suka menanam hal baik maka akan mendapatkan hasil baik. 

Sapa sing salah bakal seleh : siapa yang salah bakal ketahuan. 

Sepi ing pamrih, rame ing gawe : melakukan pekerjaan tanpa pamrih.
 
Satru munggwing cengklakan : musuh dalam ketiak (musuh yang masih bersaudara).

Sedhakep ngawe-awe : sudah berhenti berbuat jahat, tapi masih ingin mengulanginya lagi. 

Sembur-sembur adas, siram-siram bayem : bisa terlaksana berkat doa orang banyak. 

Sima bangga tanpa sarana : mengamuk tanpa sebab yang jelas. 

Singidan nemu macan : bersembunyi tapi malah ketahuan atasannya. 

Sumur lumaku tinimba : menawarkan ilmu supaya dicari dan dipelajari (ibarat guru mencari murid). 

T

Tan milik tan nampik : tidak kepingin dan tidak menampik. 

Tebu tuwuh socane : hal baik menjadi rusak karena ada yang mengacau. 

Tebu sauyun : rukun sekali, sudah cocok pendapat dan kehendaknya. 

Tega larane ora tega patine : persaudaraan jika mendapat sengsara tidak tega untuk memaksa. 

Tengu ngadu gajah : orang kecil mengadu orang berkuasa. 

Tekek mati ing ulane : mendapat celaka akibat perkataannya sendiri. 

Tembang rawat-rawat, ujare bakul sinambewara : kabar yang belum pasti benar salahnya. 

Thathit ngima uthit : penguasa yang suka pamer kekuasaannya. 

Tigan kapit ing sela : orang yang tidak berdaya malah digencet orang berkuasa.

Timun jinara : perkara yang sangat mudah. 

Timun wungkuk jaga imbuh : hanya dibuat dijaga-jaga kalau kurang. 

Tinggal glanggang acolong playu : lari dari peperangan. 

Tresnane anak sadepa, tresnane wong tuwa saklapa : cinta orang tua kepada anak tidak ada putusnya, tapi anak kadang lupa kepada orang tuanya.

Tumbak cucukan : orang yang suka mengadu domba. 

Tulung (nulung) menthung : kelihatannya menolong tapi sesungguhnya membuat celaka. Atau versi lain 'ditulung menthung' : sudah ditolong malah dibalas membuat celaka. 

Tumbu oleh tutup : pertemanan yang cocok sekali. 

Tuna sathak bathi sanak : rugi harta tapi untung dalam persaudaraan. 

Tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati : keturunan orang besar (berkuasa) menjadi orang kecil (bawah), sebaliknya keturunan orang besar menjadi orang kecil. 

Tunggal banyu : tunggal (satu) ilmu tunggal (satu) guru/seperguruan. 

Tut Wuri Handayani : memberi kelonggaran, tapi juga memberi dorongan dan arahan baik. 

U

Ula marani gebug : sengaja mendatangi bahaya. 

Ulat madhep ati karep : sudah mantap niatnya. 

Undhaking pawarta, sudaning kiriman : suatu kabar berita ternyata berbeda dengan kenyataannya. 

Ungak-ungak pager arang : kelakuan yang memalukan.. 

Urip ing alam donya kaya wong mampir ngombe : hidup di dunia hanya sebentar. 

Uyah kecemplung segara : orang melarat memberi sumbangan kepada orang kaya. 

 
W

Wani ngalah dhuwur wekasane : berani mengalah pada akhirnya akan mendapat kuasa. 

Wedi wewayangane dhewe : merasa takut karena pernah berbuat tidak baik. 

Welas tanpa alis : merasa kasihan pada orang yang menjadikan sengsaranya. 

Wis kebak sundukane : banyak sekali kesalahannya.

Wiwit kuncung nganti gelung : dari kecil hingga tua. 

Wong pinter keblinger : meski pintar tapi kalah karena tidak hati-hati. 

Y

Yitna yuwana lena kena : yang berhati-hati akan mendapat selamat, yang sembrono akan mendapat celaka. 

Yiyidan munggwing rampadan : orang jahat berubah menjadi orang alim/baik. 

Yoga anyangga yogi : murid menirukan ajaran dari gurunya. 

Yuwana mati lena : orang baik mendapat celaka karena kurang hati-hati. 

Yuyu rumpung mbarong ronge : rumahnya besar tapi sebetulnya miskin. 

Itulah kumpulan peribahasa atau paribasan jawa yang kami urutkan kalimatnya dari huruf abjad A hingga Y. Tentunya ada banyak pengajaran yang dapat diambil dari peribahasa-peribahasa di atas. Semoga bermanfaat. 

Selengkapnya
Kumpulan Peribahasa Jawa dan Maknanya (J - N)

Kumpulan Peribahasa Jawa dan Maknanya (J - N)

orang jawa

Merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya (baca: Kumpulan Paribasan Jawa dan Maknanya (A - I)), pada artikel kali ini akan kami lanjutkan uraian mengenai kumpulan peribahasa Jawa yang sarat akan aturan-aturan berperilaku, prinsip, atau nasihat tentang kehidupan ala orang jawa. Harapannya, semoga kita dapat mengambil pesan-pesan bijak dan nilai-nilai positif di dalamnya sebagai pelajaran dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Semoga bermanfaat. 


J

Jagakake (njagagake) endhoge si blorok : mengandalkan hal-hal yang belum pasti atau belum jelas kapan datangnya. 

Jajah (njajah) desa milang kori : menjelajah/ bepergian ke mana-mana (berbagai daerah). 

Jalma angkara mati murka : mendapatkan celaka lantaran akibat angkara murkanya sendiri. 

Jalma limpat seprapat tamat : cerdas dan terampil akan dapat menyelesaikan masalah. 

Jalukan ora wewehan : senang meminta tapi tidak mau memberi. 

Jangkrik mambu kili : gampang marah dan kurang perhitungan. 

Janma tan kena kinaya ngapa : manusia tidak bisa dikira atau diterka. 

Jaman iku owah gingsir : zaman itu akan berubah, silih berganti.

Jamur tuwuh ing sela : kejadian yang entah kapan kesampaiannya. 

Jarit luwas ing sampiran : mempunyai kepandaian tapi tidak digunakan. 

Jati ketlusuban luyung : kumpulan orang baik yang kemasukan orang jahat. 

Jer basuki mawa beya : terwujudnya cita-cita atau harapan itu membutuhkan dana (biaya). 

Jujul (njujul) wuwul : perkara yang menambah masalah menjadi semakin sulit. 

Junjung (njunjung) ngentebake : pujian yang bermaksud untuk menghinakan/ menjatuhkan. 

Jurang grawah ora mili : orang yang suka mengiyakan pekerjaan tapi tidak pernah dikerjakan. 

K

Kacang ora ninggal lanjaran : anak biasanya akan meniru kebiasaan orang tuanya. 

Kadang konang : mengaku saudara hanya pada yang kaya saja. 

Kadang tunggal welat : saudara seayah seibu. 

Kaedusan banyu sesiwur : mendapat bagian sedikit karena banyak dibagikan pada orang lain (hanya mendapat sisa). 

Kakehan gludhug kurang udan : kebanyakan omong tapi tidak ada buktinya. 

Kalah cacak menang cacak : tergantung keberuntungan, bisa kalah juga bisa menang. 

Kandhang langit, kemul mega : orang yang tidak memiliki tempat tinggal. 

Karna binandhung : hanya mendengar dari orang lain, tidak mendengar sendiri sumber beritanya. 

Katon cepaka sewakul : disukai orang banyak. 

Katoya rasa upaya : mudah tergoda rayuan manis. 

Kawuk ora weruh marang slirane : mencari keburukan orang lain, tapi dirinya sendiri banyak cacat. 

Kaya banyu karo lenga : orang yang tidak bisa rukun (selalu bermusuhan). 

Kaya mimi lan mintuna : rukun, selalu menepati janji, sulit dipisahkan.

Kebanjiran segara madu : mendapat keberuntungan sangat besar. 

Kebat kliwat gancang pincang : bekerja dengan tergesa-gesa hasilnya mesti tidak baik. 

Kebo bule mati setra : orang pandai tapi tidak ada yang mendayagunakan. 

Kebo ilang tombok kandhang : sudah kehilangan malah harus keluar biaya lagi. 

Kebo kabotan sungu : orang yang hidupnya susah karena berat dalam menghidupi anak-anaknya (banyak beban hidup).

Kebo lumaku dipasangi : orang yang meminta pekerjaan kepada orang lain. 

Kebo lumumpat ing palang : mengadili suatu perkara tanpa memakai aturan. 

Kebo mulih menyang kandhange : orang atau barang yang hilang kembali pulang ke asalnya. 

Kebo mutung ing pasangan : orang yang meninggalkan pekerjaannya karena merasa keberatan. 

Kebo nusu gudel : orang tua meminta perlindungan kepada orang muda. 

Kecik-kecik yen udhu : dalam musyawarah sudah lumrahnya kalau punya usul. 

Kecocog ing carang landhep : mendapat cobaan yang lebih besar. 

Kegedhen empyak kurang cagak : keinginan terlalu besar, tapi kurang kecukupan. 

Kejugrugan gunung menyan/kembang : mendapat keberuntungan sangat besar.

Kekudhung walulang macan : Berbohong dengan cara meminta tolong pada orang yang dipercaya. 

Kelacak kepathak : sudah tidak bisa mengelak lagi karena sudah terbukti. 

Kemladheyan ngajak sempal : seperti benalu, ikut numpang tempat tapi justru membuat rusak. 

Kenaa iwake aja buthek banyune : mewujudkan keinginan tanpa harus membuat keramaian. 

Kencana katon wingka : walaupun tampan atau cantik tapi tidak disukai. 

Kendel ngringkel, dhadag ora godak : mengaku berani dan pandai, ternyata sebenarnya penakut dan bodoh. 

Kenes ora ethes : banyak omong tapi bodoh.

Keplok ora tombok : ikut senang-senang, tapi tidak mau ikut mengeluarkan dana. 

Kere munggah bale : orang kecil yang dijadikan orang besar (naik derajatnya). 

Kerot ora duwe untu : punya keinginan tapi tidak punya biaya. 

Kerubuhan gunung : mendapat kesusahan yang sangat besar. 

Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang : menemui bahaya yang tidak disangka-sangka. 

Ketapang ngrangsang gunung : terlalu besar harapan, tapi mustahil bisa terlaksana. 

Kethek saranggon : kumpulan orang-orang bejat (berperilaku buruk). 

Ketula-tula ketali : selalu mendapat sengsara. 

Klenthing wadah masin : suatu kebiasaan buruk, meski sudah berhenti tapi adakalanya bisa berbuat buruk lagi. 

Kleyang kabur kanginan, ora sanak ora kadhang : orang yang hidup terlunta-lunta. 

Kongsi jambul wanen : hingga usia sangat tua. 

Kraket ing galar : orang yang miskin sekali. 

Kriwikan dadi grojogan : perkara kecil menjadi besar. 

Kuncung nganti gelung : dari kecil hingga dewasa. 

Kulak warta adol rungu : mencari kabar penting. 

Kementhus ora pecus : suka banyak omong tapi tidak ada apa-apanya. 

Kurung munggah lumbung : pembantu yang diambil istri oleh majikan pemilik rumah. 

Kuthuk nggendhong kemiri : mendapat penghargaan lewat jalan yang beresiko (bahaya). 

Kutuk marani sunduk, ula marani gebuk : mendekat pada bahaya. 

Kuwat drajat : bisa menjadi pemimpin. 

L

Ladak kacengklak : orang angkuh mendapat musibah akibat kelakuannya sendiri. 

Lahang karoban manis : tampan/cantik parasnya, luhur budinya pula. 

Lambe satumang kari samerang : berkali-kali menasehati tapi tidak digugu. 

Lanang kemangi : pria penakut. 

Ledhang-ledhang nemu pedhang : mendapat keberuntungan tanpa disengaja. 

Legan golek momongan : sudah hidup enak tapi malah cari pekerjaan yang berat. 

Legine ngemut gula : orang yang diberi amanah menjaga barang (harta), tapi malah ingin memiliki barang tersebut. 

Lobok atine : sabar, tidak mudah marah. 

Lumpuh ngideri jagad : punya keinginan yang mustahil terwujud. 

Lunyu ilate : omongannya tidak bisa dipercaya.

M

Madu balung tanpa isi : memperkarakan barang yang tidak berguna. 

Maju tatu mundur ajur : perkara yang membuat jadi serba salah. 

Mbalung usus : keinginan yang kadang meredup dan kadang meninggi (muncul). 

Merangi tatal : mengusik hasil musyawarah yang sudah disepakati. 

Mikul dhuwur mendhem jero : menjunjung tinggi nama baik/derajat orang tua.

Milih-milih tebu oleh boleng : akibat banyak pilihan malah akhirnya dapat yang jelek. 

N

Nabok nyilih tangan : berbuat jelek dengan menyuruh/ menggunakan orang lain. 

Nambung laku : pura-pura tidak tahu. 

Nandur kabecikan, andhedher kautaman : berbuat baik kepada orang lain, pasti suatu saat akan mendapat balasannya. 

Narima ing pandum : menerima (ridha) akan takdir pemberian Tuhan. 

Ngadu wuleting kulit, atosing balung : adu kekuatan kanuragan dan kebatinan. 

Ngagar metu kawul : menghasut orang supaya terjadi perselisihan. 

Ngalasake negara : tidak patuh pada perintah (aturan) negara. 

Ngalem legining gula : memuji kelebihan, kepandaian, atau kekayaan seseorang. 

Ngantuk nemu gethuk : tidak bekerja tapi mendapat keberuntungan. 

Ngebun-ebun enjang anjejawah sonten : melamar untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. 

Ngelekake wong picak : memberi pengertian pada orang yang belum berpengalaman. 

Ngemping lara nggenjah pati : sengaja mencari masalah. 

Ngenteni timbale watu item (ngenteni kereme prahu gabus) : menanti barang yang tidak bakal kesampaian. 

Ngetutake kidang lumayu : memberi tahu pengertian yang sulit dipahami. 

Nggedhekake puluk : orang yang hanya menuruti nafsu makannya. 

Nggilut kawruh : mencari ilmu dengan mengerahkan segala kekuatan. 

Ngingu satru ngelelemu mungsuh : punya musuh di dalam keluarga (seperti musuh dalam selimut). 

Nglungguhi klasa gumelar : tinggal dapat enaknya tanpa ikut bersusah payah. 

Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake : menang tanpa prajurit, unggul tanpa mengalahkan.

Ngontrakake gunung : orang rendahan bisa mengalahkan orang berkuasa hingga membuat kaget banyak orang. 

Ngrusak pager ayu : merusak atau mengganggu istri orang lain. 

Nguthik-uthik macan dhedhe : membuat orang marah/ memancing kemarahan orang lain. 

Nguyahi segara : memberi pada orang kaya/ tidak ada manfaatnya. 

Nir daya nir wikara : kehilangan kesadaran batin, kewaspadaan dan kekuatan. 

Nrajang grumbul ana macane : seorang wanita pasrah jiwa raganya pada orang yang sudah beristri. 

Nucuk ngiberake : sudah diberi suguhan, pulangnya membawa oleh-oleh. 

Numbak tambuh, nambong laku : orang yang tahu suatu kejadian, tapi pura-pura tidak tahu. 

Nututi layangan pedhot : mencari barang yang sudah hilang. 

Nyambung watang putung : mendamaikan orang yang berselisih. 

Nyangoni kawula minggat : memperbaiki barang yang sudah terlanjur rusak.

Nyilih ambalekake utang nyaur : orang berbuat buruk pasti bakal mendapat ganjarannya, bakal mendapat balasan lain akibat dari perbuatannya. 

Nyolong pethek : meleset dari perkiraan. 

Nyunggi lumpang kentheng : naik derajatnya tapi tidak mau mengeluarkan.


Selengkapnya
Kumpulan Paribasan Jawa dan Maknanya (A - I)

Kumpulan Paribasan Jawa dan Maknanya (A - I)



Seperti halnya istilah peribahasa dalam bahasa Indonesia, paribasa Jawa bisa dipahami sebagai pepatah yang mengandung aturan-aturan berperilaku, prinsip, atau nasihat tentang kehidupan ala orang jawa. Paribasa jawa dibentuk dan diciptakan dengan satu ikatan bahasa yang padat, lugas dan jelas sehingga mudah dipahami maksudnya. Gaya penyampaiannya ada yang dilakukan secara lugas, menggunakan perbandingan, dan ada pula yang menggunakan perumpamaan.

orang jawa peribahasa

Sebagai salah satu kekayaan sastra budaya masyarakat jawa, banyak pesan-pesan bijak dan nilai-nilai positif di dalam paribasa jawa yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Meski susunan kalimatnya sedikit ringkas dan mudah dihafalkan, namun kandungan maknanya yang mendalam membuatnya tetap terjaga dengan baik, dituturkan secara turun temurun, dan masih kental dalam kehidupan masyarakat Jawa. 

Berikut ini kami sajikan kumpulan paribasa jawa beserta maksudnya yang kami nukil dan terjemahkan dari buku Kabeh Bisa Basa Jawa karya Dr. H. C. Sudi Yatmana dkk. Semoga ada manfaatnya. 


A

Adigang, adigung, adiguna : mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaiannya.

Ana catur mungkur : tidak mau mendengarkan atau menghindari pembicaraan yang tidak baik.

Ana daulate ora ana begjane : hampir saja mendapat keberuntungan tapi tidak jadi.

Ana dina ana upa : jika mau giat bekerja pasti bakal mendapat rezeki.

Ana gula ana semut : tempat yang banyak rezekinya pasti banyak orang mengerubunginya.

Anak polah bapak kepradah : orang tua ikut kena getahnya akibat tingkah polah anak.

Ancik-ancik pucuking eri : selalu tidak tenang (khawatir, was-was) jika telah berbuat salah.

Anggayuh-gayuh luput : semua yang hendak direngkuh tidak ada yang jadi kenyataan. 

Anggenthong umos : orang yang tidak bisa menyimpan rahasia.

Angon mangsa : cari waktu yang baik. 

Arep jamure emoh watange : mau enaknya, tidak mau bersusah payah. 

Asu rebutan balung : berebut suatu barang yang sepele (remeh). 

Asu belang kalung wang : orang rendahan (kalangan bawah) tetapi kaya. 

Asu gedhe menang kerahe : orang berpangkat tinggi mesti lebih besar kuasanya. 

Asu marani gepuk : sengaja mendatangi bahaya. 

Ati bengkong oleh oncong : punya niat tapi tidak punya jalannya. 

B

Baladewa ilang gapete : hilang keluhuran (kekuasaan) nya

Banyu pinerang ora bakal pedhot : Perselisihan antar-saudara tidak akan menghilangkan hubungan saudara itu sendiri.

Bathang lelaku : bepergian jauh sendirian melewati jalan yang berbahaya. 

Bathok bolu isi madu : orang kalangan bawah tetapi kaya akan ilmu (pandai). 

Bebek mungsuh mliwis : orang pandai lawannya adalah orang pandai juga. 

Becik ketitik ala ketara : perbuatan baik dan buruk seseorang bakal kelihatan pada akhirnya. 

Belo melu seton : hanya ikut-ikutan saja, tanpa tahu maksudnya. 

Beras wutah arang mulih marang takere : suatu barang yang sudah rusak jarang bisa pulih kembali seperti sedia kala. 

Bidhung (mbidhung) apirowang : pura-pura menolong, tapi sebetulnya justru membuat rusuh. 

Balilu tan pinter durung nglakoni : orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang suatu hal, meskipun sering menjalaninya, masih kalah pandai dengan orang yang memiliki pengetahuan, meski tidak pernah menjalaninya.

Blaba wuda : karena saking dermawannya sampai-sampai hidupnya sendiri kesulitan. 

Blubuk oleh leng : punya niat tidak punya jalannya. 

Buru (mburu) uceng kelangan deleg : memburu barang remeh malah kehilangan barang berharga. 

Busuk ketekuk, pinter kablinger : orang pintar dan orang bodoh sama-sama apes. 

Buwang (mbuwang) tilas : menutupi kesalahannya dengan pura-pura tidak tahu perbuatan buruk yang dilakukannya. 

C

Car cor kurang janganan : bicara asal ceplas ceplos tanpa dipikir terlebih dulu. 

Cathok gawel : suka ikut campur padahal tidak diajak rembugan. 

Cebol nggayuh lintang : punya harapan yang mustahil bisa terlaksana. 

Cecak nguntal empyak : memiliki ambisi yang tidak seimbang dengan kekuatannya. 

Cedhak celeng boloten : berteman dekat dengan orang jahat bisa ikut ketularan berbuat jahat. 

Cedhak karo kebo gupak : dekat orang berbuat jahat bisa ketularan jahat. 

Cincing-cincing meksa klebus : tujuannya hendak berhemat, tapi akhirnya malah habis banyak. 

Ciri wanci lelahe ginawa mati : kebiasaan buruk yang tidak bisa hilang. 

Criwis cawis : banyak omong tetapi juga mampu bekerja dengan benar. 

Cuplak andheng-andheng, ora prenah panggonanane : orang atau barang yang bisa menyebabkan berbuat jelek sebaiknya disingkirkan. 

D

Dadia suket suthik nyenggut : tidak mau bertegur sapa karena saking jengkelnya menerima perlakuan buruk (menyakitkan) dari orang lain.

Dadi cuplak andheng-andheng : orang menjadi beban negara sebab kelakuannya. 

Dalan gawat becik disingkiri : orang yang sulit diajak negosiasi lebih baik tinggalkan saja. 

Derman golek momongan : sudah punya pekerjaan tetap tapi masih cari sampingan. 

Desa mawa cara, Negara mawa tata : setiap tempat punya cara dan aturan masing-masing. 

Dhalang kerubuhan panggung : suatu hal buruk dikatakan baik. 

Dhandhang diunekake kuntul, kuntul dionekake dhandhang : buruk dikatakan baik, dan baik dikatakan buruk. 

Dhemit ora ndulit, setan ora doyan : selalu diberi keselamatan, tidak ada yang mengganggu. 

Dhoyong-dhoyong aja rubuh : orang yang sering menemui kesulitan dalam pekerjaannya tapi bisa tanggap cepat jika mendapat sarana yang memadai. 

Dicuthatake kaya cacing : diusir dengan paksa. 

Dijuju kaya manuk : orang yang dicukupi semua kebutuhannya. 

Diwenehi ati ngrogoh ampela : sudah diberi malah minta lebih banyak. 

Dolanan ula mandi : orang yang sengaja mencari perkara. 

Dom sumurup ing banyu : mencari tahu rahasia orang lain dengan pura-pura menjadi temannya. 

Dudu berase ditempurake : menanggapi suatu percakapan tapi tidak sesuai temanya. 

Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan : meskipun orang lain (tidak ada hubungan darah), kalau mendapat kesusahan tetap akan dibantu. 

Duk sandhing geni : pergaulan pria dan wanita yang tidak ada batasnya. 

Durjana mati raga : durjana atau penjahat yang nekat berani mati.

Durniti karetna hadi : orang yang punya ilmu tapi tidak mau mengamalkan. 

Durung acundhuk acandhak : belum tahu duduk permasalahan tapi ikut cawe-cawe. 

Durung bisa ngaku becus : belum bisa mengaku bisa atau bodoh mengaku pintar. 

Durung ilang pupuk lempuyange : dianggap anak kecil, tidak ada faedahnya. 

Durung pecus keselak besus : belum cukup mampu sudah kepingin yang tidak-tidak. 

E

Emban cindhe emban siladan : pilih kasih, tidak adil, satu dan lainnya tidak sama bagiannya. 

Embat-embat celarat : bekerja dengan sangat hati-hati. 

Emprit abuntut bedhug : perkara remeh menjadi besar. 

Endhas gundul dikepeti : hidup sudah enak masih mendapat keberuntungan. 

Endhas pethak ketiban empyak : mendapat kesulitan bergonta-ganti.

Enggon welut didoli udhet : orang pandai dipameri kepandaian yang tidak seberapa, atau orang sedikit tahu pamer kepandaian kepada orang yang lebih tahu. 

Entek golek kurang amek : memarahi orang sampai sebegitunya. 

Entek jarake : habis kekayaannya.

Entheng tangane : ringan tangan atau senang membantu. 

Esuk dhele sore tempe : pendirian mudah berubah (goyah), tidak konsisten. 

Esuk-esuk nemu gethuk : datangnya rizki yang tidak terduga.

G

Gagak nganggo laring merak : orang kalangan bawah perilakunya seperti orang berkuasa. 

Gajah alingan suket teki : lahir dan batin yang sangat berbeda pasti akan ketahuan. 

Gajah marani wantilan : orang yang sengaja mencari perkara (masalah). 

Gajah ngidak rapah : orang yang menerjang larangannya sendiri. 

Gajah tumbuk, kancil mati tengah : orang berkuasa bertengkar dengan sesama orang berkuasa, orang kecil yang mendapat sengsara. 

Gambret singgang merkatak, ora ana sing ngundhuh : wanita yang punya banyak teman. 

Garang-garing : bicara seakan-akan orang kaya, tapi sebetulnya hidup kesulitan. 

Gawe buwana balik : nasib orang itu tidak tetap (bisa berubah). 

Gawe luwangan, ngurugi luwangan : mencari hutangan hanya untuk membayar hutang lainnya. 

Gedhang apupus cindhe : keadaan yang tidak bakal kesampaian. 

Gedhe dhuwur ora pangur : orang yang tidak tahu sopan-santun (tatakrama). 

Gedhe endhase : orang berwatak sombong. 

Geguyon dadi tangisan : kejadian menyenangkan berubah menjadi kejadian menyedihkan. 

Giri lusi, janma tan kena ingina : jangan sok menghina orang lain. 

Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh : meskipun pelan-pelan, tapi terlaksana maksudnya. 

Glundung suling : seorang pria kok tidak membawa harta ketika memulai hubungan dengan seorang wanita. 

Golek banyu bening : mencari pitutur yang baik. 

Golek-golek ketanggor wong luru-luru : maksud hati ingin mencari hutangan malah dimintai hutang. 

Golek karo epek-epek : ingin berdagang (usaha) tapi tidak punya sarananya (modal). 

Gondhelan poncoting tapih : seorang pria yang dikuasai istrinya. 

Greget-greget suruh : ingin marah, tapi tidak sampai hati. 

Gupak pulute ora mangan nangkane : ikut bersusah payah, tapi tidak ikut merasakan enaknya. 

I

Idhep-idhep nandur pari jero : berbuat baik tapi mengharapkan balasannya.

Idu didilat maneh : menarik pembicaraan (janji) yang sudah terlontarkan. 

Ilang jarake, kari jahile : hilang kepribadian buruk, tinggal kepribadian yang baik. 

Ilo-ilo ujaring wong tuwo : menjalankan petuah dari orang tua akan sering mendapat keberuntungan karena orang tua lebih berpengalaman. 

Iwak kalebu ing wuwu : mudah dibohongi.


Selengkapnya